Meta Pixel

3 Juli 2026

Bayi Baru Lahir Boleh Langsung Disunat?

Ditulis oleh

avatar

Dhia Priyanka

Topik: Sunat, Bayi Baru Lahir

Artikel ini telah divalidasi oleh dr. Lucyana Alim Santoso, Sp.A

Sunat saat lahir atau neonatal circumcision, semakin banyak ditawarkan rumah sakit sebagai prosedur yang dapat dilakukan sebelum bayi pulang ke rumah. American Academy of Pediatrics (AAP) menyatakan bahwa manfaat kesehatan sunat pada bayi laki-laki yang memenuhi syarat lebih besar dari risikonya, namun belum cukup untuk merekomendasikannya secara rutin untuk semua bayi. Simak artikel ini untuk mengetahui secara lengkap seputar syarat medis sunat saat lahir, manfaat yang terbukti, kondisi yang menjadi kontraindikasi, prosedur yang aman, dan panduan perawatan pasca sunat, agar MomDad bisa mengambil keputusan terbaik.

Apa Itu Sunat saat Lahir (Neonatal Circumcision)? 

Sunat saat lahir atau neonatal circumcision adalah prosedur bedah pengangkatan kulup (prepusium), yaitu lipatan kulit yang menutupi kepala penis, yang dilakukan pada bayi, umumnya dalam 28 hari pertama kehidupan. Di banyak fasilitas kesehatan, tindakan ini ditawarkan dalam 1–2 hari setelah persalinan, setelah dokter memverifikasi kestabilan kondisi bayi. 

Prosedur dilakukan oleh tenaga medis terlatih (dokter spesialis anak, dokter bedah anak, atau dokter urologi) menggunakan teknik klamp khusus seperti Gomco, Plastibell, atau Mogen, disertai metode pengendalian nyeri yang sesuai. 

Syarat Medis Bayi yang Boleh Disunat Saat Lahir 

Tidak semua bayi baru lahir dapat langsung menjalani sirkumsisi. Dokter akan melakukan pemeriksaan fisik menyeluruh terlebih dahulu. Secara umum, bayi dapat disunat apabila memenuhi seluruh kriteria berikut: 

Kriteria 

Penjelasan 

Status

Lahir cukup bulan (aterm) 

Usia kehamilan ≥37 minggu 

✔ Wajib

Kondisi umum sehat & stabil 

Tidak memerlukan perawatan intensif (NICU) 

✔ Wajib

Sudah BAK dengan normal 

Memastikan saluran kemih berfungsi baik 

✔ Wajib

Tidak ada kelainan anatomi penis 

Tidak ada hipospadia, epispadia, atau chordee 

✔ Wajib

Tidak ada gangguan pembekuan darah

Tidak ada riwayat keluarga hemofilia atau gangguan koagulasi 

✔ Wajib

Berat lahir normal 

Umumnya ≥2.500 gram; BBLR perlu evaluasi khusus 

■ Evaluasi


Manfaat Sunat Saat Lahir yang Terbukti Secara Medis 

Berbagai penelitian dan panduan klinis internasional (AAP, CDC, WHO) telah merangkum manfaat kesehatan sirkumsisi pada bayi laki-laki. Berikut adalah bukti yang paling konsisten: 

1. Menurunkan Risiko Infeksi Saluran Kemih (ISK) 

Ini adalah manfaat yang paling kuat didukung bukti. Bayi laki-laki yang tidak disunat memiliki risiko ISK sekitar 10 kali lebih tinggi pada tahun pertama kehidupan dibandingkan yang disunat (AAP, 2012). Meskipun ISK pada bayi tetap tergolong jarang, komplikasi seperti pielonefritis (infeksi ginjal) dapat berbahaya pada neonatus. 

