13 Oktober 2026
Tanda Red Flag Sensorik Motorik Anak yang Perlu Diwaspadai
Ditulis oleh

Dhia Priyanka
Topik: Stimulasi motorik, Skrining tumbuh kembang, Tanda Keterlambatan Perkembangan, Gangguan Sensorik Anak, Perkembangan Motorik Anak, Perkembangan Sensorik Motorik
Artikel ini telah divalidasi oleh dr. Dini Mirasanti, Sp.A.
Perkembangan sensorik berkaitan dengan cara anak merespons sentuhan, suara, cahaya, gerakan, rasa, bau, dan posisi tubuh. Sementara perkembangan motorik mencakup gerak kasar, gerak halus, keseimbangan, koordinasi, dan kemampuan melakukan aktivitas sehari-hari. Perkembangan sensorik motorik membentuk cara anak menerima informasi dari tubuh dan lingkungan, lalu meresponsnya melalui gerakan. WHO menyebut sekitar 80% perkembangan otak terjadi hingga usia 3 tahun.
Satu perilaku sesekali belum tentu menandakan masalah; perhatikan pola yang menetap, intens, muncul di berbagai situasi, atau mengganggu fungsi anak. Kehilangan kemampuan yang sebelumnya sudah dikuasai merupakan tanda untuk segera berkonsultasi.
Apa Itu Perkembangan Sensorik dan Motorik?
Perkembangan sensorik adalah kemampuan otak menerima, memilah, dan merespons informasi dari penglihatan, pendengaran, sentuhan, penciuman, rasa, keseimbangan atau vestibular, serta kesadaran posisi tubuh atau propriosepsi. Respons setiap anak tidak sama. Ada anak yang mudah terganggu oleh suara keras, sementara anak lain justru aktif mencari gerakan.
Perkembangan motorik adalah kemampuan mengendalikan gerakan tubuh. Motorik kasar meliputi kontrol kepala, duduk, berdiri, berjalan, berlari, dan melompat. Motorik halus meliputi meraih, memindahkan benda, menggunakan sendok, menyusun balok, menggambar, mengancingkan pakaian, dan berbagai gerakan tangan-jari yang terkoordinasi.
Keduanya saling berhubungan. Anak menggunakan informasi sensorik untuk mempertahankan postur, mengatur kekuatan, merencanakan gerak, menghindari bahaya, makan, berpakaian, bermain, dan belajar.
Apa Arti Sensorik dan Motorik Anak “Masih Minus”?
“Minus” bukan istilah medis dan berisiko memberi label negatif. Istilah yang lebih tepat adalah perkembangan yang perlu dipantau, dugaan keterlambatan, perbedaan respons sensorik, atau kesulitan motorik, sesuai temuan profesional.
AAP menjelaskan bahwa kesulitan memproses rangsangan sensorik dapat muncul bersama berbagai kondisi perkembangan dan perilaku. Karena belum ada kerangka diagnosis tunggal yang diterima secara universal, gejala sensorik perlu dinilai secara menyeluruh. Menutup telinga saat blender menyala, misalnya, tidak otomatis berarti autisme atau gangguan sensorik.
Ciri Sensorik dan Motorik yang Perlu Dipantau
Ciri-Ciri Sensorik Anak yang Perlu Diperhatikan
1. Respons berlebihan terhadap rangsangan
Anak mungkin sangat terganggu oleh suara sehari-hari, sentuhan ringan, label baju, tekstur makanan, cahaya, keramaian, atau aktivitas perawatan seperti mandi dan potong rambut. Respons dapat berupa menutup telinga, menangis hebat, menghindar, atau sulit kembali tenang.
2. Respons yang tampak kurang terhadap rangsangan
Anak mungkin tidak segera merespons suara atau sentuhan, tampak kurang menyadari kotoran pada wajah, atau terlambat bereaksi terhadap rasa sakit. Respons seperti ini juga dapat berkaitan dengan pendengaran, penglihatan, perhatian, atau kondisi medis lain sehingga perlu evaluasi.
