Meta Pixel

12 September 2026

Jadwal Vaksin Polio Suntik dan Tetes

Ditulis oleh

avatar

Dhia Priyanka

Topik: Polio Tetes, Polio Suntik, Jadwal Vaksin

Artikel initelah divalidasi oleh dr. Lucyana Alim Santoso, Sp.A.

Program nasional Indonesia memberikan polio tetes pada usia 0- 1, 2, 3, dan 4 bulan, lalu polio suntik pada usia 4 dan 9 bulan. OPV dan IPV saling melengkapi dan bukan pilihan salah satu. Jadwal dapat disesuaikan dokter bila bayi terlambat, sedang sakit, mengikuti program khusus, atau pernah menerima vaksin kombinasi.

Jadwal vaksin polio di Indonesia mencakup empat dosis polio tetes atau bOPV dan dua dosis polio suntik atau IPV. Kementerian Kesehatan menyebut kombinasi tersebut memberikan perlindungan optimal terhadap polio.


Apa Itu Penyakit Polio?

Polio atau poliomielitis adalah penyakit menular akibat poliovirus. Virus masuk melalui mulut, berkembang biak di saluran cerna, dan pada sebagian kecil kasus menyerang sistem saraf. Akibat terberatnya adalah kelumpuhan permanen, gangguan napas, atau kematian.

Banyak infeksi poliovirus tidak menimbulkan gejala, sehingga orang yang tampak sehat dapat membantu penyebaran melalui tinja yang mencemari tangan, air, makanan, atau lingkungan. Tidak ada obat yang dapat menyembuhkan kelumpuhan akibat polio; pencegahan dengan imunisasi dan sanitasi menjadi perlindungan utama.


Berapa Dosis Vaksin Polio yang Dibutuhkan?

Menurut jadwal imunisasi rutin Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, bayi mendapatkan:

• Empat dosis vaksin polio tetes bivalen atau bOPV pada usia 0-1, 2, 3, dan 4 bulan.

• Dua dosis vaksin polio suntik atau IPV pada usia 4 dan 9 bulan.

Dengan demikian, program rutin menggunakan enam kali pemberian vaksin polio: empat melalui mulut dan dua melalui suntikan. Satu kunjungan pada usia 4 bulan mencakup bOPV dosis keempat serta IPV dosis pertama.

Bayi mungkin menerima IPV sebagai bagian dari vaksin kombinasi yang juga mengandung antigen lain. Karena itu, hitung dosis berdasarkan kandungan vaksin pada catatan imunisasi, bukan hanya jumlah suntikan.


Jadwal Vaksin Polio Tetes dan Suntik di Indonesia

Polio Tetes Pertama pada Usia 1 Bulan

bOPV pertama diberikan pada 1 bulan pertama kehidupan  dalam jadwal Kemenkes. Di beberapa fasilitas atau situasi program, vaksin oral dapat diberikan lebih awal setelah lahir sesuai kebijakan setempat. Pastikan tanggal dan nama vaksin dicatat pada buku KIA atau rekam imunisasi.

Polio Tetes Usia 2, 3, dan 4 Bulan

Dosis berikutnya diberikan tiap bulan pada usia 2, 3, dan 4 bulan. Jadwal ini sering bertepatan dengan vaksin rutin lain sehingga jumlah kunjungan dapat dibuat lebih efisien.

Polio (1) (1).png

Polio Suntik Usia 4 dan 9 Bulan

IPV pertama diberikan pada usia 4 bulan dan IPV kedua pada usia 9 bulan. Pada usia 9 bulan, IPV dapat dijadwalkan bersamaan dengan vaksin campak-rubela sesuai program nasional.


Mengapa Vaksin Polio Ada yang Tetes dan Suntik?

Vaksin Polio Tetes atau OPV

OPV mengandung virus polio hidup yang dilemahkan dan diberikan melalui mulut. Vaksin ini membentuk kekebalan pada usus, tempat poliovirus berkembang biak, sehingga efektif membantu memutus penularan di komunitas. Pemberiannya mudah dan sangat penting dalam strategi eradikasi polio.

