3 September 2026
Babytalk ke Anak Perlu Nggak, sih?
Ditulis oleh

Dhia Priyanka
Topik: Baby Talk, Parentese, stimulasi bicara, Kemampuan Bicara, Tumbuh Kembang Bayi
Artikel ini telah divalidasi oleh dr. Lucyana Alim Santoso, Sp.A.
Babytalk ke anak boleh dilakukan, asalkan MomDad memahami bentuk yang tepat. Bukti lintas laboratorium menunjukkan bayi cenderung lebih menyukai infant-directed speech dibandingkan percakapan orang dewasa, dengan efek sedang sekitar d = 0,35. Dalam artikel ini, MomDad akan memahami manfaatnya, perbedaannya dengan kata yang sengaja dicadelkan, contoh sesuai usia, dan tanda kapan perlu berkonsultasi.
Perlu Nggak Babytalk ke Anak?
Ya, babytalk bisa bermanfaat bila yang dimaksud adalah infant-directed speech atau parentese: cara berbicara dengan nada lebih tinggi dan bervariasi, tempo sedikit lebih lambat, ekspresi hangat, serta kalimat sederhana. Pola ini cenderung menarik perhatian bayi dan membantu interaksi dua arah.
Namun, babytalk bukan berarti semua kata harus dibuat salah atau dicadelkan. Mengucapkan “cucu” untuk “susu” atau “mamam” sebagai satu-satunya contoh kata dalam waktu lama dapat mengurangi kesempatan anak mendengar model pelafalan yang benar. MomDad boleh meniru ocehan bayi sesekali untuk merespons, lalu lanjutkan dengan kata yang tepat: “Mamam, ya. Adik mau makan.”
Apa Itu Babytalk, Infant-Directed Speech, dan Parentese?
Dalam percakapan sehari-hari, istilah babytalk sering mencampur dua hal berbeda. Pertama, infant-directed speech atau parentese, yaitu gaya bicara alami orang dewasa kepada bayi: lebih ekspresif, lebih lambat, dan memakai kalimat sederhana. Kedua, penggunaan kata yang sengaja disalahucapkan agar terdengar seperti bayi.
Penelitian menunjukkan bayi secara umum lebih tertarik pada infant-directed speech. Sebuah meta-analisis dan replikasi multisitus menemukan preferensi tersebut konsisten dengan efek sedang. Studi fNIRS pada toddler juga menemukan bahwa prosodi dinamis dalam infant-directed speech meningkatkan perhatian dan memfasilitasi pembelajaran kata. Meski demikian, satu studi multisitus terbaru tidak menemukan bahwa besarnya preferensi bayi terhadap gaya bicara ini secara langsung memprediksi ukuran kosakata di kemudian hari. Artinya, babytalk bukan “jalan pintas” atau jaminan anak cepat bicara; kualitas interaksi, respons orang tua, pengulangan, dan paparan bahasa tetap penting.
Babytalk yang Membantu vs Kurang Tepat
Cara Menggunakan Babytalk yang Mendukung Bahasa Anak
Babytalk yang efektif bukan soal membuat semua kata terdengar “bayi”. Kuncinya adalah membuat percakapan hangat, jelas, dan dua arah.
1. Ikuti fokus perhatian anak
Saat anak melihat kucing, katakan, “Itu kucing. Kucingnya berjalan.” Mengikuti objek yang sedang menarik perhatian anak membantu menghubungkan bunyi dengan makna.
2. Beri jeda dan tunggu respons
Setelah berbicara, berhentilah beberapa detik. Tatapan, senyum, gerakan tangan, ocehan, atau satu kata pun merupakan respons. Percakapan bergantian melatih dasar komunikasi.
3. Tiru, lalu perluas
Jika bayi berkata “ba-ba”, MomDad boleh menirukannya lalu menambahkan kata nyata: “Ba-ba. Iya, itu bola.” Jika toddler berkata “mobil”, balas dengan “Mobil merahnya jalan.”
