Meta Pixel

18 September 2026

Anak Suka Main Game Online? Ini Risiko dan Cara Menyikapinya

Ditulis oleh

avatar

Dhia Priyanka

Topik: Game Online, Video Game, game online anak, risiko game online, kecanduan game pada anak, keamanan game online, parental control

Game online anak dapat menjadi sarana hiburan, kreativitas, kerja sama, dan interaksi. Namun, WHO mengakui gaming disorder dalam ICD-11 ketika pola bermain sulit dikendalikan dan mengganggu fungsi penting. Meta-analisis 53 studi memperkirakan prevalensinya sekitar 3,05%, meski hasil sangat bervariasi. 


Apakah Semua Game Online Berbahaya?

Tidak. Game sesuai usia dapat melatih pemecahan masalah, koordinasi, kreativitas, kerja sama, dan koneksi sosial. AAP menyebut permainan multipemain dapat memberi kesempatan untuk bekerja sama dan bersosialisasi.

Risiko muncul ketika desain, pola penggunaan, konten, atau interaksinya tidak sesuai usia. Pertanyaan penting bukan hanya “berapa jam?”, tetapi “apa yang tergeser?” serta “apakah anak masih dapat berhenti?”.


Apa Itu Gaming Disorder?

WHO mendefinisikannya sebagai pola bermain yang ditandai oleh:

- kontrol terhadap aktivitas bermain terganggu;

- game diprioritaskan daripada kegiatan harian lain; dan

- bermain diteruskan meski menimbulkan konsekuensi negatif.


Diagnosis membutuhkan gangguan bermakna pada kehidupan pribadi, keluarga, sosial, atau pendidikan. Pola biasanya tampak setidaknya 12 bulan, tetapi dapat dinilai lebih cepat bila sangat berat. Diagnosis dilakukan tenaga profesional, bukan berdasarkan durasi semata.


Risiko Game Online bagi Anak

1. Tidur dan Kesehatan Fisik

Bermain hingga malam dapat mengurangi tidur. Duduk lama dapat menggantikan aktivitas fisik dan berkaitan dengan mata lelah, sakit kepala, serta nyeri leher atau punggung. Tinjau posisi, pencahayaan, jeda, dan keseimbangan aktivitas.


2. Sekolah, Emosi, dan Relasi

Waspadai tugas tertunda, nilai menurun, berbohong tentang durasi, atau hilangnya minat lain. Marah sesaat ketika kalah dapat terjadi, tetapi agresi, kecemasan, isolasi, atau hanya dapat tenang saat bermain perlu diperhatikan. Kondisi lain seperti ADHD, kecemasan, depresi, perundungan, atau masalah belajar juga perlu dinilai.


3. Konten, Cyberbullying, dan Grooming

Game dapat memuat kekerasan, bahasa kasar, seksualisasi, atau konten pengguna yang tidak tercermin dalam rating. Chat membuka peluang perundungan, penipuan, grooming, dan ajakan bertemu. UNICEF menyoroti eksploitasi, kekerasan antarteman, manipulasi, dan penyalahgunaan data. Komdigi mengelompokkan risiko digital anak menjadi konten, kontak, kecanduan, dan komersial.


4. Privasi, Pembelian, dan Loot Box

Anak dapat membagikan nama, sekolah, lokasi, foto, atau kata sandi. Phishing dan unduhan tidak resmi dapat mencuri data. Mata uang virtual, skin, battle pass, dan loot box juga membuat nilai uang kurang nyata. Hadiah acak dapat menyerupai mekanisme taruhan meski status hukumnya berbeda. Batasi akses pembayaran.


Tanda Risiko dan Respons Orang Tua

Area

Tanda risiko

Respons awal

Tidur

Begadang, sulit bangun

Hentikan 1 jam sebelum tidur

Sekolah

Tugas/nilai terganggu

Dahulukan kewajiban

Emosi

Ledakan saat berhenti

Gunakan transisi dan aturan

Relasi

Menarik diri

Pulihkan aktivitas offline

Keamanan

Kontak asing/ancaman

Blokir, laporkan, simpan bukti

Belanja

Transaksi tanpa izin

PIN dan hapus pembayaran

Kontrol

Tetap bermain meski rugi

Evaluasi profesional


Ciri Pola Bermain Tidak Sehat

Waspadai bila beberapa tanda menetap:

- sulit berhenti meski ada kesepakatan;

- tidur, makan, sekolah, kebersihan, atau aktivitas fisik terabaikan;

- nilai menurun atau anak bermain diam-diam;

- kehilangan minat pada hobi dan relasi di luar game;

- marah ekstrem atau agresif saat tidak dapat bermain;

- menghabiskan uang tanpa izin;

- terus bermain meski memahami dampak negatif; atau

- menerima ancaman atau ajakan rahasia dari orang asing.

Satu tanda sesekali belum tentu berarti gangguan. Amati pola, keparahan, dan dampaknya.


