
Tatalaksana Possible Serious Bacterial Infection pada Anak Menurut WHO
13 Sep 2025

Author: dr. Afiah Salsabila
19 Feb 2026
Topik: Asma
Latar Belakang
Eksaserbasi asma merupakan perburukan akut atau subakut gejala dan fungsi paru dibandingkan kondisi dasar pasien, dan dapat berkembang cepat menjadi keadaan yang mengancam jiwa. Pada populasi anak, eksaserbasi tetap menjadi penyebab utama kunjungan gawat darurat dan rawat inap, serta berkontribusi terhadap mortalitas yang sebenarnya dapat dicegah. Beberapa pasien bahkan dapat mengalami perburukan berat meskipun sebelumnya hanya memiliki gejala ringan atau jarang. Oleh karena itu, pembaruan pengetahuan mengenai tata laksana terkini sangat penting bagi dokter anak. Global Initiative for Asthma (GINA) 2025 menekankan pendekatan yang sistematis, berbasis algoritme, dan terintegrasi dari fase penilaian awal hingga tindak lanjut pasca-pemulangan.
Identifikasi dan Penilaian Derajat Berat
Langkah pertama dalam tata laksana adalah memastikan bahwa pasien benar mengalami eksaserbasi asma dan bukan kondisi lain seperti anafilaksis, aspirasi benda asing, emboli paru, atau disfungsi jalan napas atas. Setelah diagnosis kerja ditegakkan, penilaian derajat berat harus dilakukan segera sambil terapi awal dimulai. Parameter yang dinilai meliputi derajat sesak napas, kemampuan berbicara, frekuensi napas, penggunaan otot bantu napas, frekuensi nadi, saturasi oksigen, serta fungsi paru bila memungkinkan melalui PEF atau FEV₁.
GINA 2025 mengklasifikasikan eksaserbasi menjadi ringan–sedang, berat, dan mengancam jiwa. Kategori ini ditentukan berdasarkan fitur terburuk yang ditemukan saat evaluasi. Penentuan derajat berat sangat penting karena akan menentukan intensitas terapi dan kebutuhan rujukan. Untuk kriteria rinci tiap kategori, pembaca dianjurkan merujuk langsung pada tabel klasifikasi dalam Bagan 1.
Tata Laksana Awal di Fasilitas Primer dan Gawat Darurat
Setelah penilaian awal, terapi bronkodilator harus segera diberikan. SABA melalui pMDI dengan spacer tetap menjadi pilihan utama, dengan pemberian dosis berulang setiap 20 menit pada jam pertama, kemudian disesuaikan berdasarkan respons klinis. Pada eksaserbasi berat, ipratropium bromide inhalasi dapat ditambahkan pada fase awal untuk meningkatkan efek bronkodilatasi. GINA 2025 menegaskan bahwa pMDI dengan spacer efektif dan tidak inferior dibanding nebulisasi pada sebagian besar kasus, sehingga pemilihan metode harus mempertimbangkan kondisi klinis dan ketersediaan fasilitas. (1)
Pemberian oksigen dilakukan bila saturasi di bawah target. Pada anak usia 6–12 tahun, target saturasi adalah ≥94%. Perlu diingat bahwa pulse oximetry dapat overestimate saturasi pada pasien hipoksemik dengan kulit gelap, sehingga interpretasi klinis tetap harus dikedepankan.
Kortikosteroid sistemik harus diberikan pada eksaserbasi sedang hingga berat atau bila respons terhadap bronkodilator awal kurang adekuat. Dosis prednisolone yang direkomendasikan pada anak adalah 1–2 mg/kgBB/hari hingga maksimal 40 mg, diberikan selama 3–5 hari. GINA 2025 menegaskan bahwa terapi kortikosteroid oral kurang dari dua minggu tidak memerlukan tapering. Kortikosteroid sistemik terbukti life-saving pada eksaserbasi berat, namun penggunaan berulang meningkatkan risiko efek samping sehingga optimalisasi terapi kontrol menjadi sangat penting.
Pada fasilitas dengan kemampuan layanan akut lanjutan, magnesium sulfat intravena dapat dipertimbangkan pada pasien yang tidak menunjukkan respons adekuat terhadap terapi intensif awal.
Evaluasi Respons dan Keputusan Rawat Inap
Respons terapi harus dievaluasi dalam satu jam pertama dan secara berkala setelahnya. Perburukan klinis, hipoksemia persisten, penurunan kesadaran, atau temuan silent chest merupakan indikasi untuk rujukan segera ke fasilitas akut atau perawatan intensif. Keputusan rawat inap ditentukan berdasarkan kombinasi status klinis, fungsi paru, respons terhadap terapi awal, riwayat eksaserbasi sebelumnya, serta kemampuan keluarga dalam melakukan perawatan di rumah.
Pasien dapat dipertimbangkan untuk dipulangkan bila gejala membaik, kebutuhan SABA menurun, fungsi paru mencapai minimal 60–80% prediksi atau nilai terbaik pribadi, saturasi adekuat di udara ruangan, dan tersedia dukungan keluarga yang memadai. Kriteria rinci sebaiknya dikonfirmasi kembali pada algoritme pemulangan dalam Bagan 1.
Tata Laksana Lanjutan dan Pencegahan Kekambuhan
Sebelum pasien dipulangkan, dokter harus memastikan bahwa terapi pemeliharaan yang mengandung inhaled corticosteroid (ICS) diresepkan atau dioptimalkan. GINA 2025 semakin menekankan pentingnya terapi berbasis ICS sejak awal untuk mengurangi risiko eksaserbasi berulang, serta membatasi ketergantungan terhadap SABA saja. Evaluasi teknik inhaler dan kepatuhan harus dilakukan secara aktif, karena kesalahan teknik merupakan penyebab umum kegagalan kontrol.
Setiap pasien harus menerima written asthma action plan yang jelas dan mudah dipahami. Tindak lanjut direkomendasikan dalam 1–2 hari kerja pada anak, untuk memastikan resolusi eksaserbasi dan menilai kebutuhan penyesuaian terapi jangka panjang.
Bagan 1. Algoritma penanganan eksaserbasi asma akut menurut pedoman GINA 2025
Kesimpulan
Eksaserbasi asma pada anak merupakan kondisi yang berpotensi fatal apabila tidak ditangani secara sistematis. GINA 2025 menekankan pendekatan runut yang dimulai dari penilaian derajat berat, pemberian bronkodilator dan kortikosteroid sistemik secara tepat waktu, evaluasi respons dalam satu jam pertama, hingga optimalisasi terapi kontrol sebelum pemulangan. Dokter anak dan tenaga kesehatan dianjurkan untuk secara aktif merujuk pada algoritme dan tabel dosis dalam pedoman saat menangani kasus, karena implementasi yang konsisten terhadap pendekatan berbasis ICS dan action plan tertulis terbukti menurunkan risiko kekambuhan dan rawat inap berulang. (1)
Referensi
Global Initiative for Asthma (GINA). Global Strategy for Asthma Management and Prevention. 2025 Update. Available from: https://ginasthma.org/wp-content/uploads/2025/11/GINA-Summary-Guide-2025-WEB_FINAL-WMS.pdf