3. Terus-menerus mencari sensasi
Sebagian anak sering berputar, melompat, menabrakkan tubuh, menggigit benda, menyentuh semua permukaan, atau mencari tekanan kuat. Aktivitas aktif dapat normal, tetapi perlu diperhatikan bila sangat intens, sulit dialihkan, tidak aman, atau menghambat makan, tidur, bermain, dan belajar.
4. Kesulitan makan terkait tekstur
Anak menolak kelompok tekstur tertentu, sangat mudah tersedak atau muntah, hanya mau makanan dengan konsistensi spesifik, atau pertumbuhan terganggu. Kesulitan makan dapat melibatkan keterampilan oral-motor, masalah saluran cerna, pengalaman sensorik, atau faktor lain. Pemeriksaan tidak boleh hanya berfokus pada perilaku.
Ciri-Ciri Motorik Anak yang Perlu Diperhatikan
1. Gerak tubuh sangat kaku atau sangat lemas
Tubuh yang terus tampak kaku, mengepalkan tangan menetap, sulit digerakkan, atau terasa sangat lemas perlu dibicarakan dengan dokter. Pada bayi, kontrol kepala, kesimetrisan postur, dan kualitas gerakan sama pentingnya dengan usia saat mencapai suatu kemampuan.
2. Gerakan tidak seimbang atau hanya menggunakan satu sisi
Perhatikan bila anak konsisten menyeret satu sisi tubuh, menggunakan satu tangan jauh lebih awal disertai sisi lain yang lemah, berdiri dengan pola tidak simetris, atau gerak kanan-kiri tampak berbeda. Perbedaan menetap perlu dinilai, terutama jika disertai kekakuan atau kehilangan kemampuan.
3. Sulit menguasai gerak kasar
Tanda dapat berupa kesulitan mempertahankan posisi duduk, berdiri, berjalan, naik tangga, berlari, melompat, atau menjaga keseimbangan dibandingkan kemampuan yang diharapkan pada usianya. Sering jatuh saja tidak cukup untuk menyimpulkan masalah; lihat frekuensi, lingkungan, kemampuan lain, dan dampaknya.
4. Kesulitan motorik halus dan aktivitas sehari-hari
Anak mungkin kesulitan meraih atau memindahkan benda, menggunakan kedua tangan bersama, menyusun balok, memegang alat makan, mencoret, menggunting, membuka wadah, memakai pakaian, atau melakukan kegiatan sesuai usia. Yang dinilai bukan hasil yang “rapi”, melainkan kemajuan, usaha, koordinasi, dan kemandirian.
5. Kesulitan merencanakan gerakan
Anak tampak tahu apa yang ingin dilakukan tetapi sulit mengurutkan gerak, meniru posisi, mempelajari permainan baru, atau menavigasi rintangan. Ia mungkin membutuhkan instruksi dan latihan lebih banyak. Evaluasi perlu mempertimbangkan kemampuan bahasa, perhatian, penglihatan, keseimbangan, dan pengalaman belajar.
Tanda Perkembangan berdasarkan Kelompok Usia
1. Usia 0–12 bulan
Perlu dibicarakan dengan dokter bila bayi jarang menggerakkan salah satu sisi, terus tampak sangat kaku atau lemas, sulit mengontrol kepala sesuai tahap usia, tidak meraih benda, tidak menunjukkan kemajuan posisi tubuh, atau tidak bereaksi terhadap suara dan objek visual. Gunakan usia koreksi pada bayi prematur sesuai arahan dokter.
2. Usia 1–2 tahun
Perhatikan bila anak belum menunjukkan kemajuan menuju berdiri atau berjalan, sering menggunakan satu sisi saja, kesulitan mengambil benda kecil, tidak dapat membawa atau menggunakan benda sederhana sesuai usia, atau kehilangan kemampuan yang pernah dikuasai. Pola makan yang sangat terbatas atau respons ekstrem terhadap aktivitas harian juga perlu dibahas.
