Meta PixelMusim Hujan Tiba, Waspada Kejadian Luar Biasa DBD<!-- --> | Articles | <!-- -->PrimaKu - Pelopor Aplikasi Tumbuh Kembang Anak di Indonesia

Musim Hujan Tiba, Waspada Kejadian Luar Biasa DBD

Author: Dhia Priyanka

26 Nov 2025

Topik: Article, > 6 Tahun, Parenthood

Tahukah MomDad, bahwa tahun 2024 merupakan puncak kasus demam berdarah dengue atau DBD di Indonesia [1]? Hingga minggu ke-17 tahun 2024, tercatat ada 88.593 kasus DBD dengan 621 kematian. Kondisi ini terus meningkat hingga mencapai 203.921 kasus dengan 1.210 kematian pada minggu ke-42 [2]. Sungguh miris bukan? Untuk mencegah hal serupa terjadi lagi, peran MomDad dalam melindungi keluarga sangatlah penting. Yuk, ketahui langkah-langkah pencegahan DBD yang tepat agar MomDad dan si Kecil terlindungi dari penyakit mematikan ini.

Kasus Kejadian Luar Biasa (KLB) DBD di 2024

musim hujan dbd (1).jpg

DBD merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus dengue dan ditularkan melalui gigitan nyamuk dari genus Aedes, khususnya Aedes aegypti dan Aedes albopictus. DBD termasuk penyakit akut yang bisa menimbulkan gejala perdarahan dan dalam kasus berat dapat berkembang menjadi syok yang mengancam jiwa [3]. 

KLB dengue kerap terjadi seiring dengan meningkatnya intensitas curah hujan yang berdampak pada peningkatan aktivitas nyamuk pembawa, yaitu nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus. Peningkatan aktivitas nyamuk terjadi karena peningkatan suhu rata-rata lingkungan selama musim hujan. Meskipun pada saat turun hujan mungkin kita merasa kedinginan, tetapi sesungguhnya, suhu-suhu rata-rata lingkungan meningkat. Pada saat suhu lingkungan meningkat, siklus hidup nyamuk menjadi lebih pendek. Mereka akan lebih cepat berkembang biak dan beranak pinak sehingga jumlahnya cepat sekali meningkat. 

Selain itu, curah hujan juga memengaruhi siklus hidup nyamuk dengan menciptakan habitat perkembangbiakan baru, seperti wadah-wadah tergenang yang dapat menjadi tempat bertelur dan berkembang larva [3]. Seperti kita ketahui bersama, nyamuk tidak memerlukan jumlah air yang banyak untuk berkembang biak. Orang dapat menemukan tempat perkembangbiakan nyamuk di antara pelepah daun pisang, pelepah daun jagung dan bahkan pada ketiak daun rumput.

Nah, aktivitas dan siklus hidup nyamuk yang lebih pendek serta didukung dengan tempat perkembangbiakan yang lebih banyak, membuat jumlah kedua nyamuk Aedes berkembang pesat pada musim hujan. Bila jumlah nyamuk bertambah, tentu risiko kita untuk digigit nyamuk juga bertambah. Bila nyamuk-nyamuk ini membawa virus dengue, maka risiko kita untuk terjangkit DBD juga tentu akan meningkat. 

Lengkapnya, berikut data kasus dan kematian akibat DBD sepanjang tahun 2024 dari Kemenkes:

musim hujan DBD.png


Meningkatnya kasus DBD tahun 2024 disebabkan karena adanya perubahan iklim, waktu musim hujan yang relatif panjang disertai dengan curah hujan yang juga tinggi. Salah satu upaya Kementerian Kesehatan untuk kembali menurunkan kasus DBD adalah dengan meningkatkan ketepatan dan kecepatan diagnosis dan distribusi alat, deteksi, dan tes cepat ke fasilitas kesehatan dasar. DBD memiliki konsekuensi yang parah apabila penanganannya terlambat dilakukan.

Kasus DBD di 2025

musim hujan dbd (2).jpg

Menurut Kemenkes, selama Januari hingga 30 Oktober 2025, kasus DBD di Indonesia telah mencapai 131.939 kasus dan 544 kematian [4]. Tentunya, angka ini menjadi sorotan semua pihak dan menunjukkan betapa pentingnya usaha penanggulangan penyakit ini [5]. Menurut ahli, meningkatnya jumlah kasus DBD disebabkan karena dua faktor utama, yaitu sistem kekebalan tubuh yang belum sempurna dan tingginya kemungkinan paparan di lingkungan, baik di dalam maupun luar rumah [6].

Pencegahan DBD

Untuk melindungi keluarga dari bahaya DBD, ada sejumlah langkah yang bisa membuat nyamuk Aedes aegypti tidak betah di sekitar rumah, antara lain [7]:

1. 3M Plus

Pemberantasan sarang nyamuk 3M Plus merupakan cara yang dapat dilakukan bersama di lingkungan sekitar untuk mencegah DBD, yaitu:

  • Menguras tempat penampungan air sekurang-kurangnya seminggu sekali.
  • Menutup tempat-tempat penampungan atau sumber air dengan rapat.
  • Menguburkan, mengumpulkan, memanfaatkan, atau menyingkirkan barang-barang bekas yang berpotensi menjadi tempat berkembang biak nyamuk, seperti kaleng dan plastik bekas.

