
Kapan Anak Dikatakan Mengalami Pubertas?
22 Jul 2017

Author: dr. Afiah Salsabila
17 Sep 2025
Topik: Demam Dengue, Virus Dengue, Transfusi Darah, Trombosit, Trombositopenia
Latar Belakang
Demam dengue adalah penyakit akibat infeksi virus dengue (Orthoflavivirus dengue serotipe 1–4) yang ditularkan oleh nyamuk Aedes. Manifestasi klinis umumnya diawali fase demam akut 2–7 hari, dapat berlanjut ke fase kritis dengan peningkatan permeabilitas kapiler, kemudian fase pemulihan. Trombositosis semu tidak lazim; sebaliknya trombositopenia merupakan temuan khas dengue dan, bersama hemokonsentrasi, membantu membedakan dengue dari febril lain. (1) Trombositopenia meningkatkan risiko perdarahan mukokutan hingga perdarahan berat, tetapi kebutuhan transfusi trombosit tidak otomatis hanya karena nilai trombosit rendah. (1)
Mekanisme Trombositopenia pada Dengue
Perjalanan penyakit dengue dimulai dengan fase demam yang ditandai viremia tinggi, nyeri otot/sendi, ruam, leukopenia, dan penurunan bertahap jumlah trombosit. Pada hari ke-4/5, saat defervescence, sebagian pasien masuk fase kritis: terjadi kebocoran plasma, hemokonsentrasi, dan penurunan trombosit yang lebih nyata; komplikasi seperti syok dan perdarahan dapat muncul tanpa selalu didahului tanda peringatan. Setelah 24–48 jam, cairan ekstravaskular direabsorpsi pada fase pemulihan. (1)
Mekanismenya multifaktorial: supresi sumsum tulang, peningkatan destruksi imunologis, konsumsi trombosit terkait aktivasi endotel/koagulasi, serta sequestrasi perifer. Penurunan trombosit biasanya self-limited dan tidak selalu berkorelasi dengan derajat perdarahan karena gangguan hemostasis pada dengue juga dipengaruhi kebocoran kapiler, koagulopati, dan disfungsi trombosit. (1)
Pada populasi pediatrik, trombositopenia sering menimbulkan kekhawatiran klinisi dan orang tua. Namun, data pediatrik menunjukkan nilai trombosit saja bukan prediktor kuat perdarahan; pada kondisi lain pun (mis. NICU, onkologi), pendekatan transfusi yang terlalu liberal justru meningkatkan kejadian perdarahan dan kematian, sehingga tren praktik modern adalah ambang transfusi yang lebih restriktif dan berbasis klinis. (2)
Indikasi dan Kontraindikasi Transfusi Trombosit pada Dengue
Indikasi utama transfusi trombosit pada dengue adalah perdarahan aktif bermakna atau prosedur invasif berisiko perdarahan yang tak dapat ditunda, setelah faktor reversibel lain (hemodinamik, koagulopati, asidosis, hipotermia) dikoreksi. (1) Pada pasien tanpa perdarahan aktif, termasuk dengan trombosit <50.000/µL, profilaksis transfusi trombosit tidak direkomendasikan karena tidak menurunkan kejadian perdarahan dan berpotensi menimbulkan efek simpang (reaksi transfusi, TRALI/TACO, alloimunisasi, infeksi, serta beban logistik). (1)
Bukti yang mendasari rekomendasi restriktif ini konsisten dengan literatur pediatrik non-dengue yang menunjukkan tidak adanya manfaat klinis dari ambang transfusi tinggi dan adanya sinyal bahaya dengan strategi liberal, terutama pada neonatus prematur dan anak dengan trombositopenia hipoproliferatif. (2) Prinsip transfusi rasional pada anak menekankan penilaian risiko-manfaat individual, kepatuhan terhadap uji saring/kompatibilitas, dan pencegahan komplikasi (FNHTR, alloimunisasi, TAGvHD, infeksi)—sehingga setiap transfusi yang tidak jelas manfaatnya sebaiknya dihindari. (3)
Kontraindikasi relatif pemberian trombosit pada dengue meliputi ketiadaan indikasi klinis (sekadar trombosit rendah), adanya kelebihan cairan/risiko TACO yang tinggi pada fase kebocoran, atau kecurigaan reaksi transfusi sebelumnya; pada situasi ini, penatalaksanaan suportif (rehidrasi terukur, pemantauan hemodinamik/laktat/CRT, koreksi koagulopati jika ada) lebih diutamakan. (1,3)
Pada fase kritis dengue, patofisiologi perdarahan didominasi kebocoran kapiler dan koagulopati kompleks. Transfusi trombosit tanpa perdarahan tidak memperbaiki mekanisme ini dan trombosit yang diberikan cepat hilang oleh konsumsi/destruksi, sehingga manfaatnya minimal sementara risiko nyata. (1) Sebaliknya, bila terjadi perdarahan aktif (misalnya melena, hematemesis, perdarahan mukosa persisten, atau perdarahan saluran napas/urogenital yang bermakna), transfusi trombosit dapat dipertimbangkan sebagai terapi bridging bersama stabilisasi hemodinamik dan tata laksana fase kritis. (1)
Rekomendasi Klinis
Pada anak dengan demam dengue:
Kesimpulan
Trombositopenia adalah ciri penting demam dengue namun bukan indikasi otomatis untuk transfusi trombosit. Pendekatan berbasis bukti menunjukkan bahwa pada pasien—termasuk anak—tanpa perdarahan aktif, transfusi trombosit profilaksis tidak bermanfaat dan berisiko, sehingga tidak direkomendasikan. Tata laksana utama tetap terapi suportif yang tepat fase, pemantauan ketat, dan intervensi transfusional selektif bila terjadi perdarahan. (1,2,3)
Daftar Pustaka