21 Agustus 2026
Efek Samping Vaksin Hepatitis A dan B
Ditulis oleh

Dhia Priyanka
Topik: Vaksinasi, Hepatitis A, Hepatitis B, Efek Samping
Artikel ini telah divalidasi oleh dr. Dini Mirasanti, Sp.A
Vaksin hepatitis A dan B membantu mencegah infeksi hati yang berpotensi menimbulkan penyakit serius. Seperti vaksin dan obat lainnya, vaksinasi dapat menimbulkan reaksi setelah penyuntikan. Namun, sebagian besar efek samping vaksin hepatitis bersifat ringan dan hanya berlangsung selama satu hingga dua hari.
Keluhan yang paling sering terjadi adalah nyeri, kemerahan, atau bengkak ringan di lokasi suntikan. Sebagian penerima juga dapat mengalami demam ringan, sakit kepala, lelah, atau penurunan nafsu makan.
Jenis dan tingkat reaksi dapat berbeda pada setiap orang. Tidak mengalami efek samping bukan berarti vaksin gagal bekerja. Sebaliknya, munculnya demam atau nyeri juga bukan ukuran bahwa perlindungan yang terbentuk lebih kuat.
Apa yang Dimaksud Efek Samping dan KIPI?
Efek samping adalah reaksi yang telah diketahui dapat muncul akibat suatu vaksin, misalnya nyeri di lokasi suntikan atau demam ringan.
Adapun KIPI, atau kejadian ikutan pascaimunisasi, mencakup setiap masalah kesehatan yang terjadi setelah vaksin diberikan. KIPI tidak selalu disebabkan oleh vaksin. Suatu keluhan dapat muncul secara kebetulan karena penyakit lain, kecemasan, teknik penyuntikan, atau kondisi yang sudah ada sebelumnya. WHO menegaskan bahwa kejadian setelah imunisasi belum otomatis mempunyai hubungan sebab-akibat dengan vaksin. Penilaian medis dan penyelidikan diperlukan untuk mengetahui penyebabnya.
Efek Samping Vaksin Hepatitis A yang Umum
Menurut CDC, efek yang paling umum setelah vaksin hepatitis A meliputi:
- Nyeri atau rasa sensitif di lokasi suntikan
- Kemerahan
- Pembengkakan
- Rasa hangat atau benjolan kecil di lokasi suntikan
- Demam ringan
- Sakit kepala
- Mual
- Badan terasa kurang nyaman
- Nafsu makan berkurang
Pada bayi dan anak kecil, reaksi juga dapat berupa:
- Lebih rewel
- Mengantuk
- Lebih mudah menangis
- Makan dan minum sedikit berkurang.
Keluhan biasanya ringan dan mereda dalam satu sampai dua hari. Benjolan kecil di lokasi suntikan terkadang bertahan lebih lama, tetapi umumnya mengecil secara bertahap.
Sebuah tinjauan sistematis dan meta-analisis pada populasi anak yang diterbitkan dalam Italian Journal of Pediatrics pada 2025 juga mendukung bahwa vaksin hepatitis A yang diteliti dapat ditoleransi dengan baik. Profil reaksinya dapat berbeda menurut jenis produk, tetapi keluhan lokal tetap menjadi salah satu reaksi yang paling umum.
Efek Samping Vaksin Hepatitis B yang Umum
Setelah vaksin hepatitis B, reaksi yang dapat muncul antara lain:
- Nyeri di tempat suntikan
- Kemerahan atau bengkak ringan
- Demam ringan
- Sakit kepala
- Lelah
- Anak menjadi rewel
- Tubuh terasa kurang nyaman
CDC menyebut nyeri di lokasi suntikan sebagai keluhan yang paling sering dilaporkan. Reaksi tersebut umumnya ringan dan membaik tanpa pengobatan khusus.
Vaksin hepatitis B juga sering terdapat di dalam vaksin kombinasi, misalnya DPT-HB-Hib. Dalam keadaan ini, demam atau reaksi lainnya tidak selalu dapat dikaitkan hanya dengan komponen hepatitis B karena produk tersebut mengandung beberapa antigen.
MomDad perlu memeriksa nama lengkap vaksin pada buku KIA atau kartu imunisasi ketika melaporkan suatu reaksi kepada dokter.
Cara Menangani Efek Samping Ringan di Rumah
Lakukan tips berikut di rumah untuk menangani efek samping ringan vaksin hepatitis:
1. Berikan cairan yang cukup
Bayi dapat lebih sering disusui. Anak yang lebih besar dan orang dewasa sebaiknya minum cukup untuk mencegah dehidrasi, terutama jika mengalami demam.
2. Biarkan tubuh beristirahat
Aktivitas ringan tetap boleh dilakukan jika penerima merasa nyaman. Hindari aktivitas berat apabila badan terasa lelah atau kurang sehat.