Lakukan langkah-langkah tersebut disertai dengan:

  • Menanam tanaman yang dapat mengusir nyamuk.
  • Membersihkan tempat-tempat yang dapat menampung air, seperti pelepah pisang atau tanaman lainnya.
  • Memelihara ikan pemakan jentik nyamuk.
  • Menggunakan obat anti nyamuk.
  • Memasang kawat kasa pada jendela dan ventilasi di rumah.
  • Bersama membersihkan lingkungan.
  • Meletakkan pakaian yang telah digunakan dalam wadah tertutup.
  • Mengganti air vas bunga, minuman burung, dan tempat lainnya paling tidak seminggu sekali.
  • Menutup lubang-lubang pada potongan bambu, pohon, dan lainnya.
  • Tidur menggunakan kelambu.

2. Wolbachia

Inovasi pencegahan ini menggunakan metode mutakhir dengan cara memasukkan bakteri Wolbachia ke dalam nyamuk Aedes aegypti. Ketika nyamuk yang membawa Wolbachia menggigit manusia, mereka tidak dapat menularkan virus dengue.

Wolbachia sendiri adalah bakteri yang secara alami hidup di berbagai jenis serangga, namun tidak ditemukan pada nyamuk Aedes aegypti. Kehadiran bakteri ini mampu menghambat perkembangan virus dengue di dalam tubuh nyamuk.

Dengan demikian, jika nyamuk Aedes aegypti yang membawa Wolbachia mengisap darah yang mengandung virus dengue, virus tersebut akan menjadi tidak aktif dan tidak bisa berpindah ke manusia.

3. Vaksinasi

musim hujan dbd (3).jpg

Memberikan vaksin demam berdarah pada keluarga merupakan langkah penting agar terhindar dari DBD. Virus dengue memiliki 4 serotipe yakni DEN-1, DEN-2, DEN-3 dan DEN-4.  Pemberian vaksin ini mampu melindungi anak usia 4-16 tahun dari keseluruhan empat serotipe tersebut [8]. Selain itu, vaksin DBD dapat menurunkan risiko perawatan rumah sakit sebanyak 80% serta mengurangi risiko menderita dengue yang berat sebesar  93% bila diberikan pada anak di atas usia 9 tahun. Efek samping setelah vaksin pun secara umum tidak berat, sehingga vaksin ini terbukti memiliki profil keamanan yang baik [9].

Penyakit DBD tidak mengenal musim dan bisa datang kapan saja. Namun, selama musim hujan seperti saat ini, nyamuk dapat berkembang biak dan bertelur secara masif akibat adanya genangan air di mana saja, di wadah bekas, pot bunga, hingga di selokan. Oleh karena itu, penting bagi MomDad untuk melakukan upaya pencegahan agar keluarga aman dan terhindar dari virus dengue.

Referensi:

  1. Kementerian Kesehatan. Waspada DBD di Musim Kemarau. Diakses pada November 2025. 
  2. Kementerian Kesehatan. Nyamuk Lebih Mematikan daripada Hewan Buas. Diakses pada November 2025.
  3.  Anggraini, Sely; Wahyono, Tri Yunis Miko; Fitria, Fitria; and Putri, Nadia (2025) "Analisis Potensial Kejadian Luar Biasa DBD Berdasarkan Kasus DBD 5 Tahun Terakhir 2019-2024 : Studi Ekologi di Kota Lubuklinggau Provinsi Sumatera Selatan," Jurnal Epidemiologi Kesehatan Indonesia: Vol. 9: Iss. 2, Article 7. Diakses pada November 2025.
  4. Media Indonesia. Angka DBD Sepanjang 2025 Mencapai 131.393 Kasus dengan 544 Kematian. Diakses pada November 2025. 
  5. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Upaya Bersama dalam Penanggulangan Dengue (DBD). Diakses pada November 2025. 
  6. Universitas Gadjah Mada. Anak Lebih Rentan Kena DBD, Guru Besar UGM Sebut Gejala yang Patut Diwaspadai. Diakses pada November 2025.
  7. Demam Berdarah Masih Mengintai. MEDIAKOM Kemenkes Edisi 165. April 2024. Diakses pada November 2025.
  8. Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan. Kajian Vaksinasi Demam Berdarah Dengue. Diakses pada November 2025.
  9. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Sekilas Tentang Vaksin Dengue. Diakses pada November 2025. 

Artikel ini telah ditinjau oleh Prof. dr. Madarina Julia, M.P.H., Ph.D., Sp.A (K), Subsp.End.

C-ANPROM/ID/QDE/1055 | Nov 2025