
Indonesia Resmi Nyatakan KLB Polio Tipe 2 Berakhir Setelah Dua Tahun Upaya Pengendalian Intensif
25 Nov 2025

Author: dr. Afiah Salsabila
3 Mar 2026
Topik: KLB Campak, Campak, Berita
Belakangan ini, pemberitaan mengenai lonjakan kasus campak kembali menjadi perhatian publik. Ternyata, fenomena ini tidak hanya terjadi di satu atau dua negara, melainkan merupakan tren global. Organisasi internasional melaporkan bahwa kasus campak meningkat signifikan di berbagai wilayah dunia, seiring turunnya cakupan imunisasi dalam beberapa tahun terakhir . (1,2)
Berdasarkan laporan terbaru yang dirilis WHO dan dirangkum dalam pemantauan global, Indonesia kini menempati peringkat kedua dengan jumlah kasus campak terbanyak di dunia dalam periode enam bulan terakhir, hanya berada di bawah Yaman. Data tersebut juga dikonfirmasi oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), yang menyebut Indonesia sebagai negara dengan kasus campak tertinggi kedua secara global . (3)
Lonjakan ini mencerminkan kondisi yang mengkhawatirkan. UNICEF melaporkan bahwa kasus campak secara global sedang “spiking” atau melonjak tajam akibat gangguan program imunisasi rutin dan rendahnya cakupan vaksin pada banyak negara . (2) Sementara itu, CDC Amerika Serikat juga mencatat bahwa wabah campak kembali meningkat di berbagai kawasan akibat celah imunitas populasi . (1)
Campak dan Dampaknya pada Anak
Campak merupakan penyakit infeksi virus yang sangat menular, ditularkan melalui droplet pernapasan. Virus dapat bertahan di udara dan permukaan selama beberapa jam, sehingga risiko penularannya sangat tinggi pada populasi dengan cakupan vaksin rendah . (4) Gejala awal meliputi demam tinggi, batuk, pilek, konjungtivitis, dan bercak Koplik, diikuti ruam makulopapular khas. Pada sebagian kasus, terutama pada anak dengan gizi buruk atau imunitas rendah, komplikasi seperti pneumonia, ensefalitis, hingga kematian dapat terjadi . (4)
Kementerian Kesehatan RI bahkan melaporkan kematian puluhan anak akibat campak dalam periode wabah terbaru, sehingga mendorong pemerintah untuk mempercepat program imunisasi massal . (5)
Mengapa Cakupan Vaksin Menurun?
Berbagai faktor diduga berkontribusi terhadap penurunan cakupan imunisasi campak dalam beberapa tahun terakhir. Studi global menunjukkan bahwa tingkat cakupan vaksin campak dan kekebalan kelompok (herd immunity) memburuk dari tahun 2019 hingga 2023 . (6) Untuk mencegah transmisi campak secara efektif, diperlukan cakupan imunisasi minimal 95 persen dengan dua dosis vaksin.
Di Indonesia, beberapa faktor yang mungkin berperan antara lain:
Pertama, gangguan layanan kesehatan selama pandemi COVID-19 yang menyebabkan tertundanya imunisasi rutin. Kedua, kesenjangan akses layanan di daerah terpencil. Ketiga, meningkatnya keraguan terhadap vaksin (vaccine hesitancy) akibat disinformasi di media sosial. Keempat, mobilitas penduduk yang tinggi sehingga mempercepat transmisi virus pada kelompok rentan.
Kementerian Kesehatan RI mengakui bahwa peningkatan kasus berkaitan dengan turunnya cakupan imunisasi lengkap dan keterlambatan pemberian dosis lanjutan . (7)
Respons Pemerintah dan Strategi Ke Depan
Menghadapi situasi ini, pemerintah memperkuat deteksi dini kasus melalui surveilans aktif, mempercepat pelaporan kasus, dan meningkatkan cakupan imunisasi rutin maupun tambahan. Strategi vaksin nasional dapat dilihat pada Tabel 1. (7) Selain itu, kampanye imunisasi massal kembali digencarkan, terutama di wilayah dengan cakupan rendah.
Kemenkes juga mengingatkan pentingnya imunisasi lengkap dua dosis untuk mencegah kejadian luar biasa (KLB) campak . (8) Upaya ini melibatkan kolaborasi dengan pemerintah daerah, fasilitas kesehatan, serta organisasi profesi seperti IDAI untuk meningkatkan edukasi kepada masyarakat.
Strategi lain yang menjadi fokus adalah pemulihan layanan imunisasi rutin pascapandemi, penguatan sistem rantai dingin vaksin, serta komunikasi risiko yang lebih efektif guna mengatasi keraguan masyarakat terhadap vaksin.
Tabel 1. Indikator Sasaran Strategi Program Imunisasi Nasional untuk Tahun 2025-2029 (9)
Kesimpulan
Lonjakan kasus campak yang menempatkan Indonesia pada peringkat kedua tertinggi di dunia merupakan sinyal peringatan serius bagi sistem kesehatan nasional. Campak bukan sekadar penyakit dengan ruam dan demam, tetapi infeksi yang dapat berujung pada komplikasi berat dan kematian pada anak. Penurunan cakupan imunisasi menjadi faktor utama yang membuka celah terjadinya wabah.
Pemulihan cakupan vaksin hingga mencapai ambang herd immunity minimal 95 persen menjadi kunci utama pengendalian. Respons cepat pemerintah melalui imunisasi massal dan penguatan surveilans perlu didukung oleh edukasi publik yang konsisten dan berbasis bukti. Tanpa intervensi sistematis, risiko wabah berulang akan tetap mengintai, terutama pada populasi anak yang belum mendapatkan imunisasi lengkap.
Daftar Pustaka