primaku
Mitra resmi kami:
idaikemenkes
Unduh PrimaKu di:
playstoreappstore

Proses Mendengar pada Bayi

Author:

Topik: bayi

PROSES MENDENGAR PADA BAYI

 

            Proses mendengar sebenarnya sudah dimulai sejak dalam kandungan. Diawali pada usia kandungan 20 minggu, janin sudah dapat memberikan reaksi pada nada rendah dan ketika sudah mencapai usia 35 minggu maka janin akan mulai memberikan reaksi pada nada menengah dan tinggi. Keterlambatan dalam memberikan respon terhadap stimulus bunyi terjadi pada bayi dengan berat lahir rendah. Jadi gangguan pertumbuhan merupakan salah satu faktor yang berperan penting untuk terjadinya gangguan respon terhadap stimulus bunyi yang merupakan tahap awal dari proses mendengar. Demikian dijelaskan oleh Dr. dr. Ronny Suwento, Sp.THT-KL(K).

Namun demikian Dr. Ronny juga menjelaskan ada beberapa hal yang harus diwaspadai semenjak masa kehamilan. Kondisi yang dapat meningkatkan risiko terjadinya gangguan ataupun hambatan proses mendengar, antara lain ibu hamil dengan infeksi TORCHS (toxoplasma, rubella, cytomegalovirus, herpes dan syphillis), konsumsi obat-obatan tertentu pada trimester pertama kehamilan seperti kina ataupun antibiotika tertentu misalnya streptomisin dan gentamisin. Selain itu juga bayi yang lahir tidak atau terlambat menangis, bayi kuning dengan kadar bilirubin yang sangat tinggi yang menyebabkan masalah keracunan yng disebut kernikterus, bayi yang memerlukan perawatan di ruang rawat intensif (Neonatal Intesive Care Unit) dan bayi yang menggunakan alat bantu napas (ventilator) lebih dari 5 hari.

Berdasarkan hal tersebut, upaya-upaya antisipasi yang dapat dilakukan agar pendengaran pada bayi dapat berkembang dan terjaga baik selama masa pertumbuhannya antara lain yaitu kontrol sesuai jadwal pada ibu hamil selama masa kehamilan, jangan lupa melakukan pemeriksaan TORCHS, dan sebaiknya menghindari pemakaian obat-obatan yang bersifat toksik bagi telinga terutama pada trimester pertama kehamilan.

Deteksi dini gangguan pendengaran perlu dilakukan untuk mengantisipasi terjadinya gangguan pendengaran dan wicara, Terdapat dua tahap dalam deteksi dini yang umum dilakukan yaitu pertama skrining pendengaran pada 48 jam pertama kehidupan ketika bayi baru lahir dan masih tinggal di rumah sakit, menggunakan otoaccoustic emission (OAE), yang bertujuan untuk mengetahui kondisi rumah siput (koklea) yang berperan sebagai sensor terhadap bunyi dari sekitarnya.

Pemeriksaan kedua dilaksanakan menjelang bayi berusia tiga bulan dengan pemeriksaan OAE diagnostik dan brainsteam evoked response audiometry (BERA) untuk mengetahui kondisi saraf pendengaran sampai batang otak. Apabila terdiagnosis adanya gangguan pendengaran jenis saraf atau yang dikenal sebagai gangguan sensorineural, maka perlu dilakukan pemeriksaan lanjutan menggunakan frekuensi (nada) yang terinci dengan BERA tone burst atau pemeriksaan auditory steady state response (ASSR).

Kedua pemeriksaan ini penting dilaksanakan untuk pemilihan dan pengaturan alat bantu dengar, oleh karena pemasangan alat bantu dengar yang tidak sesuai menyebabkan bayi atau anak menolak untuk memakai alat tersebut dan pemasangan yang melebihi kebutuhan (terlalu keras) dapat menimbulkan rasa sakit juga tidak nyaman dan yang lebih berbahaya dapat lebih merusak alat-alat pendengaran.

Pemeriksaan timpanometri pun jika memang perlu sebaiknya dilakukan untuk mendeteksi adanya gangguan pada telinga tengah. Hal tersebut menunjukkan bila hasil OAE atau BERA tidak lulus (refer), sebaiknya dilanjutkan dengan pemeriksaan pendengaran lengkap.

Menurut Dr. Ronny, di RS Cipto Mangunkusumo pemeriksaan OAE dan BERA dilakukan bersamaan sebelum bayi meninggalkan rumah sakit, karena tersedianya fasilitas BERA otomatis. Beliau pun menganjurkan untuk dilakukan skrining pendengaran pada semua bayi baru lahir tanpa kecuali, jika memang mempunyai fasilitas dan tersedia tenaga ahlinya. Kegiatan ini dikenal sebagai universal newborn hearing screening (UNHS). Sementara skrining pendengaran yang sifatnya lebih spesifik atau khusus dilakukan pada bayi yang mempunyai faktor risiko untuk terjadinya gangguan pendengaran atau yang dikenal sebagai targeted newborn hearing screening. Bila telah dipastikan adanya gangguan pendengaran atau ketulian, maka pada bayi tersebut perlu dilakukan terapi atau habilitasi sebelum usia enam bulan, termasuk didalamnya pemasangan alat bantu dengar (hearing aid) dan latihan mendengar atau terapi wicara jika anak tersebut sudah mencapai tahap mampu berbicara. Bila setelah beberapa waktu pemakaian alat bantu dengar sudah tidak bermanfaat, maka perlu dipertimbangkan untuk beralih ke pemasangan implan koklea.

Kebersihan telinga juga penting untuk selalu dipelihara guna mencegah berbagai penyakit akibat infeksi. Dr. Ronny Suwento, Sp.THT-KL(K) menjelaskan beberapa cara untuk membersihkan telinga yang dapat dilakukan di rumah oleh para orangtua yaitu dengan membersihkan lekukan-lekukan telinga menggunakan kain kasa halus yang telah dibasahi dengan baby oil. Sedangkan untuk liang telinga, dapat dibersihkan dengan memakai cotton bud kecil yang bagian kapasnya telah dibasahi dengan baby oil, namun sebagian dokter tidak menyetujui penggunaan cotton bud untuk membersihkan telinga karena risiko merusak membran timpani, atau cenderung mendorong kotoran semakin masuk ke dalam.

Bila ada cairan ASI yang masuk kedalam liang telinga, upaya mengeringkannya dapat dengan menggunakan gulungan kecil tissue halus atau kapas yang kering. Beliau juga menjelaskan bahwa upaya membersihkan daun telinga dapat dikatakan baik apabila tidak dijumpai lagi kerak atau serpihan kulit bayi yang terkelupas. Sedangkan liang telinga yang bersih adalah apabila tidak terdapat kotoran atau serpihan kulit yang menutupi liang telinga.

familyfamily
Baca artikel tumbuh kembang anak di PrimaKu!
Unduh sekarang
playstoreappstore
Rekomendasi Artikel
Lihat semua
cover
Pentingnya Proses Menidurkan si Kecil
29 Jan 2018
cover
Pentingnya Peran Suami dalam Proses Menyusui Bayi
4 Agu 2022
cover
Mengenal Gangguan Proses Bicara pada Anak
28 Nov 2022
cover
Kondisi Lip Tie pada Bayi, Apakah Memengaruhi Proses Menyusu...
21 Des 2022
primaku
Aplikasi tumbuh kembang anak Indonesia. Didukung penuh oleh Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI)
Mitra resmi kami:
idaikemenkes
Unduh PrimaKu
playstoreappstore
© 2023 All rights reserved PRIMAKU, Indonesia
Cari kami di: