Meta Pixel

29 Januari 2026

Anak Mudah Lelah & Pucat? Waspada Kekurangan Zat Besi

Ditulis oleh

avatar

Tim PrimaKu

Topik: Anak Kelelahan, Zat Besi, defisiensi, Tumbuh Kembang

Artikel ini telah divalidasi oleh dr. Dini Mirasanti, Sp.A.

Zat besi merupakan salah satu mikronutrien penting yang berperan besar dalam tumbuh kembang anak, terutama untuk pembentukan sel darah merah dan perkembangan otak. Sayangnya, kekurangan zat besi masih menjadi masalah gizi yang sering terjadi pada bayi dan anak, bahkan kerap tidak disadari oleh orang tua. Gejalanya bisa samar dan dianggap sebagai hal “biasa”, seperti anak mudah lelah atau kurang fokus. Padahal, jika tidak ditangani sejak dini, kekurangan zat besi dapat berdampak jangka panjang pada kesehatan dan perkembangan anak.

Mengapa Zat Besi Penting untuk Anak?

Zat besi dibutuhkan untuk membentuk hemoglobin, yaitu protein dalam sel darah merah yang membawa oksigen ke seluruh tubuh. Pada anak, kecukupan zat besi sangat penting untuk:

  • Mendukung pertumbuhan fisik
  • Perkembangan kognitif dan kemampuan belajar
  • Daya tahan tubuh

Menurut World Health Organization, kekurangan zat besi merupakan penyebab paling umum anemia pada anak di seluruh dunia, terutama pada usia bayi dan balita.

Tanda Anak Kekurangan Zat Besi

Beberapa tanda yang sering muncul dan perlu diwaspadai orang tua antara lain:

1. Anak Tampak Pucat

Kulit, bibir, atau bagian dalam kelopak mata terlihat lebih pucat dari biasanya, akibat rendahnya kadar hemoglobin.

2. Mudah Lelah dan Kurang Aktif

Anak cepat lelah, tampak lesu, atau tidak seaktif biasanya karena tubuh kekurangan oksigen.

3. Nafsu Makan Menurun

Kekurangan zat besi dapat memengaruhi nafsu makan, sehingga anak tampak susah makan atau cepat kenyang.

4. Mudah Rewel dan Sulit Konsentrasi

Anak bisa menjadi lebih mudah marah, rewel, atau sulit fokus, termasuk saat bermain atau belajar.

5. Pertumbuhan Tidak Optimal

Pada kasus tertentu, kekurangan zat besi kronis dapat berdampak pada pertumbuhan dan perkembangan anak.

6. Lebih Mudah Sakit

Zat besi berperan dalam sistem imun. Anak yang kekurangan zat besi cenderung lebih sering mengalami infeksi.

Anak Mana yang Berisiko Kekurangan Zat Besi?

Beberapa kelompok anak yang lebih berisiko antara lain:

  • Bayi yang lahir prematur atau dengan berat badan lahir rendah
  • Bayi yang tidak mendapatkan asupan zat besi cukup setelah usia 6 bulan
  • Anak yang pola makannya rendah sumber zat besi (terutama zat besi heme dari hewani)
  • Anak dengan infeksi kronis atau gangguan penyerapan nutrisi

American Academy of Pediatrics merekomendasikan skrining anemia pada usia tertentu untuk mendeteksi kekurangan zat besi sejak dini.

Apa yang Bisa Dilakukan Orang Tua?

Untuk menghindari anak kekurangan zat besi, MomDad dapat melakukan beberapa cara, seperti:

  • Pastikan anak mendapatkan makanan sumber zat besi, seperti daging merah, hati, ayam, ikan, telur, dan sayuran hijau
  • Kombinasikan dengan sumber vitamin C agar penyerapan zat besi lebih optimal
  • Ikuti anjuran pemberian MPASI dan suplementasi zat besi bila direkomendasikan tenaga kesehatan
  • Lakukan pemeriksaan bila anak menunjukkan tanda-tanda yang mencurigakan

Kekurangan zat besi pada anak seringkali tidak disadari karena gejalanya tampak ringan di awal. Padahal, dampaknya dapat memengaruhi kesehatan, tumbuh kembang, dan kemampuan belajar anak dalam jangka panjang. Dengan mengenali tanda-tandanya sejak dini dan memastikan asupan zat besi yang cukup, orang tua dapat membantu anak tumbuh lebih sehat dan optimal. Jika ragu, jangan sungkan untuk berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.


Referensi:

  • World Health Organization. Iron deficiency anaemia: assessment, prevention and control. WHO; 2001.
  • Baker RD, Greer FR. Diagnosis and prevention of iron deficiency and iron-deficiency anemia in infants and young children. Pediatrics. 2010.
  • Lozoff B, et al. Iron deficiency in infancy and childhood. N Engl J Med. 2006.
  • Pasricha SR, et al. Iron deficiency. Lancet. 2021.
  • American Academy of Pediatrics. Iron Deficiency Anemia.