
Rasa ASI dapat Berubah karena Faktor Ini, lho!
5 Agu 2022

Author: Tim PrimaKu
11 Mar 2026
Topik: BB Anak, Berat Badan Ideal, Psikologi Anak, Tumbuh Kembang, BB Optimal
Artikel ini telah divalidasi oleh dr. Lucyana A. Santoso, Sp.A
Berat badan anak sering kali dikaitkan dengan pola makan, asupan nutrisi, atau aktivitas fisik. Namun, ada faktor lain yang sering luput dari perhatian orang tua, yaitu kondisi psikologis anak. Emosi, hubungan dengan orang tua, hingga lingkungan sosial dapat memengaruhi nafsu makan, kebiasaan makan, dan metabolisme anak.
Pada masa tumbuh kembang, anak belum sepenuhnya mampu mengekspresikan atau mengelola emosinya dengan baik. Karena itu, perubahan psikologis seperti stres, kecemasan, atau tekanan lingkungan dapat berdampak pada pola makan dan akhirnya memengaruhi berat badan. Dalam beberapa kasus, anak bisa makan lebih sedikit karena kehilangan nafsu makan, atau sebaliknya makan berlebihan sebagai bentuk pelampiasan emosi.
Berikut beberapa faktor psikologis yang diketahui dapat memengaruhi berat badan anak.
1. Stres pada Anak
Stres tidak hanya dialami oleh orang dewasa. Anak juga dapat mengalami stres akibat berbagai hal, seperti perubahan lingkungan, tekanan sekolah, konflik keluarga, atau pengalaman yang tidak menyenangkan.
Ketika anak mengalami stres, tubuh akan memproduksi hormon stres seperti kortisol. Hormon ini dapat memengaruhi metabolisme tubuh serta pola makan. Pada sebagian anak, stres dapat menurunkan nafsu makan sehingga berat badan sulit naik. Namun pada anak lain, stres justru memicu emotional eating, yaitu kebiasaan makan untuk meredakan perasaan tidak nyaman.
Penelitian menunjukkan bahwa paparan stres kronis pada masa kanak-kanak dapat berhubungan dengan perubahan regulasi nafsu makan dan risiko gangguan berat badan di kemudian hari.
2. Hubungan Orang Tua dan Anak
Interaksi antara orang tua dan anak memiliki peran penting dalam pembentukan kebiasaan makan. Cara orang tua merespons kebutuhan emosional anak dapat memengaruhi bagaimana anak menggunakan makanan.
Misalnya, jika makanan sering digunakan sebagai hadiah atau alat untuk menenangkan anak yang sedang sedih, anak dapat belajar mengasosiasikan makanan dengan kenyamanan emosional. Dalam jangka panjang, hal ini dapat meningkatkan risiko pola makan tidak sehat dan kenaikan berat badan berlebih.
Sebaliknya, pola asuh yang responsif, di mana orang tua memahami sinyal lapar dan kenyang anak, dapat membantu anak mengembangkan self-regulation terhadap makan, yang penting untuk menjaga berat badan tetap sehat.
3. Masalah Emosi dan Perilaku
Beberapa kondisi psikologis seperti kecemasan, depresi, atau gangguan perilaku juga dapat memengaruhi pola makan anak.
Anak yang mengalami kecemasan atau depresi mungkin kehilangan minat terhadap makanan sehingga asupan nutrisi berkurang. Sebaliknya, beberapa anak menggunakan makanan sebagai cara untuk mengatasi emosi negatif, yang dapat meningkatkan konsumsi makanan tinggi kalori.
Penelitian menunjukkan bahwa masalah emosional pada masa kanak-kanak dapat berhubungan dengan risiko obesitas maupun berat badan kurang, tergantung pada bagaimana kondisi tersebut memengaruhi perilaku makan anak.
4. Pengaruh Lingkungan Sosial dan Teman Sebaya
Lingkungan sosial juga dapat memengaruhi persepsi anak terhadap makanan dan tubuhnya. Tekanan dari teman sebaya, komentar tentang bentuk tubuh, atau pengalaman bullying dapat berdampak pada citra tubuh anak.
Anak yang merasa tidak percaya diri terhadap tubuhnya dapat mengalami perubahan perilaku makan, seperti makan berlebihan atau justru membatasi makanan secara tidak sehat. Hal ini dapat berdampak pada perubahan berat badan.
Selain itu, kebiasaan makan teman sebaya juga dapat memengaruhi pola makan anak, terutama pada usia sekolah ketika anak mulai lebih banyak menghabiskan waktu di luar rumah.
5. Kualitas Tidur dan Kesejahteraan Emosional
Kondisi psikologis anak juga berkaitan erat dengan kualitas tidur. Anak yang mengalami stres, kecemasan, atau tekanan emosional sering kali memiliki pola tidur yang terganggu.
Kurang tidur dapat memengaruhi hormon yang mengatur rasa lapar dan kenyang, seperti leptin dan ghrelin. Perubahan hormon ini dapat meningkatkan rasa lapar dan keinginan untuk mengonsumsi makanan tinggi kalori, yang pada akhirnya dapat memengaruhi berat badan anak.
Menjaga kesehatan anak tidak hanya berarti memastikan asupan nutrisi yang cukup, tetapi juga menciptakan lingkungan emosional yang aman dan suportif. Orang tua dapat membantu dengan membangun komunikasi yang baik, memahami kebutuhan emosional anak, serta menciptakan kebiasaan makan yang sehat dan positif.
Dengan memperhatikan aspek fisik dan psikologis secara bersamaan, pertumbuhan dan perkembangan anak dapat berlangsung lebih optimal.
Referensi:

5 Agu 2022

7 Des 2022

13 Sep 2023

3 Okt 2023
