Meta Pixel

22 Juni 2026

Apa Bedanya Vaksin Aktif & Inaktif?

Ditulis oleh

avatar

Dhia Priyanka

Topik: Vaksinasi, Vaksinasi Aktif, Vaksinasi Inaktif

Artikel ini telah divalidasi oleh dr. Susanti Himawan, Sp. A.

Vaksin aktif dan inaktif adalah dua kategori utama dalam imunologi vaksin dan memahami perbedaannya membantu orang tua mengerti mengapa jadwal imunisasi anak dirancang sedemikian rupa. Menurut CDC (2024), ada lebih dari 20 jenis vaksin yang direkomendasikan untuk anak sejak lahir hingga usia 18 tahun, yang terbagi dalam dua kategori besar ini. WHO (2024) menegaskan bahwa kedua jenis vaksin ini sama-sama aman, efektif, dan saling melengkapi dalam program imunisasi anak. 

Apa Itu Vaksin Aktif dan Vaksin Inaktif? 

Berikut penjelasan dasar kedua jenis vaksin yang perlu dipahami orang tua:

Vaksin Aktif (Live Attenuated) 

Vaksin Inaktif (Inactivated)

Menggunakan virus atau bakteri hidup yang telah dilemahkan di laboratorium, sehingga tidak menyebabkan penyakit pada orang sehat.

Menggunakan virus atau bakteri yang telah dimatikan sepenuhnya, atau hanya menggunakan bagian tertentu (protein, polisakarida, toksoid).

Menyerupai infeksi alami respons imun kuat dan bertahan lama.

Tidak dapat berkembang biak lebih banyak butuh booster untuk mempertahankan kekebalan.

Analogi: Seperti berlatih tinju dengan partner yang bergerak lambat, tubuh belajar penuh.

Analogi: Seperti berlatih tinju dengan sandbag, tubuh belajar mengenali target tapi respons lebih minimal.


Perbandingan Lengkap: Vaksin Aktif vs Vaksin Inaktif 

Tabel berikut merangkum semua perbedaan kunci antara vaksin aktif dan inaktif: 

Aspek 

Vaksin Aktif (Live Attenuated) 

Vaksin Inaktif (Inactivated)

Kandungan 

Kuman hidup yang dilemahkan

Kuman mati/komponen kuman (subunit, toksoid)

Kemampuan 

berkembang biak 

Ya, di dalam tubuh (sangat terbatas) 

Tidak

Kekuatan respons 

imun 

★★★★★ Sangat kuat 

★★★ Baik (perlu booster)

Durasi perlindungan 

Seringkali seumur hidup setelah dosis lengkap

Perlu booster berkala untuk beberapa vaksin

Jumlah dosis primer 

Lebih sedikit (sering 1–2 dosis) 

Lebih banyak (sering 2–4 dosis)

Kebutuhan booster 

Umumnya tidak atau jarang

Sering diperlukan (influenza tahunan, DPT, dll.)

Penggunaan pada 

imunosupresan 

■ Umumnya TIDAK boleh 

■ Umumnya masih boleh

Penggunaan pada ibu hamil 

■ Sebagian besar tidak direkomendasikan 

■ Beberapa direkomendasikan (influenza, Tdap)

Risiko menyebabkan penyakit 

Sangat kecil (pada individu sangat sehat) 

Tidak ada (kuman sudah mati)

Penyimpanan 

Umumnya lebih sensitif, butuh cold chain ketat

Relatif lebih stabil


Contoh Vaksin Aktif dan Inaktif yang Diberikan pada Anak 

Berikut daftar lengkap vaksin berdasarkan jenisnya, sesuai jadwal imunisasi IDAI dan rekomendasi CDC (2024):

Vaksin Aktif

(Live Attenuated) 

Melindungi dari 

Catatan Khusus

MMR 

Campak, Gondongan, Rubella 

2 dosis; kontra indikasi kehamilan & 

imunosupresan berat

Varisela (Cacar Air) 

Varicella-zoster 

2 dosis; kontra indikasi kehamilan

Rotavirus (beberapa jenis) 

