
Basic Life Support pada Anak: Algoritma, Pembaruan, dan Pesan Kunci Berdasarkan Panduan AHA & AAP 2025

di. Afiah Salsabila
17 Mei 2026

Ditulis oleh

dr. Afiah Salsabila
25 Jul 2025
Topik: Pneumonia, Tatalaksana, Antibiotik
Pneumonia masih menjadi penyebab utama kematian infeksi pada anak di bawah lima tahun, terutama di negara berkembang. Dalam upaya menekan morbiditas dan mortalitas, WHO merilis pembaruan penting pada akhir 2023 melalui dokumen Guideline on management of pneumonia and diarrhoea in children up to 10 years of age yang menggantikan beberapa rekomendasi yang sebelumnya ada pada pedoman sebelumnya, yang diterbitkan pada tahun 2014. Panduan baru ini menekankan penyederhanaan klasifikasi dan perluasan akses terapi berbasis komunitas, agar lebih adaptif terhadap konteks lapangan dan keterbatasan layanan rujukan. [1,2]
Pada panduan terbarunya, WHO tetap mempertahankan klasifikasi klinis pneumonia yang disederhanakan sejak tahun 2014. Panduan ini menegelompokkan pneumonia menjadi dua kategori: pneumonia tanpa tanda bahaya dan pneumonia dengan tanda bahaya. Penyederhanaan ini ditujukan untuk memudahkan penilaian klinis oleh tenaga kesehatan primer dan memungkinkan tatalaksana lebih cepat dan efisien. [1]
Panduan ini juga tetap merekomendasikan amoksisilin oral sebagai antibiotik lini pertama untuk semua anak usia 2–59 bulan dengan pneumonia, baik dengan maupun tanpa retraksi dada, selama tidak ada tanda bahaya (seperti tidak bisa menyusu, muntah terus-menerus, kejang, letargik atau tidak sadar, stridor, dan hipoksemia). Ini menggantikan rekomendasi sebelumnya yang masih menggunakan injeksi penisilin atau ampisilin plus gentamisin untuk kasus pneumonia dengan retraksi dada. Penggunaan amoksisilin cukup diberikan dua kali sehari selama 5 hari, dengan dosis minimal 40 mg/kg per dosis (total 80 mg/kg per hari). Dengan demikian, kebutuhan akan injeksi dan rujukan menjadi berkurang secara signifikan, dan terapi dapat dilakukan secara rawat jalan. [1]
Walaupun terdapat beberapa rekomendasi utama yang sama dengan yang sebelumnya, terdapat beberapa perubahan yang perlu diperhatikan. Melalui panduan terbarunya, WHO memperluas peran community health workers, atau kader, dalam tatalaksana pneumonia dengan retraksi tanpa tanda bahaya. Kini, WHO menyarankan pemberian amoksisilin oral selama hari oleh kader dan diikuti follow-up, dibandingkan dengan perawatan standar (dosis pertama amoksisilin oral diberikan oleh kader dan kemudian dirujuk ke fasilitas kesehatan untuk penanganan lebih lanjut). Hal ini hanya bisa diaplikasikan jika telah ada program tenaga kesehatan komunitas terstruktur dengan sistem rujukan aktif dan mekanisme pemantauan yang ketat. Dari tinjauan gabungan 3 studi yang dilakukan di Pakistan, kelompok dengan penatalaksanaan berbasis komunitas memiliki risiko kegagalan pengobatan 34% lebih rendah pada hari ke-6 dibandingkan dengan kelompok penatalaksanaan standar (RR 0,66; 95% CI: 0,44–0,98). Namun, aplikabilitasnya di Indonesia masih perlu ditinjau, mengingat saat ini kader belum memiliki wewenang untuk memberikan obat ke komunitas. [2]
Selain itu, pemantauan saturasi oksigen dengan pulse oximeter kini direkomendasikan pada semua anak dengan pneumonia. Anak dengan hipoksemia (SpO₂ <90%) harus segera dirujuk untuk terapi oksigen dan pemantauan lanjutan. Pada fasilitas yang tidak memiliki pulse oximeter, WHO menyarankan agar pada anak usia 2–59 bulan dengan pneumonia (napas cepat atau retraksi dada tanpa tanda bahaya), dilakukan evaluasi tanda-tanda distres napas sebagai pendekatan alternatif deteksi hipoksemia. Tanda-tanda tersebut mencakup flaring hidung, gerakan kepala saat bernapas (head nodding), grunting, atau takipneu berat, yang didefinisikan sebagai laju napas ≥20 kali per menit di atas batas usia normal. [2]
Perlu dicatat bahwa tidak ada pembaruan tatalaksana pneumonia dengan tanda bahaya dalam pedoman WHO 2024. Penanganan kasus ini tetap mengacu pada pedoman WHO pneumonia anak tahun 2014, yang mencakup rujukan ke fasilitas pelayanan kesehatan lanjutan dan pemberian terapi suportif yang memadai. [2]
Pada kelompok usia 5–9 tahun, WHO belum memberikan rekomendasi spesifik mengenai klasifikasi klinis maupun pilihan antibiotik, karena bukti ilmiah masih terbatas. Maka dari itu, WHO menentukan bahwa masih terdapat kesenjangan bukti (knowledge gap) terkait hal ini, sehingga menjadi prioritas untuk penelitian lanjutan. Hal yang sama juga berlaku untuk penggunaan teknologi diagnostik seperti ultrasonografi paru, auskultasi digital, dan analisis suara batuk, yang dinilai menjanjikan namun belum cukup tervalidasi untuk direkomendasikan dalam praktik rutin. [1]
Perubahan-perubahan ini memiliki implikasi besar dalam praktik klinik. Dengan pendekatan yang lebih sederhana dan inklusif, dokter anak di Indonesia diharapkan dapat mengimplementasikan panduan ini dalam pelayanan primer, tanpa menunggu intervensi lanjutan di rumah sakit. Kemudahan pemberian amoksisilin oral serta fleksibilitas manajemen komunitas merupakan langkah strategis dalam menurunkan angka keterlambatan terapi, terutama di daerah dengan akses terbatas. Namun, kesenjangan bukti yang ada tetap perlu dijawab dengan riset kontekstual di lapangan, terutama untuk kelompok usia di atas lima tahun.
Daftar Pustaka