Avoidant Restrictive Food Intake Disorder (ARFID) pada Anak: Bukan Picky-Eating Biasa!
Author: dr. Afiah Salsabila
21 Jul 2025
Topik: ARFID, Gangguan Makan, Picky Eater, Picky eating, Mental Anak, Kesehatan Mental
Latar Belakang
Avoidant/Restrictive Food Intake Disorder (ARFID) merupakan klasifikasi gangguan makan yang secara resmi diperkenalkan dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders edisi kelima (DSM-5) tahun 2013. Berbeda dengan anoreksia nervosa (AN) atau bulimia nervosa (BN), ARFID tidak melibatkan kekhawatiran terhadap pertambahan berat badan atau distorsi citra tubuh. [1] Namun demikian, gangguan ini dapat menimbulkan dampak klinis yang serius berupa malnutrisi, gangguan pertumbuhan, keterlambatan pubertas, serta disfungsi psikososial yang signifikan. [2]
Definisi dan Kriteria Klinis
Menurut DSM-5, diagnosis ARFID ditegakkan bila terdapat gangguan makan atau pola makan yang menyebabkan salah satu atau lebih dari kondisi berikut [2]:
Kriteria A menunjukkan adanya gangguan makan atau pola makan yang dikaitkan dengan paling sedikit satu dari kondisi berikut: penurunan berat badan yang signifikan, defisiensi nutrisi yang bermakna, ketergantungan pada nutrisi enteral atau suplemen oral seperti formula nutrisi, serta gangguan bermakna dalam fungsi psikososial. Gangguan makan ini dapat disebabkan oleh:
- Nafsu makan rendah dan tidak berminat terhadap makanan
- Penghindaran makanan atau pilihan makanan yang sangat terbatas akibat sensitivitas sensorik (misalnya terhadap bau, rasa, atau tekstur)
- Penghindaran atau restriksi makan yang terkait dengan ketakutan terhadap konsekuensi makan (seperti tersedak, muntah, atau mual)
Kriteria B menyatakan bahwa gangguan makan tersebut tidak disebabkan oleh praktik keagamaan atau budaya, maupun oleh keterbatasan akses terhadap makanan.
Kriteria C menyatakan bahwa gangguan makan tersebut tidak disebabkan oleh gangguan makan lain seperti anoreksia nervosa atau bulimia nervosa, yang ditandai dengan tidak adanya gangguan citra tubuh atau obsesi terhadap berat badan.
Kriteria D menyatakan bahwa gangguan makan tersebut tidak lebih baik dijelaskan oleh kondisi psikiatri atau medis lainnya (misalnya penyakit saluran cerna atau keganasan) yang dapat menjelaskan gejala secara lebih tepat.
Perbedaan dengan Picky Eating
Permasalahan utama yang sering dihadapi di lapangan adalah membedakan ARFID dari picky eating yang umum terjadi sebagai bagian dari perkembangan normal anak. Picky eating fisiologis biasanya muncul pada usia balita dan cenderung membaik seiring perkembangan usia serta paparan berulang pada makanan yang sebelumnya ditolak. Sebaliknya, anak dengan ARFID menunjukkan pola restriksi makan yang menetap dan tidak membaik meski telah dilakukan upaya paparan ulang, bahkan dapat mengganggu status gizi anak. Tak hanya itu, anak dengan picky eating cenderung tetap memiliki pertumbuhan linear yang sesuai dan tidak menunjukkan adanya disfungsi sosial. Sebaliknya, ARFID ditandai oleh dampak klinis yang signifikan terhadap status nutrisi atau interaksi sosial, serta tidak membaik tanpa intervensi medis dan psikologis yang terstruktur. [3]
Etiologi dan Patofisiologi
Mekanisme neurobiologis ARFID masih belum sepenuhnya dipahami, namun model terkini menyarankan bahwa gangguan ini melibatkan tiga domain utama: disregulasi homeostasis nafsu makan, peningkatan valensi negatif seperti kecemasan, dan abnormalitas pemrosesan sensorik. Faktor-faktor ini dapat berinteraksi dan diperkuat oleh pengalaman makan traumatik atau riwayat medis tertentu, seperti refluks, tersedak, atau muntah berulang. [4]
ARFID juga sering berkaitan dengan gangguan neurodevelopmental, terutama autism spectrum disorder (ASD) dan attention-deficit/hyperactivity disorder (ADHD). [2] Data menunjukkan bahwa prevalensi ASD pada pasien dengan ARFID cukup tinggi, dan kelompok ini cenderung memiliki subtipe berbasis sensorik dengan durasi penyakit yang lebih panjang. Demikian pula, komorbiditas dengan gangguan cemas ditemukan pada >60% anak dengan ARFID. [4]
