Air Liur Berlebihan pada Bayi: Berbahayakah?
22 Jul 2017

Author: dr. Afiah Salsabila
25 Mar 2025
Topik: Telinga, Gangguan Pendengaran, Game Online, Video Game
Banyak video game, terutama yang populer di kalangan anak-anak dan remaja, menggunakan efek suara dengan volume tinggi untuk menciptakan pengalaman yang imersif dan menyenangkan. Sayangnya, paparan suara dengan volume besar dalam jangka waktu yang lama dapat berpotensi mengganggu fungsi pendengaran. Untuk menanggapi hal ini, World Health Organization (WHO) dan International Telecommunication Union (ITU) mempublikasikan standar global pertama untuk safe listening dalam bermain video game dan aktivitas e-sport yang dapat menjadi panduan bagi industri game dan pemangku-pemangku kepentingan terkait untuk menghasilkan produk game yang meminimalisir gangguan pendengaran pada pemain game.[1]
Gangguan Pendengaran dan Penggunaan Video Game
Berdasarkan tinjauan sistematis yang dilakukan oleh Dillard et al.[2] prevalensi bermain game di kalangan anak-anak dan dewasa muda bervariasi antara 20% hingga 78% tergantung pada kelompok usia dan wilayah geografis. Anak laki-laki cenderung bermain lebih lama dibandingkan anak perempuan dan sering menggunakan perangkat audio seperti headphone dengan volume tinggi. Studi ini juga menunjukkan bahwa rata-rata waktu bermain game anak-anak mencapai 3 hingga 4 jam per minggu. Selain itu, beberapa anak ditemukan bermain video game dengan durasi lebih lama dari teman-teman sebayanya. Dengan volume suara yang sering kali melebihi 80 dB, durasi paparan yang berkepanjangan ini dapat meningkatkan risiko gangguan pendengaran yang signifikan bagi mereka. [2]
Berdasarkan studi oleh Rhee et al. [3], anak-anak yang bermain di pusat bermain video game seperti warnet, memiliki risiko lebih tinggi mengalami tinnitus dibandingkan dengan mereka yang tidak.
Mengapa Suara Volume Tinggi dalam Game Berbahaya?
Suara yang dihasilkan dari permainan video sering kali berada pada tingkat intensitas tinggi. Beberapa alasan mengapa suara ini dapat membahayakan pendengaran anak meliputi:
Paparan Suara Berlebihan dan Berkepanjangan
Berdasarkan standar WHO-ITU yang dipublikasikan sebelumnya, paparan suara yang aman bagi anak-anak adalah di bawah 75 dB selama 40 jam per minggu. Namun, penelitian menunjukkan bahwa rata-rata volume suara dalam video game bisa melampaui 100 dB pada game bergenre aksi atau first-person shooter. [2] Tingkat suara ini melampaui batas aman yang direkomendasikan, terutama jika didengar menggunakan headphone dalam waktu lama.
Efek Akumulatif pada Sistem Pendengaran
Paparan suara keras secara terus-menerus dapat menyebabkan gangguan pendengaran akibat kebisingan (noise-induced hearing loss), yang bersifat permanen dan tidak dapat diperbaiki. Selain itu, anak-anak yang sering bermain game dengan suara keras juga lebih rentan mengalami tinnitus (denging di telinga) dan hipersensitivitas suara[1,2].
Kurangnya Kesadaran akan Risiko
Banyak orang tua maupun anak-anak dan remaja tidak menyadari betapa bahaya paparan suara dalam dari game dapat berdampak pada fungsi pendengaran. Sebagian besar anak tidak mengeluhkan ketidaknyamanan karena dampak gangguan pendengaran cenderung terjadi secara bertahap dan tidak langsung dirasakan. [1]
Standar Baru WHO-ITU untuk Pendengaran yang Aman dalam Video Game
Pada 2025, WHO dan ITU memperkenalkan standar global pertama untuk mendukung pendengaran yang aman dalam video game. Standar ini dirancang untuk mengurangi risiko gangguan pendengaran dengan mengimplementasikan fitur keselamatan dalam perangkat dan perangkat lunak game. Beberapa rekomendasi utama dari standar ini meliputi:
Perangkat Video Game: Sistem identifikasi batas suara, pesan peringatan terkait volume suara, kontrol volume yang mudah diakses, serta mode safety pada headphone.
Perangkat Lunak Game: Peringatan tentang risiko gangguan pendengaran, kontrol volume terpisah untuk kategori suara yang berbeda dalam game, serta mode keamanan headphone yang dapat menyesuaikan volume secara otomatis. [2]
Selain dari segi kebijakan, pencegahan gangguan pendengaran akibat video game dapat dilakukan melalui edukasi kepada orang tua mengenai tingkat suara yang aman dan durasi maksimal bermain video game yang dianjurkan dan pentingnya penggunaan fitur batas volume pada perangkat gaming supaya tidak melewati batas rekomendasi.
Kesimpulan
Paparan suara yang berlebihan selama bermain game merupakan ancaman nyata terhadap kesehatan pendengaran anak-anak. Dengan meningkatnya jumlah pemain video game di dunia, langkah-langkah pencegahan seperti batas volume, waktu bermain yang terkontrol, serta implementasi standar keamanan dari WHO-ITU menjadi semakin mendesak. Selain dibuatnya kebijakan yang mengatur standar safe listening, peran dokter anak dan orang tua dalam memastikan bahwa anak-anak tidak terlalu sering bermain game dengan volume yang terlalu tinggi. Dengan meningkatkan kesadaran dan mengimplementasi tindakan preventif yang tepat, kita dapat melindungi generasi muda dari risiko gangguan pendengaran permanen.
Referensi