
Panduan Tanya Jawab Vaksin HPV dengan Pasien

dr. Afiah Salsabila
22 Jan 2026

Ditulis oleh

dr. Afiah Salsabila
7 Mei 2026
Topik: Takaran asupan gula, Panduan, Panduan MPASI, Gula, Takaran Gula
Latar Belakang
Konsumsi gula berlebih pada anak merupakan permasalahan kesehatan global yang terus mengalami eskalasi. Data dari berbagai studi epidemiologi menunjukkan bahwa anak-anak di seluruh dunia—baik di negara maju maupun berkembang—mengonsumsi gula jauh melebihi batas yang direkomendasikan oleh badan kesehatan internasional. Minuman berpemanis, makanan ultraproses, dan produk kemasan tinggi gula menjadi kontributor utama tingginya asupan gula bebas di kalangan pediatrik secara global.
Di Indonesia, situasi ini tidak kalah mengkhawatirkan. Indonesia tercatat sebagai negara dengan konsumsi minuman berpemanis (sugar-sweetened beverages/SSB) tertinggi ketiga di Asia Tenggara, mencapai 20,23 liter per orang. (1) Minuman berpemanis dikonsumsi setidaknya sekali seminggu oleh 62% anak-anak dan 72% remaja. (1) Permasalahan ini diperparah oleh beredarnya produk tinggi gula seperti susu kental manis (SKM) yang kerap disalahpersepsikan sebagai minuman susu bergizi oleh masyarakat. Pakar gizi dari IPB University, dr. Karina Rahmadia Ekawidyani, menjelaskan bahwa SKM mengandung gula sekitar 40–50% dari komposisinya, dengan kandungan sekitar 15 gram gula per takaran saji 30 gram, mendekati sepertiga batas asupan gula harian yang dianjurkan. (2)
Kondisi ini sangat mengkhawatirkan mengingat tingginya asupan gula pada masa anak dapat menimbulkan berbagai dampak buruk, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang, yang berpotensi menurunkan kualitas hidup generasi mendatang secara signifikan.
Dampak Buruk Asupan Gula Berlebih pada Anak
Dampak Jangka Pendek
Dalam jangka pendek, konsumsi gula berlebih berdampak pada peningkatan risiko karies dentis. Bukti ilmiah menunjukkan adanya hubungan dosis-respons antara asupan gula bebas dan kejadian karies, bahkan pada tingkat konsumsi di bawah 5% dari total energi harian. (3) Selain itu, asupan gula tinggi menyebabkan lonjakan glukosa darah yang diikuti oleh penurunan tajam (reactive hypoglycemia), yang berkontribusi pada gangguan konsentrasi, iritabilitas, dan penurunan performa kognitif pada anak usia sekolah. Gangguan pola makan juga dapat terjadi akibat preferensi berlebih terhadap rasa manis yang menggeser asupan makanan bergizi.
Dampak Jangka Panjang
Dampak jangka panjang dari asupan gula berlebih pada anak jauh lebih serius. Konsumsi SSB yang tinggi secara konsisten dikaitkan dengan peningkatan risiko obesitas, penyakit kardiovaskular, dan diabetes melitus tipe 2 di kemudian hari. (1) Tinjauan sistematis yang dikutip dalam kebijakan kesehatan Indonesia menegaskan bahwa penyakit tidak menular (PTM) seperti kardiovaskular dan diabetes tipe 2 berkaitan erat dengan konsumsi SSB yang tidak terkontrol. (1) Di samping itu, kelebihan gula yang disimpan sebagai lemak viseral meningkatkan beban kardiometabolik jangka panjang. Anak yang tumbuh dengan pola makan tinggi gula dan rendah zat gizi esensial juga berisiko mengalami defisit pertumbuhan, termasuk stunting akibat displacement nutrisi yang adekuat oleh kalori kosong.
Rekomendasi WHO
Panduan WHO tahun 2015 tentang asupan gula bagi orang dewasa dan anak memberikan rekomendasi yang jelas berbasis bukti. WHO merekomendasikan secara kuat (strong recommendation) agar asupan gula bebas (free sugars) baik pada orang dewasa maupun anak-anak diturunkan hingga kurang dari 10% dari total asupan energi harian. (3) Lebih lanjut, WHO memberikan rekomendasi kondisional untuk menurunkan asupan gula bebas hingga di bawah 5% dari total energi—setara dengan sekitar 25 gram atau 6 sendok teh per hari—demi memperoleh manfaat kesehatan tambahan, terutama dalam hal pencegahan karies dentis. (3)
Gula bebas yang dimaksud mencakup monosakarida dan disakarida yang ditambahkan pada makanan dan minuman oleh produsen, juru masak, maupun konsumen, serta gula yang secara alami terkandung dalam madu, sirup, jus buah, dan konsentrat jus buah. (3) Definisi ini penting untuk dipahami dalam konteks edukasi pasien, mengingat banyak orang tua yang belum menyadari bahwa produk seperti jus kemasan dan SKM masuk dalam kategori gula bebas.
