15 Juli 2026
Jadwal Imunisasi Difteri pada Anak Lengkap Sesuai Usia
Ditulis oleh

Dhia Priyanka
Topik: jadwal imunisasi DPT anak, Difteri, Vaksinasi DPT, Vaksin DPT, efek samping vaksin DPT pada bayi
Artikel ini telah divalidasi oleh dr. Lucyana Alim Santoso, Sp.A.
Imunisasi difteri anak adalah salah satu vaksin wajib paling penting dalam program imunisasi nasional Indonesia. Difteri, infeksi bakteri yang dapat membentuk selaput tebal di tenggorokan hingga menyebabkan kematian, masih menjadi ancaman nyata: Indonesia pernah mencatat Kejadian Luar Biasa (KLB) difteri pada 2017–2018 yang menjangkau lebih dari 20 provinsi, sebagian besar menimpa anak yang belum mendapat imunisasi lengkap. WHO memperkirakan difteri menyebabkan lebih dari 16.000 kematian per tahun di seluruh dunia, mayoritas pada anak.
Apa Itu Difteri dan Mengapa Sangat Berbahaya?
Difteri adalah infeksi akut yang disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphtheriae. Bakteri ini menghasilkan eksotoksin yang menyerang jaringan lokal maupun organ jauh seperti jantung dan saraf. Yang membuat difteri sangat mematikan adalah kemampuannya membentuk pseudomembran, selaput putih keabu-abuan yang menempel erat di tenggorokan dan dapat menyumbat jalan napas.
■ Komplikasi Difteri yang Mengancam Jiwa:
• Sumbatan jalan napas akibat pseudomembran → anak tidak bisa bernapas → kematian
• Miokarditis (radang otot jantung) → aritmia, gagal jantung
• Kelumpuhan saraf (neuropati) → sulit menelan, lumpuh anggota gerak
• Trombositopenia dan gagal ginjal akut pada kasus berat
• Angka kematian kasus (CFR) difteri tanpa pengobatan mencapai 5–10% (WHO)
Bagaimana Difteri Menular?
Difteri sangat menular melalui droplet udara saat penderita batuk, bersin, atau berbicara. Bakteri juga dapat menyebar melalui kontak langsung dengan luka kulit penderita (difteri kulit). Masa inkubasi 2–5 hari, artinya anak yang terpapar dapat menularkan ke orang lain bahkan sebelum gejalanya terlihat.
Gejala Difteri pada Anak yang Perlu Diwaspadai:
Apa Itu Imunisasi Difteri?
Imunisasi difteri menggunakan toksoid difteri, yaitu toksin bakteri yang sudah dilemahkan (tidak aktif) sehingga aman untuk diberikan tetapi tetap merangsang sistem imun membentuk antibodi. Vaksin ini tidak pernah diberikan sebagai vaksin tunggal, melainkan selalu dalam kombinasi sesuai kelompok usia:
Jadwal Imunisasi Difteri Anak Lengkap (IDAI 2024)
Berikut jadwal lengkap imunisasi difteri dari lahir hingga remaja berdasarkan rekomendasi IDAI 2024 dan program imunisasi nasional Kemenkes RI:
Sumber: IDAI 2024 & Kemenkes RI. BIAS = Bulan Imunisasi Anak Sekolah. Jenis vaksin dapat disesuaikan dokter berdasarkan ketersediaan dankondisi anak.
Mengapa Imunisasi Difteri Harus Diberikan Berulang Kali?
Ini pertanyaan yang sering diajukan orang tua. Ada tiga alasan ilmiah yang kuat:
■ Fakta KLB Difteri di Indonesia:
• KLB difteri 2017–2018 menjangkau >20 provinsi dan ratusan kabupaten/kota.
• Mayoritas kasus terjadi pada anak yang tidak/belum lengkap mendapat imunisasi DPT.
• Respons: Kemenkes RI mencanangkan Outbreak Response Immunization (ORI) massal.
• Kejadian ini membuktikan bahwa difteri bisa kembali mewabah jika cakupan vaksin turun.
Efek Samping Imunisasi Difteri: Normal vs Perlu Diwaspadai
Efek Samping Ringan (Normal):
Sebagian besar efek samping vaksin DPT yang mengandung komponen difteri bersifat ringan dan membaik dalam 1–3 hari:
■ SEGERA ke IGD jika Muncul Tanda Berikut:
• Reaksi alergi berat (anafilaksis): sesak napas, bibir/wajah membengkak, biduran menyebar, biasanya dalam 15–30 menit setelah vaksin
• Menangis terus-menerus selama >3 jam tanpa henti (high-pitched cry)
• Kejang yang tidak berkaitan dengan demam
• Anak tampak sangat lemas, pucat, dan sulit dibangunkan
• Demam sangat tinggi (>40°C) yang tidak turun dengan obat
Jadwal Imunisasi Difteri Terlewat? Lakukan Imunisasi Kejar!
Tidak perlu mengulang dari nol. Dokter akan menyusun jadwal imunisasi kejar (catch-up immunization) berdasarkan usia anak dan dosis yang sudah diterima:
Difteri vs Radang Tenggorokan Biasa: Bagaimana Membedakannya?
