
Apakah GERD Berbahaya pada Anak?
4 Feb 2026

Author: dr. Afiah Salsabila
6 Jan 2026
Topik: Gula, Sugar Rush, ADHD, Ilmiah
Latar Belakang
Istilah sugar rush sering digunakan untuk menggambarkan kondisi anak yang tampak lebih aktif, gelisah, atau sulit dikendalikan setelah mengonsumsi makanan atau minuman tinggi gula. Dalam praktik sehari-hari, banyak orang tua meyakini bahwa gula dapat secara langsung memicu hiperaktivitas, perubahan mood, atau gangguan konsentrasi pada anak. Persepsi ini kerap memengaruhi pola asuh dan keputusan diet anak, termasuk pembatasan konsumsi gula secara ketat. Namun, apakah fenomena ini benar-benar terbukti secara ilmiah masih menjadi pertanyaan penting? Pemahaman yang tepat mengenai hal ini diperlukan agar dokter anak dapat memberikan edukasi yang akurat dan berbasis bukti kepada orang tua. (1)
Apakah Sugar Rush Benar-Benar Ada?
Sejumlah studi terkontrol telah meneliti efek konsumsi gula terhadap perilaku dan fungsi kognitif anak. Salah satu kajian paling kuat adalah meta-analisis oleh Wolraich dkk. yang mengevaluasi pengaruh gula terhadap perilaku dan kemampuan kognitif anak melalui studi intervensi double-blind dengan plasebo. Studi-studi yang dianalisis mencakup berbagai pengukuran, seperti observasi langsung perilaku, penilaian orang tua dan guru, tes akademik, serta fungsi motorik. (1)
Hasil meta-analisis tersebut menunjukkan bahwa konsumsi gula tidak memberikan pengaruh bermakna terhadap perilaku maupun performa kognitif anak. Seluruh hasil analisis menunjukkan effect size yang kecil dan tidak signifikan secara statistik, dengan confidence interval yang melintasi nol. Temuan ini konsisten pada berbagai kelompok usia, kondisi diet awal, serta pada anak dengan maupun tanpa gangguan perilaku. (1)
Keyakinan kuat orang tua terhadap sugar rush kemungkinan besar dipengaruhi oleh faktor ekspektasi. Anak sering mengonsumsi makanan manis pada situasi yang memang sudah merangsang secara emosional, seperti pesta ulang tahun atau acara keluarga. Dalam kondisi tersebut, peningkatan aktivitas anak lebih mungkin disebabkan oleh suasana dan interaksi sosial, bukan oleh efek biologis gula itu sendiri. (1)
Efek Gula terhadap Mood
Selain perilaku, efek gula terhadap mood juga sering menjadi perhatian. Belum lama ini, Mantantzis dkk. melakukan systematic review dan meta-analisis untuk menilai hubungan antara konsumsi karbohidrat akut, termasuk gula, dengan perubahan mood. Analisis ini mencakup 31 studi dengan lebih dari 1.200 partisipan. Hasilnya menunjukkan bahwa konsumsi karbohidrat tidak memberikan perbaikan mood pada waktu mana pun setelah konsumsi. Sebaliknya, dalam satu jam pertama setelah konsumsi, karbohidrat justru berhubungan dengan peningkatan rasa lelah dan penurunan kewaspadaan dibandingkan plasebo . (2) Temuan ini secara jelas membantah anggapan bahwa gula dapat meningkatkan energi atau memperbaiki suasana hati dalam jangka pendek.
Dengan demikian, istilah sugar rush sebagai kondisi peningkatan energi atau mood tidak didukung oleh bukti ilmiah yang kuat dan lebih tepat dianggap sebagai mitos yang berkembang di masyarakat.
Konsumsi Gula dan ADHD
Berbeda dengan efek akut gula, hubungan antara konsumsi gula jangka panjang dan gejala attention-deficit/hyperactivity disorder (ADHD) menunjukkan hasil yang lebih kompleks. Meta-analisis oleh Farsad-Naeimi dkk., yang mengevaluasi hubungan konsumsi gula dan minuman berpemanis dengan gejala ADHD berdasarkan studi observasional, menunjukkan bahwa adanya hubungan antara konsumsi gula dan minuman berpemanis dengan peningkatan risiko gejala ADHD, dengan odds ratio gabungan sebesar 1,22 (95% CI: 1,04–1,42). Namun, heterogenitas antar studi tergolong tinggi, dan seluruh studi yang dianalisis bersifat observasional . (3) Hal ini berarti hubungan tersebut tidak dapat diartikan sebagai hubungan sebab-akibat.
Faktor lain seperti pola makan keseluruhan, kualitas diet, gaya hidup sedentari, durasi tidur, serta faktor lingkungan dan genetik kemungkinan berperan penting dalam munculnya gejala ADHD. Oleh karena itu, temuan ini tidak dapat digunakan untuk mendukung konsep sugar rush, melainkan menunjukkan perlunya pendekatan holistik dalam memahami hubungan diet dan perilaku anak . (3)
Kesimpulan
Bukti ilmiah hingga saat ini menunjukkan bahwa sugar rush sebagai fenomena peningkatan perilaku hiperaktif atau perbaikan mood setelah konsumsi gula tidak terbukti secara ilmiah. Persepsi yang kuat di masyarakat lebih dipengaruhi oleh ekspektasi orang tua dan konteks lingkungan. Konsumsi gula juga tidak terbukti memperbaiki mood dan justru dapat meningkatkan rasa lelah dalam jangka pendek. Hubungan antara konsumsi gula dan ADHD bersifat asosiatif dan tidak menunjukkan hubungan kausal langsung.
Peran dokter anak sangat penting dalam meluruskan miskonsepsi ini, serta mengarahkan edukasi orang tua pada pola makan seimbang dan pembatasan gula untuk alasan kesehatan jangka panjang, bukan karena kekhawatiran terhadap sugar rush yang bersifat mitos.
Daftar Pustaka