4. Gunakan kata yang benar dalam kalimat sederhana
Ucapkan “makan”, bukan terus-menerus “mamam”; “susu”, bukan hanya “cucu”. Kata bunyi seperti “meong” atau “brum-brum” tetap boleh dipakai saat bermain, asalkan disandingkan dengan nama sebenarnya: “Kucing bilang meong.”
5. Baca, bernyanyi, dan ceritakan rutinitas
IDAI menganjurkan membaca dengan suara jelas, mengajak anak bercakap-cakap, merespons ocehan dengan kata sederhana, dan bernyanyi. Ceritakan kegiatan sehari-hari: “Sekarang kita pakai kaus kaki,” atau “Ayah sedang memotong pisang.”
6. Gunakan bahasa yang paling nyaman
Keluarga bilingual atau multilingual tidak perlu takut memperkenalkan lebih dari satu bahasa. ASHA menyarankan orang tua berbicara dalam bahasa yang paling nyaman digunakan. Interaksi yang kaya dan responsif lebih penting daripada memaksakan satu bahasa yang tidak natural bagi keluarga.
Contoh Babytalk yang Tepat Sesuai Usia
Bayi 0–6 bulan
Gunakan wajah ekspresif, suara hangat, dan kalimat singkat. Tanggapi cooing atau suara bayi seolah sedang mengobrol: “Ooo, Adik senang, ya?” Jangan khawatir jika bayi belum memahami kata; ia sedang belajar pola suara dan giliran bicara.
Bayi 7–12 bulan
Sebutkan nama benda, tirukan ocehan, bermain cilukba, dan gunakan gestur. Contoh: “Mana lampu? Itu lampu.” ASHA mencatat bahwa pada rentang ini bayi mulai mengenali nama beberapa orang dan benda, mencoba meniru suara, serta merespons kata atau frasa sederhana.
Toddler 1–2 tahun
Gunakan kalimat pendek dengan kata yang benar. Perluas ucapan anak satu atau dua tingkat: “mau susu” menjadi “Adik mau minum susu.” Beri pilihan sederhana, misalnya “Mau pisang atau pepaya?”
Anak di atas 2 tahun
Kurangi gaya bicara yang terlalu “bayi”. Gunakan bahasa sehari-hari yang jelas dan tambah kosakata baru secara bertahap. Ajak anak bercerita, beri pertanyaan terbuka sederhana, dan jangan buru-buru memotong atau membetulkan setiap kesalahan.
Hal yang Sebaiknya Dihindari
- Mengubah terlalu banyak kata menjadi cadel atau salah ucap.
- Mendominasi percakapan tanpa memberi anak kesempatan merespons.
- Menguji anak terus-menerus dengan pertanyaan seperti “Ini apa?” tanpa percakapan natural.
- Memaksa anak meniru saat lelah, lapar, atau tidak tertarik.
- Menggantikan interaksi langsung dengan video, televisi, atau gawai.
- Membandingkan kemampuan bicara anak dengan saudara atau teman sebayanya.
Perlu diingat, anak belajar dari contoh suara yang didengar. Sesekali mengikuti ocehan untuk membangun koneksi tidak masalah, tetapi tetap berikan model kata yang benar dan jelas.
Nah, agar perkembangan bicara si Kecil optimal, MomDad bisa ikuti kelas parenting Speech Delay bersama dr. Herbowo Agung F. Soetomenggolo, Sp.A(K), yang merupakan seorang Dokter Anak, Ahli Neurologi. Klik banner di bawah untuk join kelasnya!
Kapan MomDad Perlu Berkonsultasi?
Setiap anak berkembang dengan kecepatan berbeda. Namun, konsultasikan perkembangan anak bila MomDad melihat beberapa kemampuan komunikasi tidak muncul sesuai rentang usianya, anak tidak merespons suara atau namanya secara konsisten, kemampuan yang pernah dimiliki menghilang, atau ada kekhawatiran lain.