Cara Mendampingi Anak

1. Kenali Game dan Buat Kesepakatan

Tonton atau main bersama untuk memahami fitur chat, komunitas, dan pembelian. Tentukan kapan, di mana, dan berapa lama bermain. Dahulukan tidur, sekolah, makan, aktivitas fisik, dan waktu keluarga. Beri pengingat 10–15 menit sebelum selesai. AAP menyarankan Family Media Plan yang disesuaikan dengan kebutuhan anak.


2. Aktifkan Parental Control

Gunakan akun anak untuk:

- membatasi waktu dan konten berdasarkan usia;

- membatasi chat dan mengatur akun privat;

- mematikan lokasi;

- memerlukan PIN pembelian; serta

- meninjau daftar teman dan transaksi.


3. Ajarkan Keselamatan Digital

Anak tidak boleh membagikan data, foto pribadi, sekolah, lokasi, atau kata sandi; berpindah ke chat rahasia; menerima hadiah bersyarat; maupun bertemu kenalan game. Latih fitur mute, block, dan report. Tegaskan bahwa anak boleh bercerita tanpa langsung dimarahi.


4. Kurangi Bertahap

Larangan mendadak dapat memperbesar konflik. Pulihkan tidur, makan, sekolah, dan aktivitas fisik terlebih dahulu. Kurangi waktu bertahap, sediakan kegiatan pengganti, dan evaluasi setiap minggu.


Kapan Perlu Bantuan Profesional?

Konsultasikan bila game menyebabkan gangguan fungsi nyata, konflik berat, gangguan tidur menetap, penurunan prestasi, isolasi, pengeluaran impulsif, atau perubahan emosi. Cari bantuan segera bila anak menyakiti diri, mengancam orang lain, mengalami eksploitasi seksual, pemerasan, atau ancaman keselamatan.


Dokter anak, psikolog, atau psikiater anak dapat menilai pola gaming dan kondisi penyerta. Komdigi juga menyediakan layanan DARA untuk dukungan terkait adiksi gim.


FAQ tentang Game Online Anak


Q: Berapa lama anak boleh bermain game?

A: Tidak ada satu batas universal. Pastikan game tidak menggantikan tidur, sekolah, aktivitas fisik, makan, relasi, dan tanggung jawab.


Q: Apakah marah saat game dihentikan berarti kecanduan?

A: Belum tentu. Waspadai bila kemarahan ekstrem berulang, anak kehilangan kontrol, dan fungsi sehari-harinya terganggu.


Q: Apakah game online membuat anak agresif?

A: Tidak selalu. Respons dipengaruhi usia, temperamen, jenis game, dan faktor keluarga. Nilai perubahan perilaku nyata.


Q: Apakah loot box sama dengan judi?

A: Status hukum dapat berbeda, tetapi hadiah acak dan pembelian berulang dapat menyerupai mekanisme taruhan.


Q: Apa yang dilakukan jika orang asing menghubungi anak?

A: Hentikan percakapan, jangan kirim data, simpan bukti, blokir, dan laporkan. Hubungi pihak berwenang jika ada ancaman, pemerasan, atau unsur seksual.


Q: Bagaimana membedakan hobi dengan gaming disorder?

A: Hobi masih dapat dikendalikan. Gaming disorder melibatkan kehilangan kontrol, prioritas berlebihan, dan konsekuensi negatif bermakna.


Game online dapat bermanfaat ketika sesuai usia, seimbang, dan aman. Risiko meningkat ketika game menggantikan tidur, sekolah, aktivitas fisik, relasi, dan tanggung jawab atau membuka jalan bagi perundungan, grooming, manipulasi belanja, dan penyalahgunaan data.


Bangun percakapan, kenali game, gunakan parental control, dan buat aturan konsisten. Bila fungsi atau keselamatan anak terganggu, jangan menunda bantuan profesional.


Referensi:

- World Health Organization. Gaming Disorder. WHO; diakses 2026.

- Stevens MW, et al. Global Prevalence of Gaming Disorder: A Systematic Review and Meta-analysis. Australian & New Zealand Journal of Psychiatry; 2021.

- American Academy of Pediatrics. Multiplayer Games Online: How to Help Keep Kids Safe. HealthyChildren.org; 2022.

- American Academy of Pediatrics. Unhealthy Video Gaming: What Parents Can Do to Prevent It. HealthyChildren.org; 2024.

- UNICEF. Child Rights and Online Gaming: Opportunities & Challenges. UNICEF; 2019.

- UNICEF Innocenti. Protecting Children in Online Gaming. UNICEF; 2025.

- Kementerian Komunikasi dan Digital RI. Anak Tetap Bisa Berinternet, Tetapi Harus Terlindungi dari Risiko Digital. Komdigi; 2026.

- Kementerian Komunikasi dan Digital RI. Layanan DARA untuk Atasi Kecanduan Gim. Komdigi; 2026.