3. Usia 2–5 tahun
Konsultasikan bila anak sangat kesulitan berlari, melompat, naik tangga, memegang alat makan atau krayon, memakai pakaian sederhana, mengikuti aktivitas gerak, atau bermain karena masalah koordinasi. Respons sensorik yang membuat anak tidak dapat mengikuti sekolah, tidur, makan, atau merawat diri juga layak dievaluasi.
Milestone CDC menggambarkan kemampuan yang dilakukan sebagian besar anak pada usia tertentu, tetapi bukan pengganti alat skrining tervalidasi. Penilaian harus melihat keseluruhan perkembangan: gerak, bahasa, kognitif, sosial-emosional, penglihatan, pendengaran, kesehatan, dan lingkungan anak.
Skrining Bukan Diagnosis
Surveilans perkembangan adalah pemantauan berkelanjutan melalui percakapan dengan orang tua, riwayat perkembangan, pengamatan anak, serta pencatatan kemajuan. Skrining menggunakan alat baku untuk mengenali anak yang membutuhkan evaluasi lebih lanjut.
AAP merekomendasikan skrining perkembangan umum dengan alat tervalidasi pada usia 9, 18, dan 30 bulan, serta skrining autisme pada 18 dan 24 bulan, atau kapan pun muncul kekhawatiran. Di Indonesia, program SDIDTK Kemenkes mencakup stimulasi, deteksi dini, intervensi, rujukan, serta pencatatan tumbuh kembang.
Hasil skrining yang perlu ditindaklanjuti bukan diagnosis. Dokter dapat menilai kesehatan umum dan neurologis, penglihatan, pendengaran, pertumbuhan, riwayat kelahiran, pola makan, tidur, bahasa, perilaku, dan lingkungan. Bila diperlukan, anak dapat dirujuk ke dokter anak, dokter anak bidang tumbuh kembang, fisioterapis, terapis okupasi, terapis wicara, audiolog, dokter mata, psikolog, atau profesi lain sesuai kebutuhan.
Apa yang Bisa Dilakukan Orang Tua di Rumah?
1. Catat pola, bukan hanya label
Tuliskan situasi pemicu, respons anak, durasi, seberapa sering terjadi, cara anak pulih, dan dampaknya. Video singkat saat aman dapat membantu dokter memahami gerakan tertentu.
2. Beri kesempatan bergerak dan bermain
Sediakan waktu bermain di lantai, meraih benda, memindahkan mainan, merangkak, berjalan, memanjat dengan pengawasan, menggambar, menyusun, dan aktivitas kemandirian sesuai usia. Pilih tantangan yang sedikit di atas kemampuan anak tanpa memaksa.
3. Kurangi tekanan saat anak kewalahan
Kenali tanda lelah atau overstimulasi. Kurangi suara, cahaya, keramaian, atau tuntutan sementara; berikan transisi dan rutinitas yang dapat diprediksi. Tujuan dukungan bukan membuat anak “tahan” terhadap semua rangsangan secara mendadak.
4. Hindari terapi mandiri yang menjanjikan hasil instan
AAP menyatakan bukti terapi berbasis integrasi sensorik masih terbatas dan tidak konklusif. Bila terapi disarankan, sepakati target fungsi yang spesifik, misalnya mampu memakai baju, makan lebih beragam, atau mengikuti kegiatan kelas—serta periode evaluasi untuk menilai manfaatnya.
5. Pantau bersama ahli
Jika MomDad masih ragu apakah perkembangan sensorik dan motorik anak sesuai tahap usianya, pemantauan dapat dilakukan bersama tenaga kesehatan. MomDad juga bisa belajar lebih lanjut melalui SuperClass Milestone & Red Flag Tumbuh Kembang bersama dr. Yoga Yandika, Sp.A di PrimaKu.
