
Angka Kecukupan Gizi Mikronutrien pada Anak
29 Jan 2026

Author: dr. Afiah Salsabila
29 Jan 2026
Topik: Guideline, Panduan, Nutrisi Anak, Angka Kebutuhan Gizi, Makronutrien
Latar Belakang
Masalah malnutrisi pada anak masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat di Indonesia, baik dalam bentuk kekurangan gizi maupun kelebihan gizi. Kekurangan asupan energi dan zat gizi esensial pada periode pertumbuhan dapat berdampak jangka panjang terhadap perkembangan fisik, kognitif, dan metabolik anak. Sebaliknya, asupan berlebih yang tidak sesuai kebutuhan juga meningkatkan risiko obesitas dan penyakit tidak menular di kemudian hari. Oleh karena itu, pemberian gizi seimbang dengan jumlah yang mencukupi sesuai usia dan kondisi fisiologis anak menjadi kunci utama pencegahan malnutrisi. Angka Kecukupan Gizi (AKG) disusun sebagai acuan ilmiah untuk membantu tenaga kesehatan dan keluarga dalam memenuhi kebutuhan gizi anak secara adekuat, dan di Indonesia ditetapkan secara resmi melalui Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 28 Tahun 2019. (1)
Angka Kebutuhan Energi dan Zat Gizi Anak
AKG merupakan estimasi rata-rata kebutuhan zat gizi harian yang mencukupi hampir seluruh individu sehat dalam suatu kelompok umur dan jenis kelamin tertentu. Berdasarkan Permenkes Nomor 28 Tahun 2019 (Lihat Tabel 1), kebutuhan energi anak meningkat seiring bertambahnya usia, sejalan dengan peningkatan berat badan, tinggi badan, aktivitas fisik, dan maturasi organ. Bayi usia 0–5 bulan membutuhkan sekitar 550 kkal per hari, sementara pada usia 6–11 bulan meningkat menjadi sekitar 800 kkal per hari. Pada usia balita 1–3 tahun, kebutuhan energi mencapai sekitar 1350 kkal per hari, dan terus meningkat hingga usia remaja, dengan variasi antara anak laki-laki dan perempuan. (1)
Kebutuhan protein pada anak bersifat krusial karena berperan dalam pertumbuhan jaringan, fungsi imun, dan pembentukan enzim serta hormon. AKG protein meningkat dari sekitar 9 g per hari pada bayi usia 0–5 bulan menjadi sekitar 20 g pada usia 1–3 tahun, dan dapat mencapai 70–75 g per hari pada remaja laki-laki usia 13–18 tahun. Lemak tetap menjadi sumber energi utama pada bayi dan anak kecil, dengan kontribusi yang menurun secara proporsional seiring usia, namun tetap penting sebagai sumber asam lemak esensial, termasuk omega-3 dan omega-6, yang mendukung perkembangan otak dan fungsi kognitif. Karbohidrat berfungsi sebagai sumber energi utama dan kebutuhannya meningkat progresif sesuai usia dan tingkat aktivitas anak. (1)
Tabel 1. AKG Anak berdasarkan Permenkes no 28 tahun 2019
Selain menggunakan Angka Kecukupan Gizi (AKG) harian yang ditetapkan oleh pemerintah sebagai acuan populasi, kebutuhan energi individu pada anak juga dapat diperkirakan secara lebih spesifik berdasarkan berat badan dan jenis kelamin. Perhitungan ini dilakukan dengan mengalikan berat badan ideal anak, yaitu berat badan pada titik p50 berdasarkan usia tinggi (height age), dengan AKG per kilogram berdasarkan usia tinggi anak. Rumus dapat dilihat pada Gambar 1 dan AKG per kg dapat dilihat pada Tabel 2. Pendekatan ini bermanfaat dalam praktik klinis untuk memperkirakan kebutuhan energi harian secara lebih individual, terutama pada anak dengan variasi ukuran tubuh atau kondisi klinis tertentu, selama tetap mempertimbangkan status gizi, tingkat aktivitas, dan kondisi medis yang menyertai. Presentase makronutrien juga disarankan untuk dibagi sebagai berikut: protein 10-15%, lemak 20-30%, dan 55-65% karbohidrat dengan membatasi gula sederhana maksimal 10-15% dari total energi. (3,4,5)
Gambar 1. Rumus kebutuhan kalori harian berdasarkan berat badan (1)
Tabel 2. AKG untuk bayi dan anak berdasarkan usia tinggi (3,4)
Pemenuhan Kebutuhan Gizi Berdasarkan Tahapan Usia
Pemenuhan AKG pada anak harus disesuaikan dengan tahap perkembangan dan kesiapan fisiologis sistem pencernaan. Pada usia 0–6 bulan, ASI eksklusif merupakan sumber gizi terbaik dan mencukupi seluruh kebutuhan energi serta zat gizi bayi. ASI dianjurkan untuk dilanjutkan hingga usia minimal 2 tahun, disertai dengan pemberian makanan pendamping ASI (MPASI) yang adekuat mulai usia 6 bulan. (2)
MPASI diberikan secara bertahap dengan memperhatikan tekstur, jumlah, dan frekuensi, serta kepadatan energi dan zat gizi, terutama protein, zat besi, dan lemak. Prinsip utama dalam pemenuhan gizi anak adalah mengutamakan jalur oral, memastikan variasi pangan, serta menyesuaikan porsi dengan kebutuhan individual anak. Pada kondisi tertentu, seperti gangguan pertumbuhan atau penyakit kronis, perhitungan kebutuhan energi dan protein dapat dilakukan secara lebih spesifik berdasarkan berat badan, tinggi badan, dan kondisi klinis anak. (2,3)
Kesimpulan dan Penutup
Angka kecukupan gizi merupakan landasan penting dalam upaya pencegahan dan penanggulangan malnutrisi pada anak di Indonesia. Penerapan AKG yang tepat, sesuai Permenkes No. 28 Tahun 2019 dan pedoman asuhan nutrisi pediatrik IDAI, memungkinkan pemenuhan kebutuhan energi dan zat gizi anak secara optimal. Peran dokter anak sangat krusial dalam menilai kebutuhan gizi individual, memberikan edukasi kepada keluarga, serta memantau tumbuh kembang anak secara berkesinambungan. Dengan pendekatan nutrisi yang berbasis bukti dan kebijakan nasional, diharapkan kualitas kesehatan dan potensi generasi mendatang dapat ditingkatkan secara berkelanjutan.
Ingin baca pembahasa lebih lanjut tentang pemenuhan gizi anak? Kunjungi artikel-artikel terkait berikut!
Daftar Pustaka