Diare rotavirus 

Oral; diberikan sebelum usia 8 bulan

OPV (Polio Oral) 

Polio 

Digunakan di banyak negara berkembang

BCG 

Tuberkulosis (TB) berat 

1 dosis saat lahir; intradermal

Vaksin Influenza 

Semprot 

Influenza 

Tersedia terbatas; tidak untuk semua negara

Vaksin Demam Kuning (YF) 

Yellow Fever 

Untuk perjalanan ke daerah endemis



Vaksin Inaktif 

(Inactivated/Subunit/Toksoid)

Melindungi dari 

Catatan Khusus

IPV (Polio Suntik) 

Polio 

4 dosis; boleh untuk imunosupresan

DPT / DTP / Tdap 

Difteri, Pertusis, Tetanus 

5 dosis primer + booster; toksoid

Hepatitis A 

Hepatitis A 

2 dosis; aman untuk hampir semua kondisi

Hepatitis B 

Hepatitis B 

3–4 dosis sejak lahir; aman untuk imunosupresan

Hib (Haemophilus 

influenzae B) 

Meningitis, epiglotitis 

Konjugat; 3–4 dosis

PCV (Pneumokokus) 

Pneumonia, meningitis 

3–4 dosis; konjugat

Vaksin Influenza Suntik 

Influenza 

Tahunan; boleh untuk ibu hamil & imunosupresan

Vaksin Japanese 

Encephalitis 

Radang otak JE 

Inaktif (SA 14-14-2); 2 dosis

Vaksin Dengue (beberapa jenis) 

Demam Berdarah 

Subunit rekombinan; sesuai usia & indikasi

Vaksin HPV 

Kanker serviks, kondiloma 

VLP (virus-like particle); 2–3 dosis

Vaksin Rabies 

Rabies 

Pre/post-exposure; 3–5 dosis


Panduan Vaksinasi Anak dengan Kondisi Khusus 

Perbedaan vaksin aktif dan inaktif paling kritis pada anak dengan kondisi imunokompromis. Berikut panduan berdasarkan rekomendasi AAP Red Book (2024):

Kondisi Anak 

Vaksin Aktif 

Vaksin Inaktif 

Catatan

Anak sehat 

■ Boleh semua 

■ Boleh semua 

Sesuai jadwal IDAI

Imunosupresan dosis rendah

■ Konsultasi 

dokter

■ Umumnya 

boleh

Tergantung dosis & durasi

Imunosupresan dosis tinggi 

■ Tidak boleh

■ Umumnya 

boleh

Tunda vaksin aktif minimal 3 bulan setelah selesai

Kemoterapi aktif 

■ Tidak boleh 

■ Beberapa boleh 

Konsultasi onkologi anak

HIV terkontrol (CD4 

baik)

■ Sebagian boleh (MMR, Varisela) 

■ Boleh semua 

Evaluasi CD4 dan viral load

Ibu hamil 

■ Sebagian besar tidak

■ Influenza, Tdap boleh

Konsultasi DSOG dan dokter anak


Mengapa Beberapa Vaksin Perlu Booster dan Yang Lain Tidak? 

Kebutuhan booster sangat dipengaruhi oleh jenis vaksin aktif atau inaktif. Ini adalah salah satu alasan utama mengapa jadwal imunisasi anak dirancang seperti yang ada sekarang: 

Vaksin 

Jenis 

Jadwal Booster 

Alasan

MMR 

Aktif 

2 dosis; tidak perlu booster rutin

Respons imun kuat dan bertahan sangat lama

Varisela 

Aktif 

2 dosis; umumnya tidak perlu 

booster

Kekebalan seumur hidup setelah 2 dosis

Influenza suntik 

Inaktif 

Setiap tahun 

Virus influenza bermutasi cepat tiap musim

DPT / Tdap 

Inaktif 

(toksoid)

Primer 3–4 dosis + booster usia 18 bln, 5 th, 10 th

Kekebalan terhadap pertusis memudar setelah beberapa tahun

Hepatitis A 

Inaktif 

2 dosis (jarak 6 bln) 

Dosis kedua untuk kekebalan jangka panjang

Hepatitis B 

Inaktif 

(subunit)

3–4 dosis; umumnya tidak perlu booster rutin

Anti-HBs yang terbentuk cukup protektif jangka panjang

PCV 

(Pneumokokus)

Inaktif 

(konjugat) 

3–4 dosis primer + 1 booster

Booster memperkuat respons memori imun


FAQ: Pertanyaan Umum tentang Vaksin Aktif dan Inaktif 

Q: Apakah vaksin aktif bisa menyebabkan penyakit pada anak? 

