11 Desember 2025
Gejala Hampir Serupa, Begini Cara Membedakan Anak Autis dan Speech Delay
Ditulis oleh

Tim PrimaKu / dr. Dini Mirasanti, Sp.A
Topik: 1-5 Tahun, Article, Parenthood, Autisme, Speech Delay
Banyak orang tua mulai cemas ketika anaknya belum bisa bicara di usia 2 tahun. Kadang muncul pertanyaan besar: “Ini cuma telat bicara, atau tanda autisme ya?” Kekhawatiran ini wajar, karena sekilas gejalanya memang bisa mirip, tapi sebenarnya berbeda.
Speech delay adalah keterlambatan kemampuan berbicara, namun anak masih memiliki kemampuan komunikasi nonverbal yang baik. Misalnya, anak masih bisa menunjuk benda yang diinginkan, tertawa saat diajak main, atau menatap mata orang yang berbicara dengannya.
Sementara pada autisme (ASD/Autism Spectrum Disorder), keterlambatan bicara biasanya disertai dengan gangguan interaksi sosial dan perilaku berulang. Artinya, bukan hanya telat bicara, tapi juga ada perbedaan cara anak berinteraksi dan merespons lingkungan.[1]
Berikut tanda-tanda yang bisa membantu membedakannya:
- Tidak merespons suara keras atau panggilan sejak lahir: bisa mengindikasikan gangguan pendengaran[3].
- Tidak mengoceh di usia 4–6 bulan: misalnya “ba-ba” atau “da-da”[2].
- Tidak menoleh atau tampak tidak tertarik ketika diajak bicara.
- Jarang tersenyum sosial atau kontak mata, yang bisa jadi tanda gangguan interaksi juga[4].
Kalau tanda-tanda ini muncul, sebaiknya jangan tunggu sampai anak “nanti juga bisa sendiri.” Pemeriksaan dini penting untuk memastikan apakah penyebabnya adalah gangguan pendengaran, keterlambatan perkembangan, atau kondisi lain seperti autism spectrum disorder.
Kapan Harus Waspada dan Konsultasi ke Dokter
Setiap anak berkembang dengan kecepatan berbeda, tapi konsultasi disarankan jika:
- Anak tidak mengucapkan kata tunggal di usia 18 bulan, atau tidak bisa menyusun dua kata di usia 2 tahun.
- Anak tidak merespons suara atau nama, tampak seperti “tidak mendengar”.
- Anak tidak menunjukkan ekspresi sosial, jarang tersenyum atau tertawa saat diajak bermain.
- Ada perilaku berulang atau keterikatan ekstrem pada rutinitas tertentu.[3]
Dokter akan menilai secara menyeluruh, meliputi pemeriksaan pendengaran, evaluasi perkembangan bahasa, hingga observasi perilaku sosial anak.
Mitos yang Sering Bikin Orang Tua Bingung
- “Anak laki-laki memang ngomongnya lambat, nanti juga nyusul.”
Faktanya: Tidak semua anak laki-laki telat bicara, jadi tetap perlu evaluasi. - “Kalau anak sering main gadget, wajar telat ngomong.”
Faktanya: Terlalu banyak screen time memang bisa memperlambat stimulasi bahasa, tapi harus dibedakan apakah hanya efek lingkungan atau ada gangguan perkembangan lain.[4] - “Kalau anak bisa nyanyi tapi nggak bisa ngobrol, berarti pintar.”
Faktanya: Justru perlu diperhatikan, karena pada anak autis, kemampuan mengulang lagu (ekolalia) bisa muncul tanpa pemahaman konteks.[5]
Langkah Awal yang Bisa Dilakukan Orang Tua
- Batasi screen time dan lebih banyak berinteraksi langsung. Hindari sebisa mungkin pemberian screen time di usia <18 bulan
- Gunakan bahasa sederhana dan konsisten saat berbicara dengan anak.
- Ajak anak bermain interaktif, seperti bermain peran, tebak gambar, atau membaca buku bersama.
- Konsultasikan ke dokter spesialis tumbuh kembang anak atau tenaga kesehatan lain jika kekhawatiran terus muncul.[6]
Tidak semua anak yang terlambat bicara mengalami autisme, tapi tetap penting untuk mengenali tanda-tandanya sejak dini. Dengan deteksi awal dan stimulasi yang tepat, peluang anak untuk berkembang optimal akan jauh lebih besar.
Jika orang tua masih ragu, jangan menunda untuk berkonsultasi, karena semakin cepat diketahui, semakin baik hasilnya untuk si Kecil.
Daftar Pustaka
- American Speech-Language-Hearing Association. Late Language Emergence. ASHA, 2022.
- Autism Speaks. Learn the Signs of Autism. 2023.
- CDC. Developmental Milestones and Early Signs of Autism. Centers for Disease Control and Prevention, 2023.
- American Academy of Pediatrics. Media and Young Minds. Pediatrics, 2016.
- National Institute of Mental Health. Autism Spectrum Disorder Overview. 2023.
- IDAI. Gangguan Perkembangan Bahasa dan Bicara pada Anak. Ikatan Dokter Anak Indonesia, 2021.