Kelas ini membahas tahapan perkembangan motorik anak, mulai dari mengangkat kepala, berguling, duduk, berdiri, berjalan, hingga perkembangan sensomotorik, sekaligus membantu MomDad memahami tanda yang perlu diperhatikan selama proses tumbuh kembang.
FAQ tentang Perkembangan Sensorik Motorik Anak
Q: Apakah anak yang tidak suka suara keras pasti mengalami gangguan sensorik?
A: Tidak. Banyak anak tidak menyukai suara tertentu. Evaluasi lebih diperlukan bila responsnya sangat intens, menetap, muncul pada banyak situasi, atau mengganggu aktivitas dan keselamatan.
Q: Apakah terlambat berjalan selalu berarti gangguan motorik?
A: Tidak selalu. Variasi perkembangan, prematuritas, kesempatan bergerak, kesehatan, dan faktor lain dapat berpengaruh. Namun, ketiadaan kemajuan, gerak tidak simetris, tubuh sangat kaku atau lemas, atau hilangnya kemampuan memerlukan penilaian.
Q: Apakah masalah sensorik berarti anak autisme?
A: Tidak. Respons sensorik yang berbeda dapat terlihat pada anak dengan autisme, ADHD, gangguan koordinasi, kecemasan, kondisi medis tertentu, maupun anak tanpa diagnosis tersebut. Diagnosis membutuhkan evaluasi menyeluruh.
Q: Siapa yang dapat memeriksa perkembangan sensorik dan motorik?
A: Mulailah dari dokter anak atau fasilitas tumbuh kembang. Berdasarkan temuan, anak dapat dirujuk ke profesional terkait seperti fisioterapis, terapis okupasi, audiolog, dokter mata, psikolog, atau spesialis lain.
Q: Apakah stimulasi di rumah cukup?
A: Stimulasi harian penting, tetapi tidak menggantikan evaluasi ketika ada tanda bahaya, kehilangan kemampuan, atau gangguan fungsi. Intervensi perlu disesuaikan dengan penyebab dan kebutuhan anak.
Q: Bolehkah membandingkan milestone dengan saudara atau teman sebaya?
A: Perbandingan informal dapat menyesatkan karena perkembangan setiap anak berbeda. Gunakan milestone berbasis usia, riwayat individual, usia koreksi bila prematur, dan hasil skrining tervalidasi bersama tenaga kesehatan.
Perkembangan sensorik motorik anak tidak tepat dinilai sebagai “plus” atau “minus”. Yang lebih penting adalah melihat kemajuan, kualitas gerakan, pola respons, dan dampaknya pada makan, tidur, bermain, belajar, serta kemandirian. Bila ada kekhawatiran, terutama kehilangan kemampuan, gerak tidak simetris, atau hambatan fungsi—catat pengamatan dan konsultasikan lebih dini. Dukungan yang tepat dimulai dari pemahaman, bukan label.
Referensi:
1. World Health Organization, UNICEF, World Bank Group. Nurturing care for early childhood development: a framework for helping children survive and thrive. WHO; 2018.
2. World Health Organization, UNICEF. Nurturing care for children with developmental delays and disabilities: thematic brief. WHO; 2026.
3. Centers for Disease Control and Prevention. CDC’s Developmental Milestones: Learn the Signs. Act Early. CDC; diperbarui 2026. 4. American Academy of Pediatrics. Developmental Surveillance and Screening Patient Care. AAP; diperbarui 2025.
5. Lipkin PH, Macias MM, et al. Promoting Optimal Development: Identifying Infants and Young Children With Developmental Disorders Through Developmental Surveillance and Screening. Pediatrics; 2020.
6. American Academy of Pediatrics. Sensory Integration Therapies for Children With Developmental and Behavioral Disorders. Pediatrics; 2012.
7. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pelatihan Stimulasi, Deteksi, dan Intervensi Dini Tumbuh Kembang (SDIDTK). Kemenkes RI; 2020.





