Meta Pixel

2 Oktober 2026

24 Jam Pertama setelah Vaksin, Apa yang Perlu Dipantau?

Ditulis oleh

avatar

Dhia Priyanka

Topik: Vaksin Anak, Vaksin Bayi Baru Lahir, KIPI, Imunisasi Dasar

Artikel ini telah divalidasi oleh dr. Lucyana Alim Santoso, Sp.A.

Pantau suhu, napas, kesadaran dan perilaku, kemampuan minum, buang air kecil, serta bekas suntikan anak selama 24 jam. Pantauan 24 jam pertama membantu MomDad mengenali reaksi ringan sekaligus bertindak cepat bila muncul tanda bahaya. Kementerian Kesehatan RI menganjurkan anak tetap di lokasi imunisasi selama 30 menit untuk observasi, sedangkan WHO menjelaskan bahwa sebagian besar efek samping vaksin bersifat ringan dan singkat. 


Mengapa 24 Jam Pertama Perlu Dipantau?

KIPI atau Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi adalah kejadian medis yang muncul setelah imunisasi. Kemunculannya setelah vaksin tidak otomatis membuktikan bahwa vaksin menjadi penyebab. Keluhan dapat berkaitan dengan respons tubuh terhadap vaksin, proses penyuntikan, kecemasan, atau penyakit lain yang kebetulan muncul bersamaan.

Pemantauan selama 24 jam membantu MomDad melihat pola perubahan kondisi anak dan memberikan informasi yang lebih akurat kepada dokter. Namun, 24 jam bukan batas mutlak. Reaksi campak atau MMR, misalnya, dapat baru muncul beberapa hari setelah imunisasi. Selalu baca lembar informasi vaksin dan ikuti petunjuk fasilitas kesehatan.


Checklist Pantauan 24 Jam setelah Vaksin

Yang dipantau

Umumnya ringan

Perlu tindakan segera

Suhu

Demam ringan, anak masih responsif

Demam dengan kejang, sangat lemas, atau tampak sakit berat

Pernapasan

Normal dan nyaman

Sesak, mengi, suara serak, kebiruan

Kesadaran

Rewel atau mengantuk tetapi mudah dibangunkan

Sulit dibangunkan, tidak sadar, kolaps

Minum dan urin

Masih mau minum; urin tetap ada

Menolak cairan, muntah berulang, urin jauh berkurang

Bekas suntikan

Nyeri, merah, atau bengkak ringan

Bengkak cepat meluas, sangat nyeri, bernanah

Alergi

Ruam lokal ringan

Biduran menyeluruh; wajah, bibir, atau lidah bengkak


Panduan Berdasarkan Waktu setelah Vaksin

1. 0–30 Menit: Tetap di Lokasi Imunisasi

Jangan langsung pulang. Gunakan masa observasi untuk melihat apakah muncul reaksi alergi berat, pingsan, atau keluhan mendadak lain. Anafilaksis sangat jarang, tetapi dapat berkembang cepat. Beri tahu petugas segera bila anak mengalami biduran menyeluruh, suara serak mendadak, mengi, kesulitan bernapas, wajah atau lidah membengkak, sangat pucat, lemas, atau kolaps.

Sebelum pulang, pastikan MomDad mengetahui nama vaksin yang diberikan, waktu pemberian, reaksi yang mungkin terjadi, perawatan di rumah, nomor yang dapat dihubungi, dan jadwal dosis berikutnya.

2. 30 Menit–6 Jam: Amati Kondisi Umum Anak

Setelah tiba di rumah, perhatikan apakah anak masih bisa berinteraksi, menyusu atau minum, dan bernapas dengan nyaman. Rewel, mengantuk, nyeri di bekas suntikan, atau sedikit kurang aktif dapat terjadi. Meski demikian, anak seharusnya masih dapat dibangunkan dan merespons seperti biasanya.

Periksa bekas suntikan tanpa memijatnya. Kemerahan, nyeri tekan, atau bengkak ringan dapat menjadi reaksi lokal yang wajar. Catat bila bengkak cepat membesar atau nyeri semakin berat.

3. 6–24 Jam: Pantau Suhu, Cairan, dan Perkembangan Keluhan

Ukur suhu dengan termometer jika anak terasa panas. Pantau seberapa sering anak minum atau menyusu dan apakah buang air kecil tetap seperti biasa. Amati apakah keluhan stabil, membaik, atau memburuk. Catat waktu mulai gejala, suhu tertinggi, obat yang diberikan, serta respons anak setelah perawatan.

Pada beberapa vaksin, reaksi ringan dapat berlangsung lebih dari 24 jam. Hubungi tenaga kesehatan bila keluhan menetap, memburuk, berbeda dari informasi yang diberikan petugas, atau membuat MomDad khawatir.


Apa Saja yang Perlu Dipantau?