Tatalaksana
Pendekatan terhadap ARFID harus bersifat multidisipliner. Dokter anak berperan penting dalam deteksi dini dan eliminasi diagnosis banding, termasuk kondisi medis kronis seperti kelainan saluran cerna atau gangguan endokrin. Evaluasi harus mencakup riwayat pertumbuhan, perilaku makan sejak dini, serta dampaknya terhadap status gizi dan fungsi sosial anak. [1, 2]
Penanganan melibatkan kolaborasi antara dokter anak, psikiater anak dan remaja, psikolog klinis, ahli gizi, terapis okupasi, dan terapis wicara (untuk menilai kemampuan menelan) bila diperlukan. Modalitas psikoterapi utama yang telah menunjukkan efektivitas adalah Cognitive Behavioral Therapy for ARFID (CBT-AR) dan Family-Based Therapy (FBT), terutama pada populasi anak dan remaja. [2]
Indikasi perawatan rawat inap pada pasien anak dan remaja dengan ARFID meliputi IMT kurang dari 75% dari median usia dan jenis kelamin, tanda-tanda dehidrasi, gangguan elektrolit seperti hipokalemia, hiponatremia, atau hipofosfatemia, serta kelainan EKG termasuk perpanjangan interval QTc atau bradikardia. Tanda ketidakstabilan fisiologis mencakup bradikardia di siang hari (<50 bpm) atau malam hari (<45 bpm), hipotensi (<90/45 mmHg), hipotermia (<35,6 °C), serta perubahan ortostatik yang bermakna seperti peningkatan denyut jantung >30–40 bpm atau penurunan tekanan darah >20/10 mmHg. Selain itu, perawatan rawat inap dipertimbangkan pada kasus dengan gangguan pertumbuhan dan perkembangan, kegagalan terapi rawat jalan, penolakan makan berat, komplikasi medis akut akibat malnutrisi seperti pingsan, kejang, gagal jantung, atau pankreatitis, serta adanya komorbid psikiatrik atau medis yang menyulitkan perawatan rawat jalan, termasuk depresi berat, ide bunuh diri, gangguan obsesif kompulsif, psikosis, atau diabetes melitus tipe 1. [2] Rawat inap diperlukan untuk stabilisasi medis dan refeeding yang diawasi untuk mencegah komplikasi seperti refeeding syndrome. Nutrisi enteral dapat digunakan, namun penggunaannya harus dipantau secara ketat untuk mencegah ketergantungan dan komplikasi gastrointestinal jangka panjang. [1][2]
Dalam beberapa kasus, farmakoterapi dengan selective serotonin reuptake inhibitors (SSRIs) atau antipsikotik dosis rendah seperti olanzapine telah digunakan sebagai adjuvan, terutama untuk mengurangi kecemasan makan atau memperbaiki nafsu makan, meskipun bukti efektivitasnya masih terbatas. [2]
Kesimpulan
ARFID merupakan entitas diagnostik yang kompleks, dengan presentasi klinis yang sering kali didiagnosis sebagai penyakit serupa. Dokter anak perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap gangguan ini, terutama pada anak yang mengalami gangguan makan persisten disertai gangguan pertumbuhan, ketergantungan nutrisi tambahan, atau gangguan sosial. Pendekatan interdisipliner dan rujukan tepat waktu ke spesialis psikiatri anak dan ahli gizi sangat penting untuk mengoptimalkan pemulihan jangka panjang dan kualitas hidup anak.
Daftar Pustaka
- Ramirez Z, Gunturu S. Avoidant Restrictive Food Intake Disorder. [Updated 2024 May 1]. In: StatPearls [Internet]. Treasure Island (FL): StatPearls Publishing; 2025 Jan-. Available from: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK603710/
- Seetharaman S, Fields EL. Avoidant and Restrictive Food Intake Disorder. Pediatr Rev. 2020;41(12):613–622. doi:10.1542/pir.2019-0133.
- Dovey TM, et al. Eating behaviour, behavioural problems and sensory profiles of children with avoidant/restrictive food intake disorder (ARFID), autistic spectrum disorders or picky eating. Eur Psychiatry. 2019;61:56–62.
- Fonseca NKO, et al. Avoidant restrictive food intake disorder: recent advances in neurobiology and treatment. J Eat Disord. 2024;12:74.