IDAI menyebut beberapa tanda yang perlu diperhatikan, antara lain tidak mengoceh hingga usia 12 bulan, belum memiliki satu kata bermakna pada usia 16 bulan, atau belum mampu membuat frasa bermakna setelah usia 24 bulan. Tanda ini bukan diagnosis, tetapi alasan untuk melakukan penilaian lebih lanjut. Gangguan pendengaran, masalah perkembangan, kurang stimulasi, atau kondisi lain dapat memengaruhi kemampuan bicara sehingga evaluasinya perlu disesuaikan dengan anak.
FAQ tentang Babytalk ke Anak
Q: Apakah babytalk membuat anak terlambat bicara?
A: Tidak ada dasar untuk menyimpulkan bahwa infant-directed speech yang hangat, jelas, dan responsif menyebabkan terlambat bicara. Yang sebaiknya dihindari adalah terus memberi contoh kata yang sengaja salah tanpa mengenalkan bentuk yang benar. Keterlambatan bicara memiliki banyak kemungkinan penyebab dan perlu dinilai secara individual.
Q: Sampai usia berapa orang tua boleh menggunakan babytalk?
A: Tidak ada batas usia yang kaku. Seiring kosakata dan kemampuan anak bertambah, kurangi nada atau bahasa yang terlalu “bayi” dan gunakan kalimat yang makin lengkap. AAP menyarankan mencampurkan percakapan dengan bahasa orang dewasa dan secara bertahap meninggalkan babytalk.
Q: Lebih baik babytalk atau bicara normal dengan bayi?
A: Kombinasikan kelebihan keduanya: gunakan intonasi menarik dan tempo lebih lambat, tetapi tetap ucapkan kata dengan benar. Inilah yang sering disebut parentese atau infant-directed speech.
Q: Bolehkah meniru ocehan bayi?
A: Boleh. Meniru ocehan menunjukkan bahwa MomDad mendengarkan dan membantu membangun giliran bicara. Setelah meniru, tambahkan kata sederhana atau nama benda yang benar.
Q: Apakah dua bahasa membuat anak bingung?
A: Paparan dua bahasa tidak otomatis membuat anak bingung. Gunakan bahasa yang paling dikuasai dan nyaman bagi tiap anggota keluarga agar interaksi tetap kaya, natural, dan responsif.
Jadi, perlu nggak sih babytalk ke anak? Perlu dalam bentuk infant-directed speech yang ekspresif dan mudah diikuti, bukan bahasa yang terus-menerus dibuat salah. MomDad tidak harus menjadi “guru bahasa” setiap saat. Obrolan kecil saat makan, mandi, bermain, atau membaca buku sudah menjadi stimulasi yang bermakna ketika dilakukan dengan hangat dan konsisten.
Referensi:
1. Ikatan Dokter Anak Indonesia. Mencegah Terlambat Bicara pada Anak. IDAI; 2017.
2. Ikatan Dokter Anak Indonesia. Membaca Bersama Bayi. IDAI; 2016.
3. American Academy of Pediatrics. Hearing & Making Sounds: Your Baby’s Milestones. HealthyChildren.org; 2021.
4. American Speech-Language-Hearing Association. Communication Milestones: Birth to 1 Year. ASHA; n.d.
5. Centers for Disease Control and Prevention. CDC’s Developmental Milestones. CDC; 2026.
6. Dilley LC, Wieland EA, Gampe A, et al. Evidence for Infant-directed Speech Preference Is Consistent Across Large-scale, Multi-site Replication and Meta-analysis. Open Mind; 2024.
7. Zhou X, Wang L, Hong X, Wong PCM. Infant-directed Speech Facilitates Word Learning Through Attentional Mechanisms: An fNIRS Study of Toddlers. Developmental Science; 2024.
8. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Strategi Efektif untuk Anak Mencapai Perkembangan Bahasa Sesuai Usia. Kemenkes RI; 2024.