2. Menurunkan Risiko Infeksi Menular Seksual di Masa Dewasa 

Beberapa uji klinis acak menunjukkan sirkumsisi menurunkan risiko penularan HIV hingga 60% pada populasi berisiko tinggi (WHO/UNAIDS). Selain itu, penelitian menunjukkan penurunan risiko HPV (yang berkaitan dengan kanker serviks pada pasangan) dan herpes simpleks tipe 2 (HSV-2). Penting: manfaat ini tidak menggantikan pentingnya perilaku seksual yang aman. 

3. Menurunkan Risiko Kanker Penis 

Kanker penis sangat jarang (insidensi <1 per 100.000 laki-laki/tahun), namun penelitian epidemiologis menunjukkan laki-laki yang disunat memiliki risiko lebih rendah. Faktor HPV dianggap sebagai mediator utama hubungan ini. 

4. Mempermudah Kebersihan Genital 

Tanpa kulup, membersihkan kepala penis menjadi lebih mudah dan risiko penumpukan smegma (sekret kelenjar prepusium) berkurang. Meski demikian, anak yang tidak disunat pun dapat menjaga kebersihan genital dengan baik melalui edukasi yang tepat. 

5. Mencegah Kondisi Patologis Kulup 

Sirkumsisi mencegah fimosis patologis (kulup yang tidak dapat ditarik), parafimosis, dan balanitis rekuren (peradangan kepala penis), yang dapat memerlukan intervensi bedah di kemudian hari. 

Sunat Saat Lahir vs Sunat Saat Anak Lebih Besar: Perbandingan 

Banyak orang tua mempertanyakan apakah lebih baik sunat saat bayi atau menunggu hingga anak lebih besar. Berikut perbandingan klinisnya: 

Aspek 

Sunat Saat Lahir (Neonatal) 

Sunat Saat Anak Lebih Besar

Durasi prosedur 

Lebih singkat (~15–30 menit) 

Lebih lama

Anestesi 

Lokal / tanpa anestesi umum 

Sering memerlukan anestesi umum

Proses penyembuhan 

Lebih cepat (7–10 hari) 

Lebih lama

Risiko komplikasi 

<1% jika dilakukan tenaga terlatih 

Sedikit lebih tinggi

Mobilitas bayi 

Minimal, lebih mudah dikerjakan 

Anak lebih aktif, lebih sulit

Kenangan nyeri 

Tidak ada memori jangka panjang 

Anak dapat mengingat prosedur

Syarat medis 

Lebih ketat (kondisi neonatus) 

Lebih fleksibel


Kapan Sunat Saat Lahir Tidak Dianjurkan? (Kontraindikasi) 

Ada beberapa kondisi yang menjadi kontraindikasi, absolut maupun relatif, untuk sunat saat lahir. Mengetahui hal ini sangat penting agar orang tua dapat berdiskusi secara tepat dengan dokter: 

Kontraindikasi Absolut (Sunat Tidak Boleh Dilakukan): 

■ Hipospadia 

Lubang uretra (meatus) terletak di sisi bawah penis, bukan di ujung. Kulup dibutuhkan sebagai bahan rekonstruksi operasi, TIDAK boleh diangkat. 

■ Epispadia 

Lubang uretra terletak di sisi atas penis. Sama seperti hipospadia, kulup diperlukan untuk rekonstruksi bedah urologi. 

■ Chordee (penis melengkung) 

Kelengkungan penis yang memerlukan koreksi bedah. Kulup mungkin dibutuhkan dalam prosedur perbaikan. 

■ Gangguan pembekuan darah 

Hemofilia, trombositopenia berat, atau gangguan koagulasi lain meningkatkan risiko perdarahan yang mengancam jiwa. 

Kontraindikasi Relatif (Perlu Evaluasi Lebih Lanjut):

• Bayi prematur (usia kehamilan <37 minggu), ditunda hingga kondisi stabil dan berat badan memadai 

• Berat badan lahir rendah (BBLR <2.500 g), perlu penilaian individu oleh dokter

• Kondisi medis akut (infeksi, sepsis, gangguan metabolik), ditunda hingga kondisi teratasi

• Bayi masih dalam perawatan intensif (NICU), prioritas pada stabilisasi medis 

• Kelainan penis lain yang perlu evaluasi urologi lebih lanjut 

■ Penting: Kulup Adalah Bagian dari Rekonstruksi 

• Pada hipospadia dan epispadia, kulup TIDAK boleh diangkat sebelum evaluasi dokter bedah urologi anak.

