
Sudahkah ibu siap menyusui? Perhatikan waktu rekomendasi dari WHO!
8 Des 2021

Author: dr. Afiah Salsabila
21 Jul 2025
Topik: HIV, Infeksi, Infeksi Oportunistik, Profilaksis
Latar Belakang
Infeksi HIV pada anak merupakan salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas di negara-negara dengan sumber daya terbatas. Anak yang lahir dari ibu dengan HIV memiliki risiko tinggi mengalami infeksi oportunistik, terutama pada masa bayi di mana sistem imun masih jauh dari matang. Salah satu infeksi yang paling mematikan pada anak dengan HIV adalah Pneumocystis jirovecii pneumonia (PCP), yang dilaporkan terjadi pada 60% kasus Acquired Immunodeficiency Syndrom (AIDS) pada tahun pertama kehidupan, serta sekitar sepertiga dari total kasus AIDS pada anak secara global. Pencegahan terhadap PCP menjadi sangat krusial karena infeksi ini seringkali menjadi manifestasi awal HIV pada bayi dan dapat menyebabkan kematian sebelum diagnosis ditegakkan. Salah satu strategi yang direkomendasikan WHO sejak 2005 untuk menurunkan beban ini adalah pemberian profilaksis dengan kotrimoksazol, yaitu kombinasi antibiotik spektrum luas yang terdiri dari trimetoprim dan sulfametoksazol. Namun, cakupan penggunaannya masih belum merata, terutama di negara dengan sumber daya terbatas.
Kotrimoksazol Sebagai Profilaksis Infeksi Oportunistik
Kotrimoksazol memiliki mekanisme kerja sinergis dalam menghambat sintesis asam folat pada bakteri dan protozoa. Manfaatnya tak hanya terbatas pada pencegahan terhadap PCP, tetapi juga pada infeksi oportunistik lainnya, Pada anak dengan HIV, kotrimoksazol juga terbukti menurunkan risiko infeksi saluran napas, diare bakteri, infeksi saluran kemih, dan Salmonella spp. Selain itu, di daerah endemis, kotrimoksazol memberikan efek perlindungan terhadap malaria.
Sebuah tinjauan sistematis terbaru menunjukkan bahwa profilaksis kotrimoksazol dapat secara signifikan menurunkan angka kematian sebanyak 72 per 1000 anak yang dirawat dibandingkan plasebo. Pemberian kotrimoksazol juga dapat menurunkan angka rawat inap, tanpa menyebabkan efek samping berat yang bermakna dibandingkan plasebo. Hasil ini tetap konsisten meski diberikan bersamaan dengan terapi antiretroviral (ART). Temuan ini mendukung pentingnya pemberian profilaksis kotrimoksazol sejak dini pada anak yang terinfeksi HIV. [1]
Rekomendasi WHO Terkini
WHO merekomendasikan pemberian kotrimoksazol sebagai profilaksis universal untuk semua bayi yang lahir dari ibu HIV-positif, dimulai pada usia 4–6 minggu, terlepas dari status infeksi anak, dan dilanjutkan hingga infeksi HIV dapat disingkirkan secara pasti melalui tes virologis. Untuk anak yang telah terkonfirmasi HIV-positif, kotrimoksazol diberikan tanpa memperhatikan jumlah CD4 maupun stadium klinis WHO. Penghentian profilaksis hanya dapat dipertimbangkan bila anak sudah stabil secara klinis, memiliki jumlah CD4 >350 sel/mm³, serta menunjukkan supresi virologis setelah pemberian rutin ART. Di daerah dengan prevalensi tinggi malaria atau infeksi bakteri berat, pemberian kotrimoksazol tetap dilanjutkan hingga anak dewasa. [2]
Pendekatan WHO juga mempertimbangkan keterbatasan sumber daya dan akses diagnosis dini, sehingga pemberian kotrimoksazol dianjurkan sebagai kebijakan populasi hingga infeksi HIV dapat disingkirkan. [2] Penemuan Wedderburn dkk.[3] Mendukung rekomendasi ini. Menurut studi tersebut, anak yang hanya terpapar HIV tetapi tidak terinfeksi, kotrimoksazol tidak memberikan manfaat klinis signifikan, kecuali dalam pencegahan malaria di daerah endemis. Hal ini menekankan pentingnya dilakukan skrining dini yang akurat agar profilaksis kotrimoksazol diberikan secara tepat sasaran.
Kesimpulan
Profilaksis kotrimoksazol terbukti secara ilmiah menurunkan angka kematian, kejadian rawat inap, dan isolasi Pneumocystis jirovecii pada anak dengan HIV. Dengan keamanan yang baik, intervensi ini memiliki manfaat yang jauh melebihi risikonya. Dokter anak di Indonesia diharapkan dapat berperan aktif dalam pemberian kotrimoksazol, terutama pada bayi terpapar HIV dan anak dengan HIV yang belum memiliki sistem kekebalan tubuh yang memadai. Implementasi yang lebih luas dari strategi ini dapat secara signifikan menurunkan beban infeksi oportunistik dan meningkatkan kualitas hidup anak dengan HIV di Indonesia.
Daftar Pustaka

8 Des 2021

8 Mei 2022

14 Mei 2022

21 Mei 2022