24 Juli 2026
Dongeng: Legenda Roro Jonggrang dan Seribu Candi
Ditulis oleh

Tim PrimaKu
Topik: Dongeng Anak, Dongeng Sebelum Tidur, Dongeng
Pada zaman dahulu, berdirilah sebuah kerajaan besar bernama Kerajaan Prambanan. Kerajaan tersebut dipimpin oleh seorang raja bernama Prabu Baka.
Prabu Baka memiliki seorang putri yang terkenal sangat cantik bernama Roro Jonggrang. Selain cantik, sang putri juga dikenal cerdas dan disayangi oleh rakyatnya.
Suatu hari, Kerajaan Prambanan diserang oleh Kerajaan Pengging. Pasukan Pengging dipimpin oleh seorang kesatria sakti bernama Bandung Bondowoso.
Pertempuran besar pun terjadi.
Bandung Bondowoso berhasil mengalahkan Prabu Baka dan menguasai Kerajaan Prambanan.
Ketika memasuki istana, Bandung Bondowoso bertemu dengan Roro Jonggrang. Ia begitu terpesona melihat sang putri.
Bandung Bondowoso kemudian menyampaikan keinginannya untuk menikahi Roro Jonggrang.
Namun, Roro Jonggrang merasa sangat sedih. Bagaimana mungkin ia menikahi seseorang yang telah mengalahkan ayahnya?
Ia tidak berani langsung menolak Bandung Bondowoso. Sang putri pun berpikir keras mencari cara.
Akhirnya, sebuah ide muncul di benaknya.
"Aku bersedia menikah denganmu," kata Roro Jonggrang, "tetapi ada satu syarat."
"Apa pun syaratnya akan kupenuhi," jawab Bandung Bondowoso dengan yakin.
Roro Jonggrang kemudian berkata, "Bangunkanlah untukku seribu candi dalam waktu satu malam. Semuanya harus selesai sebelum matahari terbit."
Bandung Bondowoso menerima tantangan tersebut.
Membangun Seribu Candi dalam Semalam
Malam pun tiba.
Bandung Bondowoso mulai bekerja. Namun, membangun seribu candi seorang diri tentu hampir mustahil dilakukan dalam satu malam.
Dengan kesaktiannya, ia memanggil pasukan makhluk halus untuk membantunya.
Dalam sekejap, suasana malam yang tadinya sunyi berubah menjadi sangat sibuk.
Batu-batu besar diangkat.
Bangunan demi bangunan mulai berdiri.
Satu candi...
Sepuluh candi...
Seratus candi...
Jumlahnya terus bertambah dengan sangat cepat.
Dari kejauhan, Roro Jonggrang memperhatikan semuanya.
Ia mulai khawatir.
"Kalau begini terus, seribu candi benar-benar akan selesai sebelum matahari terbit," pikirnya.
Roro Jonggrang kemudian memanggil para perempuan di kerajaan dan meminta bantuan mereka.
"Kita harus membuat suasana seolah-olah pagi sudah tiba," katanya.
Mereka segera mulai bekerja.
Sebagian menyalakan api dan membakar jerami di sebelah timur sehingga langit terlihat kemerahan seperti fajar. Sebagian lainnya mulai menumbuk padi dengan lesung.
Tok! Tok! Tok!
Suara lesung terdengar di seluruh penjuru kerajaan.
Ayam-ayam yang mendengar keramaian itu ikut berkokok.
"Kukuruyuk!"
Para makhluk halus yang membantu Bandung Bondowoso melihat langit mulai memerah dan mendengar ayam berkokok.
Mereka mengira pagi benar-benar telah tiba.
"Fajar datang! Kita harus pergi!"
Satu per satu mereka menghilang sebelum pekerjaan selesai.
Candi yang Kurang Satu
Bandung Bondowoso memandangi candi-candi yang telah berdiri.
Ia mulai menghitungnya.
Ternyata jumlahnya baru 999 candi.
Hanya kurang satu lagi!
Bandung Bondowoso merasa ada sesuatu yang aneh. Matahari belum benar-benar muncul, tetapi para makhluk halus sudah pergi.
Tak lama kemudian, ia mengetahui bahwa Roro Jonggrang telah membuat suasana seolah-olah pagi datang lebih cepat.
Bandung Bondowoso merasa sangat marah karena mengetahui dirinya telah diperdaya.
"Roro Jonggrang! Kau telah menggagalkan pekerjaanku. Aku hanya kekurangan satu candi!" serunya.
Menurut legenda, dalam kemarahannya Bandung Bondowoso kemudian mengutuk Roro Jonggrang menjadi batu untuk melengkapi candi yang keseribu.
Dalam sekejap, tubuh Roro Jonggrang berubah menjadi sebuah arca batu.
Konon, arca seorang dewi yang berada di kompleks Candi Prambanan kemudian dipercaya oleh masyarakat sebagai jelmaan Roro Jonggrang.
Legenda Roro Jonggrang dan Candi Prambanan
Kisah Roro Jonggrang kemudian diwariskan secara turun-temurun dan menjadi salah satu legenda yang paling terkenal di Indonesia, khususnya di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta.
Masyarakat secara tradisional mengaitkan kisah seribu candi tersebut dengan kompleks Candi Prambanan dan candi-candi di sekitarnya. Sementara itu, arca Durga Mahisasuramardini yang berada di Candi Siwa juga kerap disebut masyarakat sebagai arca Roro Jonggrang.
Meski demikian, kisah Roro Jonggrang merupakan legenda rakyat. Candi Prambanan sendiri merupakan kompleks candi Hindu yang dibangun pada masa Kerajaan Mataram Kuno sekitar abad ke-9.
Pesan Moral dari Dongeng Roro Jonggrang
Dari legenda Roro Jonggrang, si Kecil dapat belajar bahwa kejujuran dan menepati kesepakatan merupakan hal yang penting. Kebohongan atau tipu daya dapat membawa akibat yang tidak diinginkan.
Kisah ini juga dapat menjadi kesempatan bagi orang tua untuk mengajak anak berdiskusi bahwa ketika menghadapi masalah, sebaiknya kita mengungkapkan perasaan dan mencari penyelesaian dengan cara yang baik, bukan melalui kemarahan ataupun tipu muslihat.
Dongeng anak sebelum tidur Roro Jonggrang bukan hanya menghadirkan kisah tentang seorang putri dan seribu candi, tetapi juga mengenalkan si Kecil pada salah satu cerita rakyat yang telah diwariskan selama bergenerasi.
Dengan membacakan legenda Nusantara seperti Roro Jonggrang, MomDad dapat mengajak si Kecil berimajinasi sekaligus mengenalkannya pada kekayaan cerita dan budaya Indonesia sejak dini.






