
Daftar Imunisasi Bayi yang Disubsidi oleh Pemerintah
12 Sep 2022

Author: Tim PrimaKu
3 Feb 2026
Topik: Virus Nipah
Artikel ini telah divalidasi oleh dr. Dini Mirasanti, Sp.A.
Belakangan ini, perhatian publik tertuju pada virus Nipah (NiV) setelah laporan kasus kembali muncul di India dengan tingkat kematian yang dilaporkan mencapai hingga 75%. Menyikapi situasi tersebut, pemerintah Indonesia melalui Kementerian Kesehatan mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan, termasuk menghindari konsumsi buah yang terbuka dan berpotensi terkontaminasi. Meski hingga kini belum ada laporan kasus virus Nipah di Indonesia, pemahaman yang tepat sangat penting agar masyarakat tidak panik, namun tetap waspada.
Baca Juga: Kasus Virus Nipah di India, Perlukah Indonesia Waspada?
Bagaimana Cara Penularan Virus Nipah?
Penyakit Virus Nipah merupakan penyakit zoonotik emerging yang disebabkan oleh virus Nipah, anggota genus Henipavirus dan famili Paramyxoviridae. Virus ini memiliki reservoir alami pada kelelawar buah (Pteropus sp.), yang dapat menularkan virus ke manusia secara langsung atau melalui perantara hewan lain (seperti babi) serta melalui konsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi virus (misalnya buah atau nira). Penularan antar manusia juga dilaporkan, terutama melalui kontak erat dengan penderita. Manifestasi klinis bervariasi, mulai infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) ringan hingga berat, serta ensefalitis yang dapat berakibat kematian. Tingkat kematian dilaporkan mencapai 40–75%. Pada tahun 1998–1999, wabah pertama terjadi pada peternak babi di Desa Sungai Nipah, Malaysia yang menyebar ke Singapura. Kasus manusia juga tercatat di India, Bangladesh, dan Filipina. Sejak 2001 hingga 2026, kasus penyakit virus Nipah dilaporkan secara sporadis di Bangladesh dan India.
Penularan virus Nipah dapat terjadi melalui:
Mengutip dari Budi Gunadi Sadikin, selaku Menteri Kesehatan RI, penyakit ini penularannya banyak lewat buah yang sudah dimakan atau digigit kelelawar, jadi masyarakat diimbau untuk menghindari makan buah yang terbuka. “Kalau bisa misal makan jeruk yang tertutup lalu kita buka sendiri kupas sendiri, jadi kita bisa lihat,” imbaunya.
Inilah alasan mengapa konsumsi buah yang terbuka atau tidak dicuci bersih menjadi salah satu perhatian utama dalam pencegahan.
Imbauan Pemerintah Indonesia Terkait Virus Nipah
Menanggapi laporan kasus di India, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mengimbau masyarakat untuk:
Langkah ini bersifat pencegahan dini dan bagian dari kewaspadaan terhadap penyakit zoonosis.
Apakah Sudah Ada Vaksin atau Obat Virus Nipah?
Hingga saat ini, belum tersedia vaksin maupun pengobatan spesifik untuk virus Nipah. Penanganan bersifat suportif dan berfokus pada perawatan intensif. Oleh karena itu, pencegahan dan deteksi dini menjadi strategi utama.
Centers for Disease Control and Prevention menegaskan bahwa pencegahan paparan merupakan langkah paling efektif dalam menurunkan risiko infeksi virus Nipah.
Meskipun virus Nipah belum dilaporkan masuk ke Indonesia, perkembangan kasus di negara lain menjadi pengingat penting akan ancaman penyakit zoonosis dengan dampak serius. Imbauan pemerintah untuk menghindari konsumsi buah terbuka dan menjaga kebersihan bukan untuk menimbulkan kepanikan, melainkan bentuk kewaspadaan. Dengan informasi yang tepat dan perilaku hidup bersih, MomDad dapat berperan aktif dalam mencegah risiko penularan virus Nipah.
Referensi: Surat Edaran Kewaspadaan Penyakit Virus Nipah Tahun 2026