Karena gejala awal difteri mirip dengan faringitis (radang tenggorokan) biasa, orang tua perlu mengenali perbedaan utamanya:
■ Jika Curiga Difteri, JANGAN Tunggu:
• Segera bawa ke IGD jika anak mengalami nyeri tenggorokan dengan selaput putih keabu-abuan.
• Difteri dapat menyebabkan sumbatan napas total dalam beberapa jam.
• Antitoksin difteri harus diberikan SECEPAT MUNGKIN, setiap jam keterlambatan meningkatkan risiko kematian.
• Difteri adalah penyakit yang wajib dilaporkan (notifiable disease) ke Dinas Kesehatan.
FAQ: Pertanyaan Orang Tua tentang Imunisasi Difteri
Q: Berapa kali imunisasi difteri harus diberikan?
A: Total 6 kali sepanjang masa anak hingga remaja: 3 dosis primer (usia 2, 3, 4 bulan), booster pertama (18 bulan), booster kedua (5–7 tahun melalui program BIAS), dan booster ketiga (10–18 tahun). Setelah dewasa, booster Td dianjurkan setiap 10 tahun untuk mempertahankan perlindungan terhadap difteri dan tetanus.
Q: Apakah booster difteri di usia sekolah benar-benar perlu?
A: Sangat perlu. Antibodi dari dosis primer bayi menurun signifikan setelah usia 5–7 tahun. KLB difteri 2017–2018 di Indonesia banyak menimpa anak usia sekolah yang tidak mendapat booster. Booster DT di kelas 1 SD (program BIAS Oktober) dan Td/Tdap di remaja adalah pertahanan yang tidak boleh dilewatkan.
Q: Apa beda DPT, DT, dan Tdap?
A: DPT (atau DPT-HB-Hib) diberikan untuk bayi berisi dosis penuh difteri, pertusis, dan tetanus. DT berisi difteri dan tetanus (tanpa pertusis) dalam dosis anak, untuk booster usia 5–7 tahun. Tdap berisi tetanus, difteri, dan pertusis dalam dosis lebih rendah, untuk remaja dan dewasa. Td berisi tetanus dan difteri dosis rendah, untuk booster dewasa tiap 10 tahun.
Q: Apakah anak yang sudah pernah kena difteri perlu imunisasi?
A: Ya. Infeksi difteri alami tidak selalu menghasilkan kekebalan jangka panjang yang cukup, dan beberapa individu yang sembuh dari difteri justru memiliki kadar antibodi yang rendah. IDAI dan WHO
tetap merekomendasikan imunisasi lengkap bahkan pada anak yang pernah mengalami difteri, setelah melewati masa pemulihan.
Q: Bolehkah imunisasi DPT diberikan bersamaan dengan vaksin lain?
A: Ya, dan ini direkomendasikan. DPT-HB-Hib (pentavalen) biasanya diberikan bersamaan dengan IPV (polio suntik), PCV (pneumokokus), dan rotavirus pada kunjungan usia 2, 3, dan 4 bulan. Pemberian bersamaan aman, efektif, dan tidak saling mengganggu, bahkan lebih menguntungkan karena mengurangi jumlah kunjungan.
Q: Apakah ibu hamil perlu vaksin difteri?
A: Ya. Vaksin Tdap sangat direkomendasikan untuk ibu hamil pada usia kehamilan 27–36 minggu. Antibodi ibu akan diteruskan ke bayi melalui plasenta, memberikan perlindungan awal terhadap pertusis (dan sebagian difteri) sejak bayi lahir, sebelum bayi bisa mendapat vaksin sendiri di usia 2 bulan.
Referensi:
[1] Ikatan Dokter Anak Indonesia. Jadwal Imunisasi Anak Rekomendasi IDAI 2024. IDAI; 2024.
[2] World Health Organization. Diphtheria Vaccines: WHO Position Paper. Weekly Epidemiological Record. 2017;92(31):417-436. [3] World Health Organization. Immunization Agenda 2030. WHO; 2024.
[4] Centers for Disease Control and Prevention. Diphtheria Vaccination. CDC; Updated 2024.
[5] Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Difteri. Kemenkes RI; Updated 2018. [6] Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Laporan KLB Difteri Indonesia 2017–2018. Kemenkes RI; 2018.
[7] American Academy of Pediatrics. Red Book: Report of the Committee on Infectious Diseases. 32nd ed. AAP; 2024–2027.
[8] Plotkin SA, Orenstein WA, Offit PA, Edwards KM. Plotkin's Vaccines. 8th ed. Elsevier; 2024.
[9] Hassel M, Patel MK, Danovaro-Holliday MC. Progress Toward Regional Measles Elimination, Worldwide, 2000–2022. MMWR Morb Mortal Wkly Rep. 2023;72(45):1222-1228.
[10] Galazka AM, Robertson SE, Oblapenko GP. Resurgence of Diphtheria. Eur J Epidemiol. 1995;11(1):95-105.