1. Suhu Tubuh

Demam ringan dapat terjadi setelah beberapa jenis vaksin. Gunakan termometer dan catat angkanya, jangan hanya mengandalkan rabaan tangan. Pada bayi berusia kurang dari 3 bulan, suhu 38°C atau lebih perlu segera dikonsultasikan. Pada usia lain, kondisi umum anak sama pentingnya dengan angka suhu.

Segera minta penilaian bila demam tinggi, berlangsung lama, anak tampak sangat sakit, atau disertai kejang, leher kaku, ruam keunguan, sesak, maupun penurunan kesadaran.

2. Pernapasan dan Tanda Alergi

Pastikan anak bernapas tanpa tarikan dinding dada, mengi, suara serak mendadak, atau kebiruan. Reaksi alergi berat dapat terjadi tanpa ruam. Gangguan napas, bengkak pada wajah atau lidah, kolaps, serta kulit sangat pucat atau kebiruan adalah keadaan darurat.

3. Kesadaran dan Perilaku

Anak mungkin lebih rewel atau mengantuk, tetapi tetap harus bisa dibangunkan dan merespons. Waspadai anak yang sulit dibangunkan, tidak berinteraksi, menatap kosong, kejang, menangis terus-menerus dan tidak dapat ditenangkan, atau mendadak sangat lemah.

4. Minum, Menyusu, dan Buang Air Kecil

Nafsu makan dapat menurun sementara. Pastikan anak tetap mau menyusu atau minum dan masih buang air kecil. Hubungi dokter bila anak menolak semua cairan, muntah berulang, mulut sangat kering, tidak mengeluarkan air mata, atau popok jauh lebih jarang basah. Jangan memaksa minum jika anak tidak sadar, sedang kejang, atau mengalami gangguan napas.

5. Bekas Suntikan

Periksa apakah ada nyeri, kemerahan, atau bengkak. Reaksi lokal ringan biasanya membaik sendiri. Periksakan bila bengkak cepat meluas, kulit sangat panas, nyeri memburuk, muncul garis merah, keluar nanah, atau anak tidak dapat menggerakkan anggota tubuh seperti biasa karena nyeri berat.


Reaksi Ringan vs Tanda Bahaya

Reaksi ringan yang dapat dipantau meliputi nyeri atau kemerahan ringan di tempat suntikan, demam ringan, rewel, mengantuk, lemas ringan, dan nafsu makan yang sedikit menurun. WHO dan CDC menyatakan bahwa efek seperti ini umumnya singkat dan membaik dalam beberapa hari.

Cari pertolongan darurat bila muncul:

  1. kesulitan bernapas, mengi berat, suara serak mendadak, atau kebiruan;
  2. bengkak pada wajah, bibir, lidah, atau tenggorokan;
  3. kolaps, tidak sadar, sulit dibangunkan, atau kejang;
  4. tanda gangguan sirkulasi seperti sangat pucat, dingin, lemas, atau tidak responsif;
  5. gejala yang berkembang cepat atau membuat anak tampak sangat sakit.

Hubungi dokter atau fasilitas imunisasi pada hari yang sama bila demam atau nyeri tidak terkendali, anak tidak mau minum, muntah berulang, buang air kecil berkurang, bengkak meluas, keluhan memburuk, atau MomDad merasa ada sesuatu yang tidak wajar.


Perawatan Aman di Rumah setelah Vaksin

- Berikan Cairan dan Istirahat

Tawarkan ASI atau cairan sesuai usia lebih sering. Biarkan anak beristirahat, tetapi tetap periksa responsnya secara berkala. Pakaikan baju yang nyaman dan tidak terlalu tebal bila demam.

- Rawat Bekas Suntikan dengan Lembut

Kompres sejuk dengan kain bersih dapat membantu nyeri atau bengkak, kecuali petugas memberikan instruksi lain. Jangan memijat keras, memencet, menusuk, atau mengoleskan ramuan pada bekas suntikan.

- Gunakan Obat Hanya Sesuai Arahan

Jangan memberikan obat penurun demam secara rutin sebelum muncul keluhan, kecuali dokter menganjurkannya. Bila obat diperlukan, gunakan jenis dan dosis sesuai berat badan serta arahan tenaga kesehatan. Jangan memberikan aspirin kepada anak. Antibiotik dan obat alergi tidak diberikan tanpa penilaian dokter.

- Buat Catatan Pemantauan

Catat nama vaksin, lokasi dan waktu pemberian, suhu, waktu gejala mulai, kemampuan minum, jumlah buang air kecil, perubahan bekas suntikan, dan obat yang diberikan. Foto perubahan kulit atau bengkak bila diperlukan. Informasi ini membantu tenaga kesehatan menilai kondisi anak.