• Membuang kulup sebelum pemeriksaan dapat mempersulit atau menggagalkan rencana operasi rekonstruksi di kemudian hari. 

• Selalu lakukan pemeriksaan anatomi penis yang menyeluruh sebelum sunat. 

Bagaimana Prosedur Sunat Saat Lahir Dilakukan? 

Prosedur sunat saat lahir yang aman mencakup beberapa tahap klinis standar: 

Tahap Pra-Prosedur: 

• Pemeriksaan fisik lengkap termasuk anatomi penis dan kondisi umum bayi 

• Penjelasan informed consent kepada orang tua (manfaat, risiko, alternatif) 

• Pemeriksaan pembekuan darah jika ada riwayat keluarga 

• Konfirmasi tidak ada kontraindikasi 

Metode Pengendalian Nyeri (Wajib): 

AAP secara tegas merekomendasikan penggunaan analgesia karena bayi dapat merasakan nyeri. Metode yang digunakan meliputi: 

Metode 

Cara Kerja 

Efektivitas

Dorsal Penile Nerve Block 

(DPNB) 

Injeksi anestesi lokal di pangkal penis 

Sangat efektif

Ring Block 

Cincin anestesi lokal di sekeliling penis 

Sangat efektif

Krim EMLA (topikal) 

Krim anestesi dioleskan 60–90 menit sebelum 

Moderat

Oral sukrosa 

Larutan gula sebagai terapi pendukung 

Pendukung


Perawatan Setelah Sunat Saat Lahir 

Perawatan yang tepat setelah sunat neonatal sangat penting untuk mencegah infeksi dan mempercepat pemulihan. Luka sunat pada bayi baru lahir umumnya sembuh dalam 7–10 hari. 

Panduan Perawatan Harian

• Ganti popok sesering mungkin untuk mengurangi paparan urin 

• Oleskan setiap ganti popok untuk mencegah luka menempel pada 

• Bersihkan lembut dengan air hangat saat mengganti popok 

• Jangan membersihkan luka dengan alkohol atau cairan keras

■ Pemantauan Kondisi Bayi 

• Pantau frekuensi buang air kecil, normal dalam 6–8 jam pasca prosedur 

• Amati warna dan kondisi luka setiap hari 

• Nyeri ringan dan bengkak kecil adalah normal dalam 2–3 hari pertama 

Apakah Sunat saat Lahir Wajib Dilakukan? 

Tidak. Sunat saat lahir bersifat elektif, bukan prosedur medis yang wajib dilakukan pada semua bayi laki-laki. 

American Academy of Pediatrics (AAP) dalam pernyataan resmi tahun 2012 (diperbarui 2018) menyatakan bahwa manfaat kesehatan sunat pada bayi laki-laki yang memenuhi syarat lebih besar dibandingkan risikonya, namun bukti tersebut belum cukup untuk merekomendasikan sunat secara rutin pada semua bayi. Canadian Paediatric Society (CPS) mengambil posisi serupa. 

Keputusan sebaiknya mempertimbangkan: 

• Kondisi kesehatan dan anatomi bayi (dinilai dokter) 

• Nilai budaya dan tradisi keluarga 

• Keyakinan agama 

• Preferensi dan keinginan orang tua setelah mendapatkan informasi lengkap 

• Diskusi terbuka bersama dokter spesialis anak 

FAQ: Pertanyaan yang Sering Diajukan tentang Sunat Saat Lahir 

Q: Berapa usia terbaik untuk sunat saat lahir? 

