
Menutup Kesenjangan Akses Formulasi Obat Anak: Tantangan Global dan Solusi WHO

dr. Afiah Salsabila
25 Nov 2025

Ditulis oleh

dr. Afiah Salsabila
30 Apr 2026
Topik: World Immunization Week , Cakupan Imunisasi, Berita, Berita Internasional
Momentum World Immunization Week 2026 menjadi pengingat penting bahwa imunisasi tetap menjadi salah satu intervensi kesehatan paling efektif dalam melindungi anak dari penyakit yang dapat dicegah. Namun, di balik capaian yang terus berkembang, Indonesia masih menghadapi tantangan besar dalam memastikan setiap anak mendapatkan perlindungan yang optimal.
Data terbaru yang didukung oleh World Health Organization (WHO) menunjukkan bahwa cakupan imunisasi di Indonesia masih belum merata. Survei cakupan imunisasi tahun 2025 mengungkapkan bahwa hanya 56,4% anak usia 12–23 bulan yang mendapatkan imunisasi lengkap. Di sisi lain, vaksin-vaksin baru seperti pneumokokus dan rotavirus di luar wilayah Jawa dan Bali bahkan belum mencapai 40% cakupan. Kesenjangan ini semakin terlihat jelas ketika dibandingkan antar daerah, dengan cakupan yang bisa mencapai lebih dari 95% di satu provinsi, namun hanya beberapa persen di wilayah lain.
Temuan ini menegaskan bahwa tantangan imunisasi saat ini tidak lagi sekadar soal ketersediaan vaksin, tetapi juga terkait akses layanan, persepsi masyarakat, serta kualitas sistem pencatatan dan pelaporan. Ketidaksesuaian antara data administratif dan hasil survei lapangan turut menjadi hambatan dalam perencanaan program yang tepat sasaran.
Selain itu, penilaian terhadap sistem pencatatan imunisasi elektronik di Indonesia menunjukkan bahwa kualitas data yang terkumpul masih belum optimal. Masih ditemukan duplikasi data, dengan hanya sekitar 79% data yang bersih dari duplikasi. Akurasi pencatatan tanggal juga rendah, hanya mencapai 43,9%, sementara ketepatan waktu pelaporan sangat terbatas, yaitu sekitar 14,6%. Selain itu, kelengkapan data dalam pelaporan stok vaksin baru mencapai 32%.
Kondisi ini menunjukkan bahwa sistem pencatatan vaksin saat ini belum mampu memberikan data yang akurat dan tepat waktu, sehingga menyulitkan tenaga kesehatan dan pemangku kebijakan dalam mengidentifikasi kebutuhan imunisasi serta mengalokasikan sumber daya secara efektif.
Menjawab semua tantangan tersebut, pemerintah Indonesia, bersama berbagai mitra global seperti WHO, UNICEF, dan GAVI telah menyusun Strategi Imunisasi Nasional 2025–2029. Strategi ini berfokus pada perluasan cakupan imunisasi, penguatan layanan kesehatan, introduksi vaksin baru, serta peningkatan sistem surveilans dan manajemen rantai pasok. Pendekatan ini menekankan pentingnya koordinasi lintas sektor dan penggunaan data berbasis bukti dalam setiap pengambilan keputusan.
Menutup World Immunization Week tahun ini, satu pesan utama menjadi semakin jelas: Indonesia masih menghadapi sejumlah tantangan besar dalam program imunisasi. Dengan penguatan data, sistem yang lebih terintegrasi, serta kolaborasi lintas sektor yang lebih solid, upaya perbaikan ini perlu terus didorong agar lebih tepat sasaran. Karena pada akhirnya, keberhasilan program imunisasi tidak hanya diukur dari angka, tetapi dari kemampuan memastikan setiap anak, di mana pun mereka berada, mendapatkan perlindungan yang optimal.
Referensi
World Health Organization. Strengthening immunization evidence and strategy in Indonesia [Internet]. Jakarta: WHO; 2026