Deskripsi
Vaksin yang digunakan untuk mencegah tiga penyakit infeksi utama pada anak, yaitu Difteri, Pertusis (batuk rejan), dan Tetanus (DPT).
Jadwal vaksinasi
- Diberikan sebagai imunisasi primer pada bayi mulai usia 2 bulan. Jadwal rutin diberikan sebanyak 4 dosis masing-masing 0,5 mL pada usia 2, 4, 6, dan 18 bulan.
- Bila jadwal terlambat, diberikan 3 dosis 0,5 mL dengan interval 4–8 minggu antar dosis, dilanjutkan dosis keempat sekitar 1 tahun setelah dosis ketiga.
- Dosis booster 0,5 mL diberikan pada usia 4–6 tahun. Booster ini tidak diperlukan bila dosis keempat diberikan setelah usia 4 tahun.
- Vaksin tidak diberikan pada anak usia 7 tahun ke atas, remaja, atau dewasa.
Efek samping
- Reaksi lokal yang dapat terjadi meliputi kemerahan, pembengkakan, dan nyeri tekan pada tempat suntikan.
- Reaksi sistemik yang dapat terjadi antara lain demam, iritabilitas, mengantuk, penurunan nafsu makan, menangis berkepanjangan, lesu, pucat, dan muntah. Sebagian besar reaksi bersifat ringan dan membaik sendiri dalam 24–72 jam.
- Reaksi yang jarang dilaporkan meliputi anafilaksis, reaksi hipersensitivitas tipe Arthus, neuropati perifer, kejang demam, dan episode hipotoni-hiporesponsif.
Perhatian khusus
- Vaksin diindikasikan untuk imunisasi aktif terhadap difteri, tetanus, dan pertusis pada bayi usia ≥2 bulan, serta sebagai booster pada anak sampai sebelum usia 7 tahun.
- Vaksin diberikan secara intramuskular dan tidak boleh disuntikkan secara intravena. Lokasi suntikan yang dianjurkan adalah otot deltoid atau anterolateral paha tengah; pada anak usia >1 tahun, deltoid lebih dipilih.
- Vaksin harus dikocok sebelum digunakan dan diperiksa secara visual sebelum pemberian. Bila terdapat partikel asing atau perubahan warna, vaksin tidak boleh digunakan.
- Pada anak dengan defisiensi imun, respons imun mungkin tidak optimal. Pada anak dengan gangguan koagulasi, termasuk trombositopenia, pemberian intramuskular perlu dipertimbangkan hati-hati kecuali manfaat jelas melebihi risiko.
- Pada anak dengan riwayat kejang demam maupun non-demam, asetaminofen dianjurkan saat vaksinasi.
- Vaksin dapat diberikan bersamaan dengan Hib, IPV, OPV, MMR, dan hepatitis B, tetapi harus menggunakan spuit terpisah dan lokasi suntikan berbeda.
- Fasilitas untuk menangani anafilaksis harus selalu tersedia.
Kontraindikasi:
- Meliputi alergi terhadap komponen vaksin, serta riwayat reaksi alergi atau anafilaksis setelah dosis sebelumnya. Pemberian juga harus ditunda pada anak dengan penyakit akut, termasuk demam, meskipun infeksi saluran napas atas ringan biasanya bukan alasan untuk menunda imunisasi.
- Anak dengan gangguan neurologis progresif tidak boleh divaksin sampai kondisi telah jelas, terkontrol, atau membaik.
- Perlu pertimbangan khusus untuk pemberian dosis lanjutan bila setelah vaksin pertusis sebelumnya pernah terjadi episode hipotoni-hiporesponsif dalam 48 jam, demam >40,5°C dalam 48 jam tanpa penyebab lain, tangisan terus-menerus ≥3 jam dalam 3 hari, atau kejang dengan atau tanpa demam dalam 3 hari.
Jadwal vaksinasi
- Diberikan sebagai imunisasi primer pada bayi mulai usia 2 bulan. Jadwal rutin diberikan sebanyak 4 dosis masing-masing 0,5 mL pada usia 2, 4, 6, dan 18 bulan.
- Bila jadwal terlambat, diberikan 3 dosis 0,5 mL dengan interval 4–8 minggu antar dosis, dilanjutkan dosis keempat sekitar 1 tahun setelah dosis ketiga.
- Dosis booster 0,5 mL diberikan pada usia 4–6 tahun. Booster ini tidak diperlukan bila dosis keempat diberikan setelah usia 4 tahun.
- Vaksin tidak diberikan pada anak usia 7 tahun ke atas, remaja, atau dewasa.
Efek samping
- Reaksi lokal yang dapat terjadi meliputi kemerahan, pembengkakan, dan nyeri tekan pada tempat suntikan.
- Reaksi sistemik yang dapat terjadi antara lain demam, iritabilitas, mengantuk, penurunan nafsu makan, menangis berkepanjangan, lesu, pucat, dan muntah. Sebagian besar reaksi bersifat ringan dan membaik sendiri dalam 24–72 jam.
- Reaksi yang jarang dilaporkan meliputi anafilaksis, reaksi hipersensitivitas tipe Arthus, neuropati perifer, kejang demam, dan episode hipotoni-hiporesponsif.
Perhatian khusus
- Vaksin diindikasikan untuk imunisasi aktif terhadap difteri, tetanus, dan pertusis pada bayi usia ≥2 bulan, serta sebagai booster pada anak sampai sebelum usia 7 tahun.
- Vaksin diberikan secara intramuskular dan tidak boleh disuntikkan secara intravena. Lokasi suntikan yang dianjurkan adalah otot deltoid atau anterolateral paha tengah; pada anak usia >1 tahun, deltoid lebih dipilih.
- Vaksin harus dikocok sebelum digunakan dan diperiksa secara visual sebelum pemberian. Bila terdapat partikel asing atau perubahan warna, vaksin tidak boleh digunakan.
- Pada anak dengan defisiensi imun, respons imun mungkin tidak optimal. Pada anak dengan gangguan koagulasi, termasuk trombositopenia, pemberian intramuskular perlu dipertimbangkan hati-hati kecuali manfaat jelas melebihi risiko.
- Pada anak dengan riwayat kejang demam maupun non-demam, asetaminofen dianjurkan saat vaksinasi.
- Vaksin dapat diberikan bersamaan dengan Hib, IPV, OPV, MMR, dan hepatitis B, tetapi harus menggunakan spuit terpisah dan lokasi suntikan berbeda.
- Fasilitas untuk menangani anafilaksis harus selalu tersedia.
Kontraindikasi:
- Meliputi alergi terhadap komponen vaksin, serta riwayat reaksi alergi atau anafilaksis setelah dosis sebelumnya. Pemberian juga harus ditunda pada anak dengan penyakit akut, termasuk demam, meskipun infeksi saluran napas atas ringan biasanya bukan alasan untuk menunda imunisasi.
- Anak dengan gangguan neurologis progresif tidak boleh divaksin sampai kondisi telah jelas, terkontrol, atau membaik.
- Perlu pertimbangan khusus untuk pemberian dosis lanjutan bila setelah vaksin pertusis sebelumnya pernah terjadi episode hipotoni-hiporesponsif dalam 48 jam, demam >40,5°C dalam 48 jam tanpa penyebab lain, tangisan terus-menerus ≥3 jam dalam 3 hari, atau kejang dengan atau tanpa demam dalam 3 hari.