
Indonesia Peringkat Kedua Kasus Campak Terbanyak di Dunia, Cakupan Vaksin Jadi Sorotan
3 Mar 2026

Author: dr. Afiah Salsabila
25 Nov 2025
Topik: KLB Polio, Polio, Imunisasi Polio
Jakarta, 19 November 2025 – Pemerintah Indonesia secara resmi mengumumkan berakhirnya Kejadian Luar Biasa (KLB) polio tipe 2, menandai keberhasilan dua tahun respons nasional untuk menghentikan sirkulasi poliovirus yang sebelumnya kembali terdeteksi akibat rendahnya cakupan imunisasi rutin. Pengumuman ini disampaikan Kementerian Kesehatan RI dan dikonfirmasi melalui rilis resmi dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).
Kasus polio tipe 2 pertama terdeteksi pada Oktober 2022 di Aceh dan dalam beberapa bulan menjalar ke provinsi lain termasuk Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Maluku Utara, Papua Tengah, Papua Pegunungan, dan Papua Selatan. Menurut Kemenkes, kasus terakhir dikonfirmasi pada 27 Juni 2024 di Papua Selatan.
Sejak Juni 2024 hingga saat pengumuman, tidak ditemukan lagi poliovirus baik pada anak maupun lingkungan, sehingga memenuhi kriteria penghentian KLB oleh WHO.
Untuk menekan penyebaran virus, pemerintah melaksanakan dua putaran imunisasi massal menggunakan nOPV2 dan melakukan penguatan imunisasi rutin. Hampir 60 juta dosis vaksin polio tambahan diberikan kepada anak-anak selama masa respon KLB.
WHO mencatat peningkatan signifikan cakupan vaksin polio inaktif (IPV) dari 63% pada 2023 menjadi 73% pada 2024, lonjakan yang berperan besar dalam memutus penularan. Selain itu, surveilans lumpuh layuh akut (AFP) serta pemeriksaan lingkungan turut ditingkatkan untuk memastikan tidak ada virus yang beredar secara tersembunyi.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyampaikan apresiasi kepada tenaga kesehatan dan masyarakat. “Kita berhasil menghentikan penyebaran polio di Indonesia berkat dedikasi tenaga kesehatan, komitmen orang tua dan seluruh anggota masyarakat agar anak-anak diimunisasi, serta dukungan mitra. Setiap anak berhak mendapatkan perlindungan. Kita harus terus bekerja sama agar polio tidak kembali dengan memastikan semua anak menerima imunisasi polio lengkap sesuai usia," ujarnya.
Direktur Regional WHO untuk Pasifik Barat, Saia Ma’u Piukala, menegaskan bahwa keberhasilan Indonesia merupakan langkah besar menuju dunia bebas polio, sembari mengingatkan pentingnya kewaspadaan berkelanjutan.
Meski status KLB telah dicabut, sejumlah tantangan tetap memerlukan perhatian serius. Cakupan imunisasi di beberapa provinsi masih belum merata, sehingga memberikan peluang bagi virus untuk kembali menyebar jika terdapat celah pada populasi yang tidak terlindungi. Tak hanya itu, upaya surveilans klinis dan lingkungan harus terus diperkuat agar potensi masuknya virus dari luar negeri dapat terdeteksi sedini mungkin. Edukasi kepada masyarakat juga tetap menjadi aspek penting, terutama dalam melawan hoaks dan misinformasi terkait vaksin yang dapat menurunkan kepercayaan dan kepatuhan imunisasi. Tanpa komitmen berkelanjutan pada ketiga aspek ini, risiko munculnya kembali polio akan selalu ada.
WHO mendorong Indonesia untuk terus memperkuat program imunisasi rutin dan memastikan keberlanjutan sistem deteksi dini agar wabah serupa tidak terulang.
Akhir dari KLB ini menjadi bukti keberhasilan kolaborasi antara pemerintah, tenaga kesehatan dan medis, tokoh masyarakat, serta warga Indonesia. Namun keberlanjutan capaian ini sangat bergantung pada komitmen publik untuk memastikan setiap anak menerima imunisasi lengkap sesuai jadwal.
Referensi