Deskripsi
Vaksin kombinasi untuk mencegah Difteri, Tetanus, Pertusis (batuk rejan), Polio (IPV), dan Haemophilus influenzae tipe B (Hib) pada bayi dan anak (mulai usia 2 bulan)
Jadwal vaksinasi
- Diberikan sebagai imunisasi primer sebanyak 3 dosis pada 6 bulan pertama kehidupan dan dapat dimulai sejak usia 2 bulan.
- Jadwal primer diberikan pada usia 2, 3, dan 4 bulan.
- Untuk perlindungan jangka panjang, dosis booster DTP dan Hib dianjurkan pada tahun kedua kehidupan.
Efek samping
- Reaksi lokal yang dapat terjadi meliputi nyeri, kemerahan, dan pembengkakan pada tempat suntikan.
- Reaksi sistemik yang dapat terjadi antara lain demam, penurunan nafsu makan, gelisah, menangis tidak biasa, muntah, dan diare.
- Efek lain yang pernah dilaporkan meliputi gastroenteritis, otitis media, infeksi virus, faringitis, batuk, rinitis, gangguan saluran napas, bronkitis, infeksi saluran napas atas, dan konjungtivitis.
- Kejang atau episode hipotonia pada bayi sangat jarang dilaporkan.
Perhatian khusus
- Vaksin diindikasikan untuk imunisasi aktif bayi mulai usia 2 bulan terhadap difteri, tetanus, pertusis, dan Haemophilus influenzae tipe b. Vaksin ini tidak melindungi terhadap penyakit akibat tipe H. influenzae lain maupun meningitis oleh organisme lain.
- Vaksin harus direkonstitusi dengan mencampurkan seluruh isi komponen cair DTPa ke dalam vial Hib, kemudian dikocok hingga larut sempurna, dan diberikan segera setelah rekonstitusi.
- Vaksin diberikan secara intramuskular dalam, sebaiknya pada lokasi suntikan yang berbeda untuk tiap dosis. Pada bayi dengan trombositopenia atau gangguan perdarahan, vaksin diberikan secara subkutan.
- Vaksin tidak boleh diberikan secara intravena.
- Pemberian harus ditunda pada subjek dengan penyakit demam akut berat, tetapi infeksi ringan bukan merupakan kontraindikasi.
- Perlu kewaspadaan pada subjek dengan riwayat hipersensitivitas terhadap komponen vaksin atau setelah pemberian vaksin difteri, tetanus, pertusis, atau Hib sebelumnya.
- Pada pasien yang mendapat terapi imunosupresif atau memiliki gangguan imun, respons imun mungkin tidak optimal.
- Sarana penanganan anafilaksis harus tersedia, dan observasi medis setelah imunisasi dianjurkan.
Jadwal vaksinasi
- Diberikan sebagai imunisasi primer sebanyak 3 dosis pada 6 bulan pertama kehidupan dan dapat dimulai sejak usia 2 bulan.
- Jadwal primer diberikan pada usia 2, 3, dan 4 bulan.
- Untuk perlindungan jangka panjang, dosis booster DTP dan Hib dianjurkan pada tahun kedua kehidupan.
Efek samping
- Reaksi lokal yang dapat terjadi meliputi nyeri, kemerahan, dan pembengkakan pada tempat suntikan.
- Reaksi sistemik yang dapat terjadi antara lain demam, penurunan nafsu makan, gelisah, menangis tidak biasa, muntah, dan diare.
- Efek lain yang pernah dilaporkan meliputi gastroenteritis, otitis media, infeksi virus, faringitis, batuk, rinitis, gangguan saluran napas, bronkitis, infeksi saluran napas atas, dan konjungtivitis.
- Kejang atau episode hipotonia pada bayi sangat jarang dilaporkan.
Perhatian khusus
- Vaksin diindikasikan untuk imunisasi aktif bayi mulai usia 2 bulan terhadap difteri, tetanus, pertusis, dan Haemophilus influenzae tipe b. Vaksin ini tidak melindungi terhadap penyakit akibat tipe H. influenzae lain maupun meningitis oleh organisme lain.
- Vaksin harus direkonstitusi dengan mencampurkan seluruh isi komponen cair DTPa ke dalam vial Hib, kemudian dikocok hingga larut sempurna, dan diberikan segera setelah rekonstitusi.
- Vaksin diberikan secara intramuskular dalam, sebaiknya pada lokasi suntikan yang berbeda untuk tiap dosis. Pada bayi dengan trombositopenia atau gangguan perdarahan, vaksin diberikan secara subkutan.
- Vaksin tidak boleh diberikan secara intravena.
- Pemberian harus ditunda pada subjek dengan penyakit demam akut berat, tetapi infeksi ringan bukan merupakan kontraindikasi.
- Perlu kewaspadaan pada subjek dengan riwayat hipersensitivitas terhadap komponen vaksin atau setelah pemberian vaksin difteri, tetanus, pertusis, atau Hib sebelumnya.
- Pada pasien yang mendapat terapi imunosupresif atau memiliki gangguan imun, respons imun mungkin tidak optimal.
- Sarana penanganan anafilaksis harus tersedia, dan observasi medis setelah imunisasi dianjurkan.