29 Juli 2026
Cara Merawat Luka BCG pada Bayi, Simak Panduannya!
Ditulis oleh

Dhia Priyanka
Topik: Vaksin BCG, BCG
Artikel ini telah divalidasi oleh dr. Dini Mirasanti, Sp.A.
Cara merawat luka BCG sebenarnya cukup sederhana karena luka kecil yang muncul setelah vaksinasi umumnya merupakan bagian dari reaksi normal tubuh terhadap vaksin. Menurut WHO dan Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), reaksi lokal ini dapat berkembang dari benjolan kecil menjadi pustula, lalu mengering menjadi keropeng sebelum akhirnya sembuh dan meninggalkan bekas luka kecil dalam beberapa minggu.
Perubahan tersebut sering membuat orang tua khawatir, terlebih jika luka tampak bernanah atau membentuk keropeng. Namun, selama tidak disertai tanda infeksi atau komplikasi lain, luka bekas vaksin BCG umumnya tidak membutuhkan obat khusus.
Yuk, pelajari tahapan penyembuhan luka BCG yang normal, enam langkah perawatan yang tepat, tanda-tanda yang perlu diwaspadai, serta kapan harus membawa bayi ke dokter!
Apa Itu Vaksin BCG?
BCG (Bacille Calmette-Guérin) adalah vaksin hidup yang dilemahkan untuk membantu melindungi anak dari tuberkulosis (TB), terutama bentuk TB berat seperti meningitis TB dan TB milier. BCG diberikan melalui suntikan intradermal, tepat di dalam lapisan kulit, biasanya pada lengan atas, sehingga reaksi lokal pada kulit sesudahnya juga cukup khas dibanding vaksin lain.
Apakah Luka Bekas Suntikan BCG Normal?
Ya. Menurut Australian Immunisation Handbook, setelah vaksin BCG biasanya terbentuk benjolan merah kecil yang dapat mengalami ulserasi sekitar 2–3 minggu setelah vaksinasi dan sembuh bertahap dalam beberapa minggu berikutnya.
Tahapan Penyembuhan Luka BCG
6 Cara Merawat Luka BCG pada Bayi
1. Biarkan Luka Sembuh Secara Alami
Hal terpenting dalam cara merawat luka BCG adalah tidak terlalu banyak melakukan intervensi. Jangan mempercepat penyembuhan dengan memencet luka atau mengelupas keropeng.
2. Jaga Area Luka Tetap Bersih
Area bekas vaksin boleh terkena air saat bayi mandi. Bersihkan lembut dengan air bersih dan sabun ringan bila diperlukan, lalu keringkan dengan menepuk perlahan menggunakan handuk bersih. Hindari menggosok luka.
3. Tidak Perlu Mengoleskan Obat Sembarangan
Pada reaksi BCG normal, luka biasanya tidak membutuhkan antibiotik, antiseptik, bedak, minyak, atau ramuan tertentu. Konsultasikan ke dokter sebelum menggunakan obat apa pun bila luka tampak berbeda dari reaksi normal.
4. Jangan Dipencet meskipun Tampak Bernanah
Pustula atau sedikit cairan pada bekas vaksin dapat menjadi bagian dari respons lokal normal. Jangan memencet luka, menusuk pustula dengan jarum, mengeluarkan cairan secara paksa, atau mengelupas keropeng, tindakan ini meningkatkan risiko infeksi sekunder.
5. Hindari Menutup Luka Terlalu Rapat
Luka BCG umumnya dapat dibiarkan terbuka agar tetap kering. Jika luka bergesekan dengan pakaian, tanyakan tenaga kesehatan mengenai penggunaan kasa bersih yang tidak menempel. Hindari plester kedap udara dalam waktu lama.
6. Pilih Pakaian yang Tidak Menggesek Luka
Gunakan pakaian bayi yang lembut dan tidak ketat pada bagian lengan agar tidak memicu iritasi atau perdarahan pada luka.