A: Sangat jarang pada anak sehat. Karena kuman sudah sangat dilemahkan, efek yang mungkin terjadi hanya ringan (demam ringan, ruam kecil) yang mencerminkan respons imun, bukan penyakit sesungguhnya. Risiko ini jauh lebih kecil dibandingkan risiko terkena penyakit alami tanpa vaksin. 

Q: Bisakah anak yang alergi telur mendapat vaksin aktif seperti MMR? 

A: Ya, MMR tetap aman untuk anak dengan alergi telur, termasuk alergi berat. Komponen MMR yang diproduksi dalam sel ayam berbeda dari protein telur. Pengecualian: alergi anafilaksis berat terhadap gelatin atau neomisin dalam vaksin tersebut perlu evaluasi dokter sebelum pemberian. 

Q: Apakah vaksin aktif dan inaktif bisa diberikan dalam satu kunjungan? 

A: Ya, sepenuhnya aman dan efektif. Pemberian simultan (bersamaan) sudah terbukti tidak mengurangi imunogenisitas atau meningkatkan efek samping secara bermakna. Ini justru membantu mengurangi keterlambatan imunisasi (Kroger et al., 2023). 

Q: Mengapa OPV (polio oral/aktif) dan IPV (polio suntik/inaktif) sama-sama digunakan?

A: OPV memberikan kekebalan mukosa usus yang sangat baik dan murah, penting untuk eradikasi polio. IPV memberikan kekebalan sistemik tanpa risiko (sangat kecil) polio yang berasal dari vaksin (VAPP). Banyak program imunisasi menggunakan kombinasi keduanya untuk memaksimalkan perlindungan. 

Q: Anak imunosupresan kapan boleh mendapat vaksin aktif kembali? 

A: Setelah penghentian imunosupresan dosis tinggi, umumnya perlu menunggu minimal 1–3 bulan sebelum vaksin aktif diberikan (lebih lama untuk kemoterapi: 3–6 bulan). Jadwal spesifik ditentukan dokter berdasarkan jenis dan dosis obat. Vaksin inaktif umumnya bisa diberikan lebih cepat setelah kondisi stabil. 

Q: Apakah vaksin subunit dan toksoid termasuk vaksin inaktif? 

A: Ya. Vaksin inaktif mencakup beberapa subtipe: vaksin killed whole (seluruh kuman dimatikan), vaksin subunit (hanya protein kuman tertentu), toksoid (toksin yang diinaktivasi, seperti difteri & tetanus), dan konjugat (polisakarida + protein pembawa). Semua tidak mengandung kuman hidup, sehingga tidak bisa berkembang biak. 


Referensi:

1. World Health Organization. Immunization Agenda 2030 and Vaccine Basics. WHO; 2024. 

2. Centers for Disease Control and Prevention. Types of Vaccines. CDC; 2024.

3. Plotkin SA, Orenstein WA, Offit PA, Edwards KM. Plotkin's Vaccines. 8th ed. Elsevier; 2024. 

4. American Academy of Pediatrics. Red Book: Report of the Committee on Infectious Diseases. 33rd ed. AAP; 2024.

5. Kroger A, Bahta L, Hunter P. General Best Practice Guidelines for Immunization. MMWR Recommendations and Reports. 2023;72(1):1–118.

6. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Jadwal Imunisasi Anak 0–18 Tahun Rekomendasi IDAI 2023. IDAI; 2023.

7. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Penyelenggaraan Imunisasi. Kemenkes RI; 2023.

8. Siegrist CA. Vaccine Immunology. In: Plotkin SA, et al. Plotkin's Vaccines. 8th ed. Elsevier; 2024:Ch.2.