WHO juga secara tegas mendorong para pembuat kebijakan untuk mengambil langkah aktif dalam membatasi promosi produk tinggi gula yang tidak sesuai, terutama yang ditujukan kepada anak-anak. (3) Rekomendasi kebijakan ini meliputi pemberian label gizi yang informatif, pembatasan iklan produk tinggi gula bebas di media yang menyasar anak, kebijakan fiskal terhadap SSB, serta dialog aktif dengan produsen pangan untuk mengurangi kandungan gula bebas dalam produk olahan. (3) Dalam konteks Indonesia, regulasi pemasaran SSB yang masif di televisi—termasuk slot iklan pada waktu siaran program anak—merupakan celah yang perlu segera diatasi melalui intervensi kebijakan yang lebih ketat. (1)
Peran Dokter dalam Edukasi dan Tata Laksana Nutrisi
Sebagai garda terdepan dalam pelayanan kesehatan anak, dokter spesialis anak memiliki peran strategis dalam membentuk pola makan yang sehat sejak dini. Edukasi kepada orang tua dan pengasuh perlu dilakukan secara konsisten pada setiap kunjungan pediatrik, mencakup pemahaman tentang batas asupan gula yang aman, identifikasi sumber gula tersembunyi dalam produk komersial, serta dampak kesehatan jangka panjang dari konsumsi gula berlebih.
Dalam praktik klinis, disarankan agar dokter anak tidak hanya membatasi diri pada anjuran pembatasan gula semata, tetapi juga secara aktif mendorong konsumsi makanan yang lebih padat nutrisi (nutrient-dense foods). Pola makan yang kaya protein berkualitas tinggi—dari sumber seperti telur, ikan, daging tanpa lemak, serta kacang-kacangan—terbukti memberikan rasa kenyang lebih lama dan mengurangi kecenderungan konsumsi camilan manis. Selain itu, konsumsi serat dari buah dan sayuran utuh (whole foods) perlu dianjurkan secara spesifik, mengingat serat tidak hanya berperan dalam kesehatan pencernaan tetapi juga memperlambat absorpsi gula dan menstabilkan kadar glukosa darah.
Pendekatan berbasis makanan utuh (whole food approach) lebih disarankan dibandingkan sekedar menghitung gram gula, karena memberikan kerangka yang lebih mudah dipahami dan diimplementasikan oleh keluarga. Dokter anak dapat menyarankan agar porsi terbesar piring anak terdiri dari sayuran dan buah segar, dilengkapi sumber protein adekuat dan biji-bijian utuh, serta meminimalkan produk ultraproses yang secara inheren tinggi gula tambahan dan rendah mikronutrien esensial.
Kesimpulan dan Penutup
Tingginya asupan gula pada anak merupakan tantangan kesehatan masyarakat yang memerlukan respons terpadu dari seluruh pemangku kepentingan, termasuk komunitas medis. Dokter spesialis anak di Indonesia berada pada posisi yang sangat krusial untuk mengintervensi pola makan sejak awal kehidupan, memberikan edukasi berbasis bukti kepada keluarga, dan mendukung implementasi kebijakan yang melindungi anak dari paparan produk tinggi gula secara berlebih.
Rekomendasi WHO yang menganjurkan pembatasan gula bebas hingga kurang dari 10%—dan idealnya di bawah 5%—dari total energi harian hendaknya dijadikan acuan klinis dalam konseling gizi pediatrik. Lebih dari sekadar membatasi gula, pendekatan holistik yang mendorong pola makan padat nutrisi, kaya protein dan serat, serta berbasis makanan utuh merupakan strategi yang lebih komprehensif dan berkelanjutan dalam membentuk generasi anak Indonesia yang sehat dan optimal perkembangannya.
Referensi
1. Fanda RB, Salim A, Muhartini T, Utomo KP, Dewi SL, Abou Samra C. Tackling High Consumption of Sugar Sweetened Beverages (SSB) in Indonesia. CHPM Policy Brief. Yogyakarta: Center for Health Policy and Management, FK-KMK UGM; 2020. Tersedia dari: https://dask.kebijakankesehatanindonesia.net/wp-content/uploads/2021/08/2020-POLICY-BRIEF-Tackling-High-Consumption-of-Sugar-Sweetened-Beverages-SSB-in-Indonesia.pdf
2. Ekawidyani KR. Ahli ingatkan bahaya kasih susu kental manis setiap hari ke anak [Internet]. CNBC Indonesia. 27 Maret 2026 [dikutip 5 Mei 2026]. Tersedia dari: https://www.cnbcindonesia.com/lifestyle/20260327141409-33-721907/ahli-ingatkan-bahaya-kasih-susu-kental-manis-setiap-hari-ke-anak
3. World Health Organization. Guideline: Sugars Intake for Adults and Children [Internet]. Geneva: WHO; 2015 [dikutip 5 Mei 2026]. Tersedia dari: https://iris.who.int/server/api/core/bitstreams/4be74f01-de93-4596-bbd1-02a97afb1221/conten