Reaksi yang Bisa Muncul setelah Lewat 24 Jam

Tidak semua reaksi terjadi pada hari pertama. IDAI menjelaskan bahwa demam atau ruam ringan setelah vaksin campak dan MMR dapat muncul sekitar 5–12 hari kemudian, sedangkan perubahan lokal setelah BCG dapat timbul beberapa minggu setelah imunisasi. Karena itu, simpan informasi vaksin dan lanjutkan pemantauan sesuai karakteristik vaksin.

Hubungi dokter bila keluhan berat, menetap, atau tidak sesuai dengan penjelasan petugas. KIPI juga dapat dilaporkan kepada fasilitas tempat imunisasi diberikan agar dinilai dan ditindaklanjuti.


Jangan Lupa Lanjutkan Jadwal Vaksinasi Anak

Banner-01.png

Setelah kondisi si Kecil kembali nyaman, jangan lupa cek kembali jadwal vaksin berikutnya agar perlindungannya tetap optimal. Beberapa vaksin memerlukan lebih dari satu dosis atau dosis lanjutan sesuai usia dan riwayat imunisasi anak.

MomDad juga bisa booking vaksin anak melalui PrimaKu di berbagai klinik partner. Pilih vaksin dan klinik yang tersedia, lalu sesuaikan jadwal kunjungan dengan kebutuhan si Kecil. Jangan lupa cek juga promo vaksin yang sedang berlangsung di PrimaKu agar vaksinasi jadi lebih praktis dan hemat. Cek promo vaksin PrimaKu di sini atau klik banner di atas.


FAQ tentang Pemantauan setelah Vaksin

Q: Apakah anak harus dibangunkan saat tidur setelah vaksin?

A: Tidak perlu membangunkan anak terus-menerus bila ia tidur nyaman, warna kulit normal, dan napas teratur. Namun, periksa secara berkala dan pastikan anak dapat dibangunkan serta merespons seperti biasanya. Sulit dibangunkan adalah tanda bahaya.


Q: Berapa suhu demam yang perlu dikhawatirkan?

A: Angka suhu harus dinilai bersama usia dan kondisi umum anak. Bayi di bawah 3 bulan dengan suhu 38°C atau lebih perlu segera dikonsultasikan. Pada anak yang lebih besar, hubungi dokter bila demam tinggi, menetap, anak tampak sangat sakit, atau muncul tanda bahaya.


Q: Bolehkah anak mandi setelah vaksin?

A: Umumnya boleh. Gunakan air dengan suhu nyaman, mandi singkat, dan hindari menggosok bekas suntikan. Tunda mandi bila anak sangat lemas atau menggigil, lalu bersihkan tubuh dengan cara yang nyaman.


Q: Apakah boleh langsung memberi parasetamol setelah vaksin?

A: Jangan memberikannya secara otomatis sebagai pencegahan kecuali dokter menganjurkan. Parasetamol dapat digunakan untuk demam atau nyeri bila sesuai usia, berat badan, dan arahan tenaga kesehatan. Pastikan dosisnya benar dan jangan menggabungkan produk dengan kandungan yang sama.


Q: Apakah anak boleh mendapat vaksin berikutnya jika pernah demam?

A: Demam ringan setelah vaksin sebelumnya biasanya bukan alasan otomatis untuk menghentikan vaksinasi. Sampaikan riwayat reaksi kepada dokter sebelum dosis berikutnya. Reaksi alergi berat atau KIPI serius memerlukan evaluasi khusus.


Selama 24 jam pertama setelah vaksin, pantau enam hal sederhana: suhu, napas dan tanda alergi, kesadaran serta perilaku, kemampuan minum, buang air kecil, dan kondisi bekas suntikan. Reaksi ringan umumnya membaik sendiri, tetapi perubahan yang cepat atau berat perlu ditangani segera.

Tetaplah mengikuti petunjuk khusus untuk vaksin yang diterima karena waktu munculnya reaksi berbeda-beda. Bila anak sesak, kebiruan, mengalami bengkak pada wajah atau lidah, kejang, kolaps, atau sulit dibangunkan, jangan menunggu konsultasi daring, langsung cari pertolongan darurat.


Referensi:

1. World Health Organization. Vaccines and Immunization: Vaccine Safety. WHO; 2025.

2. World Health Organization. Brief Overview of Anaphylaxis as an Adverse Event Following Immunization and Practical Guidance. WHO; 2021.

3. Centers for Disease Control and Prevention. Care for Your Child after Vaccinations. CDC; tanpa tahun.

4. Centers for Disease Control and Prevention. Possible Side Effects from Vaccines. CDC; 2024.

5. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Petunjuk Teknis Pelaksanaan Bulan Imunisasi Anak Nasional. Kemenkes RI; 2022.

6. Ikatan Dokter Anak Indonesia. Penjelasan kepada Orangtua Mengenai Imunisasi. IDAI; 2013.

7. Ikatan Dokter Anak Indonesia. Imunisasi Penting untuk Mencegah Penyakit Berbahaya. IDAI; 2013.