3. Kompres lokasi suntikan
Gunakan kain bersih yang dibasahi air sejuk untuk membantu mengurangi nyeri dan bengkak. Jangan menempelkan es langsung ke kulit.
4. Jangan memijat area suntikan
Memijat atau menekan lokasi suntikan dapat memperburuk rasa nyeri dan iritasi.
5. Gunakan pakaian yang nyaman
Pilih pakaian longgar agar area suntikan tidak terus bergesekan atau tertekan.
6. Berikan obat hanya jika diperlukan
Obat penurun demam atau pereda nyeri dapat dipertimbangkan jika penerima merasa tidak nyaman. Untuk anak, dosis harus disesuaikan dengan berat badan dan mengikuti petunjuk dokter atau tenaga kesehatan.
Jangan memberikan aspirin kepada anak atau remaja tanpa instruksi dokter. Hindari memberikan obat sebelum vaksinasi hanya untuk mencegah demam, kecuali tenaga kesehatan secara khusus menganjurkannya.
FAQ tentang Efek Samping Vaksin Hepatitis
Q: Apakah demam setelah vaksin hepatitis normal?
A: Demam ringan dapat terjadi setelah vaksin hepatitis A maupun B. Konsultasikan jika demam tinggi, menetap, atau disertai gejala yang mengkhawatirkan.
Q: Apakah lokasi suntikan boleh dikompres?
A: Boleh. Gunakan kain bersih dengan air sejuk. Jangan mengoleskan bahan yang tidak dianjurkan atau memijat area suntikan.
Q: Apakah boleh mandi setelah vaksin?
A: Boleh. Mandi tidak mengurangi efektivitas vaksin. Jaga area suntikan tetap bersih dan hindari menggosoknya terlalu keras.
Q: Apakah anak boleh sekolah setelah vaksinasi?
A: Anak boleh beraktivitas apabila merasa sehat. Jika demam, lelah, atau rewel, berikan waktu untuk beristirahat.
Q: Apakah tidak muncul efek samping berarti vaksin tidak bekerja?
A: Tidak. Efektivitas vaksin tidak ditentukan dari ada atau tidaknya demam, nyeri, atau bengkak.
Q: Apakah reaksi ringan berarti dosis berikutnya harus dihentikan?
A: Biasanya tidak. Nyeri, kemerahan, atau demam ringan bukan kontraindikasi untuk dosis berikutnya. Anafilaksis atau reaksi berat harus dinilai oleh dokter.
Q: Apakah vaksin hepatitis aman untuk ibu hamil?
A: Vaksin hepatitis A dapat diberikan jika ibu hamil berisiko terinfeksi atau mengalami penyakit berat. Vaksin hepatitis B juga dapat diberikan apabila terdapat indikasi. Penentuan produk dan jadwal dilakukan bersama dokter.
Sebagian besar efek samping vaksin hepatitis A dan B bersifat ringan, seperti nyeri di lokasi suntikan, kemerahan, demam ringan, sakit kepala, atau lelah. Keluhan biasanya muncul segera setelah vaksinasi dan mereda dalam satu hingga dua hari.
Reaksi alergi berat sangat jarang, tetapi harus ditangani segera. Waspadai kesulitan bernapas, pembengkakan wajah atau tenggorokan, biduran menyeluruh, pusing berat, serta penurunan kesadaran.
Sampaikan riwayat alergi dan reaksi vaksin sebelumnya kepada tenaga kesehatan. Apabila suatu gejala menetap, semakin berat, atau membuat kondisi anak maupun penerima vaksin tampak mengkhawatirkan, segera lakukan pemeriksaan. Artikel ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan diagnosis atau penanganan dokter.
Referensi:
1. Centers for Disease Control and Prevention. [Hepatitis A Vaccine Safety]
2. Centers for Disease Control and Prevention. [Hepatitis B Vaccine Safety]
3. Centers for Disease Control and Prevention. [Hepatitis A Vaccine Information Statement
4. Centers for Disease Control and Prevention. [Possible Side Effects from Vaccines]
5. Centers for Disease Control and Prevention. [Pink Book, Chapter 10: Hepatitis B]
6. World Health Organization. [Vaccines and Immunization: Vaccine Safety]
7. World Health Organization. [Hepatitis A Vaccine Safety Information Sheet]
8. Abo Zeid M, et al. [Comparison of safety and immunogenicity between Healive, Havrix, and live attenuated hepatitis A vaccines in pediatric populations: A systematic review with meta-analysis]
9. Demicheli V, Tiberti D. [The effectiveness and safety of hepatitis A vaccine: A systematic review]. 2003;21(19–20):2242–2245.
10. Duclos P. [Safety of immunisation and adverse events following vaccination against hepatitis B. 2003;2(3):225–231.






