
Waspadai 5 Jenis Penyakit yang Biasa Terjadi di Musim Liburan!
14 Jul 2022

Author: Dhia Priyanka
26 Nov 2025
Topik: Article, > 6 Tahun, Parenthood
Tahukah MomDad, bahwa tahun 2024 merupakan puncak kasus demam berdarah dengue atau DBD di Indonesia [1]? Hingga minggu ke-17 tahun 2024, tercatat ada 88.593 kasus DBD dengan 621 kematian. Kondisi ini terus meningkat hingga mencapai 203.921 kasus dengan 1.210 kematian pada minggu ke-42 [2]. Sungguh miris bukan? Untuk mencegah hal serupa terjadi lagi, peran MomDad dalam melindungi keluarga sangatlah penting. Yuk, ketahui langkah-langkah pencegahan DBD yang tepat agar MomDad dan si Kecil terlindungi dari penyakit mematikan ini.
Kasus Kejadian Luar Biasa (KLB) DBD di 2024
DBD merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus dengue dan ditularkan melalui gigitan nyamuk dari genus Aedes, khususnya Aedes aegypti dan Aedes albopictus. DBD termasuk penyakit akut yang bisa menimbulkan gejala perdarahan dan dalam kasus berat dapat berkembang menjadi syok yang mengancam jiwa [3].
KLB dengue kerap terjadi seiring dengan meningkatnya intensitas curah hujan yang berdampak pada peningkatan aktivitas nyamuk pembawa, yaitu nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus. Peningkatan aktivitas nyamuk terjadi karena peningkatan suhu rata-rata lingkungan selama musim hujan. Meskipun pada saat turun hujan mungkin kita merasa kedinginan, tetapi sesungguhnya, suhu-suhu rata-rata lingkungan meningkat. Pada saat suhu lingkungan meningkat, siklus hidup nyamuk menjadi lebih pendek. Mereka akan lebih cepat berkembang biak dan beranak pinak sehingga jumlahnya cepat sekali meningkat.
Selain itu, curah hujan juga memengaruhi siklus hidup nyamuk dengan menciptakan habitat perkembangbiakan baru, seperti wadah-wadah tergenang yang dapat menjadi tempat bertelur dan berkembang larva [3]. Seperti kita ketahui bersama, nyamuk tidak memerlukan jumlah air yang banyak untuk berkembang biak. Orang dapat menemukan tempat perkembangbiakan nyamuk di antara pelepah daun pisang, pelepah daun jagung dan bahkan pada ketiak daun rumput.
Nah, aktivitas dan siklus hidup nyamuk yang lebih pendek serta didukung dengan tempat perkembangbiakan yang lebih banyak, membuat jumlah kedua nyamuk Aedes berkembang pesat pada musim hujan. Bila jumlah nyamuk bertambah, tentu risiko kita untuk digigit nyamuk juga bertambah. Bila nyamuk-nyamuk ini membawa virus dengue, maka risiko kita untuk terjangkit DBD juga tentu akan meningkat.
Lengkapnya, berikut data kasus dan kematian akibat DBD sepanjang tahun 2024 dari Kemenkes:
Meningkatnya kasus DBD tahun 2024 disebabkan karena adanya perubahan iklim, waktu musim hujan yang relatif panjang disertai dengan curah hujan yang juga tinggi. Salah satu upaya Kementerian Kesehatan untuk kembali menurunkan kasus DBD adalah dengan meningkatkan ketepatan dan kecepatan diagnosis dan distribusi alat, deteksi, dan tes cepat ke fasilitas kesehatan dasar. DBD memiliki konsekuensi yang parah apabila penanganannya terlambat dilakukan.
Kasus DBD di 2025
Menurut Kemenkes, selama Januari hingga 30 Oktober 2025, kasus DBD di Indonesia telah mencapai 131.939 kasus dan 544 kematian [4]. Tentunya, angka ini menjadi sorotan semua pihak dan menunjukkan betapa pentingnya usaha penanggulangan penyakit ini [5]. Menurut ahli, meningkatnya jumlah kasus DBD disebabkan karena dua faktor utama, yaitu sistem kekebalan tubuh yang belum sempurna dan tingginya kemungkinan paparan di lingkungan, baik di dalam maupun luar rumah [6].
Pencegahan DBD
Untuk melindungi keluarga dari bahaya DBD, ada sejumlah langkah yang bisa membuat nyamuk Aedes aegypti tidak betah di sekitar rumah, antara lain [7]:
1. 3M Plus
Pemberantasan sarang nyamuk 3M Plus merupakan cara yang dapat dilakukan bersama di lingkungan sekitar untuk mencegah DBD, yaitu:
Lakukan langkah-langkah tersebut disertai dengan:
2. Wolbachia
Inovasi pencegahan ini menggunakan metode mutakhir dengan cara memasukkan bakteri Wolbachia ke dalam nyamuk Aedes aegypti. Ketika nyamuk yang membawa Wolbachia menggigit manusia, mereka tidak dapat menularkan virus dengue.
Wolbachia sendiri adalah bakteri yang secara alami hidup di berbagai jenis serangga, namun tidak ditemukan pada nyamuk Aedes aegypti. Kehadiran bakteri ini mampu menghambat perkembangan virus dengue di dalam tubuh nyamuk.
Dengan demikian, jika nyamuk Aedes aegypti yang membawa Wolbachia mengisap darah yang mengandung virus dengue, virus tersebut akan menjadi tidak aktif dan tidak bisa berpindah ke manusia.
3. Vaksinasi
Memberikan vaksin demam berdarah pada keluarga merupakan langkah penting agar terhindar dari DBD. Virus dengue memiliki 4 serotipe yakni DEN-1, DEN-2, DEN-3 dan DEN-4. Pemberian vaksin ini mampu melindungi anak usia 4-16 tahun dari keseluruhan empat serotipe tersebut [8]. Selain itu, vaksin DBD dapat menurunkan risiko perawatan rumah sakit sebanyak 80% serta mengurangi risiko menderita dengue yang berat sebesar 93% bila diberikan pada anak di atas usia 9 tahun. Efek samping setelah vaksin pun secara umum tidak berat, sehingga vaksin ini terbukti memiliki profil keamanan yang baik [9].
Penyakit DBD tidak mengenal musim dan bisa datang kapan saja. Namun, selama musim hujan seperti saat ini, nyamuk dapat berkembang biak dan bertelur secara masif akibat adanya genangan air di mana saja, di wadah bekas, pot bunga, hingga di selokan. Oleh karena itu, penting bagi MomDad untuk melakukan upaya pencegahan agar keluarga aman dan terhindar dari virus dengue.
Referensi:
Artikel ini telah ditinjau oleh Prof. dr. Madarina Julia, M.P.H., Ph.D., Sp.A (K), Subsp.End.
C-ANPROM/ID/QDE/1055 | Nov 2025

14 Jul 2022

14 Okt 2022

10 Mar 2023

5 Mar 2024