A: Sunat neonatal idealnya dilakukan dalam 7–14 hari pertama kehidupan setelah bayi dinyatakan sehat dan stabil oleh dokter. Beberapa fasilitas melakukannya dalam 24–48 jam setelah lahir jika kondisi bayi memenuhi syarat. Menurut panduan AAP, semakin awal dilakukan (pada bayi yang memenuhi syarat), semakin rendah risiko komplikasi dan semakin cepat penyembuhan. 

Q: Apakah sunat saat lahir menyakitkan bagi bayi? 

A: Bayi baru lahir memiliki sistem saraf yang sudah berkembang dan dapat merasakan nyeri. Itulah mengapa AAP secara tegas merekomendasikan pemberian analgesia (pengendalian nyeri) pada setiap prosedur sunat neonatal. Dengan teknik anestesi lokal yang tepat (DPNB atau ring block), prosedur dapat dilakukan dengan lebih nyaman. Tanpa analgesia, sunat dapat menyebabkan respons stres yang signifikan. 

Q: Bagaimana cara tahu apakah bayi saya boleh disunat saat lahir? 

A: Dokter akan melakukan pemeriksaan fisik menyeluruh sebelum prosedur, termasuk memeriksa anatomi penis, kondisi umum bayi, riwayat keluarga tentang gangguan pembekuan darah, dan memastikan bayi sudah buang air kecil. Jika dokter menemukan tanda hipospadia, epispadia, atau kondisi lain, sunat akan ditunda. 

Q: Apakah ada bekas luka atau masalah jangka panjang setelah sunat? 

A: Pada sebagian besar kasus yang ditangani tenaga medis terlatih, hasil kosmetik sunat neonatal sangat baik. Komplikasi serius (seperti perdarahan berat, infeksi berat, atau amputasi sebagian) sangat jarang terjadi (<0,5%) jika prosedur dilakukan dengan standar medis yang tepat.

Q: Bagaimana perawatan sunat saat lahir di rumah? 

A: Jaga area luka tetap bersih dan kering. Ganti popok rutin, oleskan petroleum jelly atau salep antibiotik sesuai anjuran dokter setiap kali ganti popok. Luka umumnya sembuh dalam 7–10 hari. Segera ke dokter jika ada perdarahan, nanah, demam, atau bayi tidak buang air kecil dalam 6–8 jam.

Q: Apakah sunat bisa dilakukan jika bayi belum BAK setelah lahir? 

A: Tidak. Salah satu syarat sunat saat lahir adalah bayi sudah buang air kecil dengan normal. Ini memastikan saluran kemih (uretra) berfungsi baik dan tidak ada obstruksi. Dokter tidak akan melanjutkan prosedur jika bayi belum BAK. 


Referensi:

[1] American Academy of Pediatrics Task Force on Circumcision. Male Circumcision. Pediatrics. 2012;130(3):e756-e785 (reaffirmed 2018). 

[2] Centers for Disease Control and Prevention. Information for Parents About Circumcision. CDC; 2023

[3] Canadian Paediatric Society. Newborn Male Circumcision. Paediatrics & Child Health. 2015 (reaffirmed 2023). [4] World Health Organization. Manual for Early Infant Male Circumcision Under Local Anaesthesia. WHO; 2010. [5] World Health Organization / UNAIDS. Male Circumcision for HIV Prevention. WHO; 2023. 

[6] Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Pelayanan Neonatus. Kemenkes RI; 2022.

[7] Ikatan Dokter Anak Indonesia. Pedoman Pelayanan Medis Ikatan Dokter Anak Indonesia. IDAI; 2023.

[8] Morris BJ, Krieger JN. Does Male Circumcision Affect Sexual Function, Sensitivity, or Satisfaction? Journal of Sexual Medicine. 2013;10(11):2644-2657.

[9] Kliegman RM, St Geme JW. Nelson Textbook of Pediatrics. 22nd ed. Elsevier; 2024. 

[10] Weiss HA, Larke N, Halperin D, Schenker I. Complications of Circumcision in Male Neonates, Infants and Children: A Systematic Review. BMC Urology. 2010;10:2.