Deskripsi
Vaksin kombinasi 5-in-1 (DTaP-IPV/Hib) yang digunakan untuk mencegah Difteri, Pertusis (batuk rejan), Tetanus, Haemophilus influenzae tipe b (Hib), dan Polio
Jadwal vaksinasi
Diberikan untuk imunisasi anak mulai usia 2 bulan sampai sebelum ulang tahun ke-7 terhadap difteri, tetanus, pertusis, poliomyelitis, dan penyakit invasif Haemophilus influenzae tipe b.
Imunisasi primer diberikan sebanyak 4 dosis, masing-masing 0,5 mL secara intramuskular pada usia 2, 4, 6, dan 18 bulan.
Bila dibutuhkan perlindungan lebih cepat, 3 dosis pertama dapat diberikan dengan interval 4 minggu.
Efek samping
Reaksi yang paling sering terjadi meliputi kemerahan, nyeri tekan, dan bengkak pada tempat suntikan, disertai iritabilitas dan demam ringan. Gejala ini biasanya muncul dalam 24 jam pertama dan dapat berlangsung 24–48 jam.
Reaksi lain yang dapat terjadi meliputi penurunan nafsu makan, muntah, menangis, mengantuk, dan demam.
Reaksi yang jarang dilaporkan meliputi kejang demam, episode hipotoni-hiporesponsif, demam tinggi di atas 40,5°C, dan tangisan bernada tinggi atau tangisan terus-menerus.
Reaksi yang sangat jarang dilaporkan meliputi neuropati perifer, penyakit demielinisasi, ensefalopati, poliradikulopati, edema ekstremitas bawah dengan sianosis atau purpura sementara, reaksi anafilaktik, pembengkakan melingkar pada tungkai setelah booster, granuloma, atau abses steril di tempat suntikan.
Perhatian khusus
Vaksin diberikan secara intramuskular. Lokasi suntikan yang dianjurkan adalah anterolateral paha tengah atau otot deltoid. Pada anak usia di atas 1 tahun, deltoid lebih dianjurkan. Vaksin tidak boleh diberikan secara intravaskular, subkutan, intradermal, maupun pada bokong.
Vaksin harus dikocok baik sebelum digunakan dan diperiksa secara visual untuk memastikan tidak ada partikel asing atau perubahan warna.
Kontraindikasi
Alergi terhadap komponen vaksin, serta riwayat reaksi anafilaksis atau reaksi alergi berat setelah vaksin DPT Polio Adsorbed, TRIPACEL™, QUADRACEL™, IPV, atau Act-HIB.
Pemberian harus ditunda pada anak dengan penyakit akut, termasuk demam, walaupun infeksi saluran napas atas ringan tanpa demam umumnya bukan alasan untuk menunda imunisasi.
Vaksin tidak diberikan pada anak setelah ulang tahun ke-7 atau pada orang dewasa karena kandungan toksoid difteri dan antigen pertusis dapat meningkatkan reaksi lokal, demam, dan malaise.
Pemberian komponen pertusis perlu dipertimbangkan untuk ditunda pada anak dengan gangguan neurologis progresif, berkembang, atau tidak stabil, termasuk kejang, sampai kondisinya jelas, terkoreksi, atau terkontrol.
Pada anak dengan gangguan koagulasi, pemberian intramuskular harus dilakukan hati-hati karena risiko perdarahan.
Respons imun mungkin tidak optimal pada anak dengan imunodefisiensi, keganasan, terapi imunosupresif, HIV, transplantasi, atau penyakit autoimun.
Bila perlu, vaksin dapat diberikan bersamaan dengan vaksin anak rutin lain seperti MMR dan hepatitis B, tetapi harus menggunakan spuit terpisah dan lokasi suntikan berbeda.
Fasilitas untuk menangani anafilaksis harus selalu tersedia.
Jadwal vaksinasi
Diberikan untuk imunisasi anak mulai usia 2 bulan sampai sebelum ulang tahun ke-7 terhadap difteri, tetanus, pertusis, poliomyelitis, dan penyakit invasif Haemophilus influenzae tipe b.
Imunisasi primer diberikan sebanyak 4 dosis, masing-masing 0,5 mL secara intramuskular pada usia 2, 4, 6, dan 18 bulan.
Bila dibutuhkan perlindungan lebih cepat, 3 dosis pertama dapat diberikan dengan interval 4 minggu.
Efek samping
Reaksi yang paling sering terjadi meliputi kemerahan, nyeri tekan, dan bengkak pada tempat suntikan, disertai iritabilitas dan demam ringan. Gejala ini biasanya muncul dalam 24 jam pertama dan dapat berlangsung 24–48 jam.
Reaksi lain yang dapat terjadi meliputi penurunan nafsu makan, muntah, menangis, mengantuk, dan demam.
Reaksi yang jarang dilaporkan meliputi kejang demam, episode hipotoni-hiporesponsif, demam tinggi di atas 40,5°C, dan tangisan bernada tinggi atau tangisan terus-menerus.
Reaksi yang sangat jarang dilaporkan meliputi neuropati perifer, penyakit demielinisasi, ensefalopati, poliradikulopati, edema ekstremitas bawah dengan sianosis atau purpura sementara, reaksi anafilaktik, pembengkakan melingkar pada tungkai setelah booster, granuloma, atau abses steril di tempat suntikan.
Perhatian khusus
Vaksin diberikan secara intramuskular. Lokasi suntikan yang dianjurkan adalah anterolateral paha tengah atau otot deltoid. Pada anak usia di atas 1 tahun, deltoid lebih dianjurkan. Vaksin tidak boleh diberikan secara intravaskular, subkutan, intradermal, maupun pada bokong.
Vaksin harus dikocok baik sebelum digunakan dan diperiksa secara visual untuk memastikan tidak ada partikel asing atau perubahan warna.
Kontraindikasi
Alergi terhadap komponen vaksin, serta riwayat reaksi anafilaksis atau reaksi alergi berat setelah vaksin DPT Polio Adsorbed, TRIPACEL™, QUADRACEL™, IPV, atau Act-HIB.
Pemberian harus ditunda pada anak dengan penyakit akut, termasuk demam, walaupun infeksi saluran napas atas ringan tanpa demam umumnya bukan alasan untuk menunda imunisasi.
Vaksin tidak diberikan pada anak setelah ulang tahun ke-7 atau pada orang dewasa karena kandungan toksoid difteri dan antigen pertusis dapat meningkatkan reaksi lokal, demam, dan malaise.
Pemberian komponen pertusis perlu dipertimbangkan untuk ditunda pada anak dengan gangguan neurologis progresif, berkembang, atau tidak stabil, termasuk kejang, sampai kondisinya jelas, terkoreksi, atau terkontrol.
Pada anak dengan gangguan koagulasi, pemberian intramuskular harus dilakukan hati-hati karena risiko perdarahan.
Respons imun mungkin tidak optimal pada anak dengan imunodefisiensi, keganasan, terapi imunosupresif, HIV, transplantasi, atau penyakit autoimun.
Bila perlu, vaksin dapat diberikan bersamaan dengan vaksin anak rutin lain seperti MMR dan hepatitis B, tetapi harus menggunakan spuit terpisah dan lokasi suntikan berbeda.
Fasilitas untuk menangani anafilaksis harus selalu tersedia.