Jangan dilakukan: mengoleskan alkohol/antiseptik berulang, memberi bedak atau ramuan herbal, menusuk/memencet luka, mengelupas keropeng paksa, atau menutup luka dengan plester kedap udara.
Bedakan Reaksi Normal dan Tanda yang Perlu Diwaspadai
Kapan Luka BCG Perlu Diperiksa ke Dokter?
Segera konsultasikan ke dokter apabila:
- Luka semakin besar atau tampak sangat dalam
- Keluar nanah dalam jumlah banyak atau terus-menerus
- Kulit di sekitar luka semakin merah, panas, atau bengkak
- Bayi mengalami demam atau tampak tidak sehat
- Terbentuk benjolan besar di ketiak atau sekitar lengan yang disuntik
- Kelenjar getah bening membesar dan terasa lunak atau mengeluarkan cairan
- Luka tidak menunjukkan tanda penyembuhan dalam waktu lama
Reaksi berat setelah BCG tergolong jarang. Salah satu komplikasi yang dapat terjadi adalah limfadenitis regional atau abses lokal. Infeksi BCG yang menyebar ke seluruh tubuh sangat jarang dan terutama menjadi perhatian pada individu dengan gangguan sistem imun.
FAQ seputar Luka BCG pada Bayi
Q: Apakah luka BCG harus bernanah agar vaksin berhasil?
A: Tidak. Respons kulit berbeda-beda pada tiap bayi. Besar-kecilnya reaksi atau scar tidak menjadi ukuran langsung kekuatan perlindungan vaksin.
Q: Apakah bekas luka BCG harus selalu ada?
A: Tidak selalu. Tidak terbentuknya scar tidak otomatis berarti vaksin gagal, dan revaksinasi rutin tidak direkomendasikan hanya karena alasan ini.
Q: Apakah bayi boleh mandi setelah vaksin BCG?
A: Boleh. Air tidak mengurangi efektivitas vaksin karena vaksin sudah disuntikkan ke lapisan kulit. Hindari menggosok area luka.
Q: Berapa lama luka BCG sembuh?
A: Umumnya reaksi mulai terlihat dalam beberapa minggu setelah vaksinasi dan sembuh bertahap selama beberapa minggu berikutnya, bervariasi pada tiap bayi.
Q: Apakah luka BCG bisa menular ke anggota keluarga?
A: Tidak. Luka lokal akibat vaksin BCG bukan sumber penularan TB. Tuberkulosis menular melalui udara dari penderita TB paru/laring aktif, bukan dari scar BCG.
Cara merawat luka BCG pada bayi pada dasarnya adalah membiarkannya sembuh secara alami, menjaga area tetap bersih, dan menghindari tindakan yang dapat menyebabkan iritasi. Bayi tetap boleh mandi, dan orang tua tidak perlu memencet luka, mengelupas keropeng, atau mengoleskan obat tanpa rekomendasi dokter. Namun bila muncul tanda bahaya seperti luka membesar, nanah berlebihan, atau demam, segera periksakan ke dokter.
Referensi:
1. World Health Organization. BCG Vaccines: WHO Position Paper. Weekly Epidemiological Record; 2018.
2. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Jadwal Imunisasi Anak Rekomendasi IDAI; 2023.
3. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Petunjuk Teknis Imunisasi BCG dalam Program Imunisasi Nasional; 2022.
4. Australian Government Department of Health and Aged Care. Tuberculosis – The Australian Immunisation Handbook; Updated 2025.
5. Hesseling AC, Rabie H, Marais BJ, et al. Bacille Calmette-Guérin Vaccine-Induced Disease in HIV-Infected and HIV-Uninfected Children. Clinical Infectious Diseases; 2006;42(4):548–558.
6. Deeks SL, Clark M, Scheifele DW, et al. Serious Adverse Events Associated with Bacille Calmette-Guérin Vaccine in Canada. Pediatric Infectious Disease Journal; 2005;24(6):538–541.
7. Centers for Disease Control and Prevention. Tuberculosis and Mycobacteria Resources.