Indonesia menggunakan bOPV yang menargetkan poliovirus tipe 1 dan 3. Vaksin oral trivalen lama yang juga mengandung tipe 2 tidak lagi digunakan secara rutin sejak perubahan global pada 2016.

Vaksin Polio Suntik atau IPV

IPV mengandung virus polio yang sudah diinaktivasi sehingga tidak dapat berkembang biak. Vaksin diberikan melalui suntikan dan membentuk kekebalan dalam darah yang kuat untuk mencegah virus menyerang sistem saraf serta menyebabkan kelumpuhan.

CDC melaporkan sedikitnya 90% penerima membentuk kekebalan setelah dua dosis IPV dan setidaknya 99% setelah tiga dosis pada jadwal IPV. Angka ini merupakan data IPV dan tidak boleh digunakan untuk menghitung ulang jadwal nasional Indonesia.


Mengapa Keduanya Perlu?

OPV memberi perlindungan usus yang penting untuk mengurangi penularan, sedangkan IPV memperkuat perlindungan individu terhadap kelumpuhan. WHO mendukung penggunaan IPV bersama OPV pada negara yang masih memakai vaksin oral. Karena fungsi keduanya saling melengkapi, dosis suntik tidak otomatis menggantikan seluruh dosis tetes, begitu pula sebaliknya.


Bagaimana Jika Jadwal Vaksin Polio Terlambat?

Imunisasi yang terlambat umumnya tidak perlu dimulai dari awal. Dosis yang sudah sah tetap dihitung, kemudian seri dilanjutkan dengan interval yang sesuai usia dan jenis vaksin.

Langkah yang dapat dilakukan:

1. Kumpulkan buku KIA, kartu vaksin, catatan rumah sakit, dan rekam imunisasi digital.

2. Catat apakah vaksin diberikan melalui mulut atau suntikan serta tanggalnya.

3. Bawa catatan ke dokter, puskesmas, atau fasilitas vaksinasi.

4. Ikuti jadwal kejar yang dibuat berdasarkan usia, jumlah dosis sebelumnya, interval, serta situasi polio setempat.

5. Jangan menunda hanya karena jedanya sudah sangat lama.

Jika catatan hilang atau jenis vaksin tidak jelas, tenaga kesehatan akan menilai ulang berdasarkan riwayat dan pedoman. Jangan menganggap semua vaksin kombinasi pasti mengandung IPV; periksa nama serta komponennya.


Bolehkah OPV dan IPV Diberikan Bersamaan?

Boleh sesuai jadwal dan penilaian tenaga kesehatan. Kemenkes menjadwalkan bOPV keempat dan IPV pertama pada usia 4 bulan. Vaksin polio juga dapat diberikan bersamaan dengan vaksin rutin lain pada lokasi pemberian yang sesuai.

Pemberian beberapa vaksin dalam satu kunjungan tidak membebani sistem imun. Justru, cara ini membantu anak mendapatkan perlindungan tepat waktu dan mengurangi kunjungan yang terlewat.


Siapa yang Perlu Mendapat Penilaian Khusus?

Sampaikan kepada tenaga kesehatan bila anak:

• Pernah mengalami alergi berat setelah dosis atau komponen vaksin sebelumnya.

• Memiliki gangguan kekebalan bawaan atau sedang mendapat obat penekan imun.

• Tinggal serumah dengan orang yang mengalami gangguan kekebalan berat.

• Sedang sakit sedang hingga berat atau mengalami demam tinggi.

• Memiliki riwayat vaksinasi dari luar negeri.

• Akan bepergian ke wilayah dengan risiko poliovirus.

Karena OPV merupakan vaksin hidup yang dilemahkan, kondisi gangguan kekebalan membutuhkan penilaian khusus. IPV tidak mengandung virus hidup dan dapat menjadi bagian penting dari rencana perlindungan, tetapi keputusan jenis serta jadwal tetap dibuat oleh dokter.

Pilek ringan, batuk ringan, atau demam rendah biasanya bukan alasan otomatis menunda imunisasi. Petugas kesehatan akan menilai kondisi anak pada hari vaksinasi.


FAQ tentang Jadwal Vaksin Polio

Q: Vaksin polio tetes berapa kali diberikan?

A: Dalam jadwal rutin Kemenkes, bOPV diberikan empat kali pada usia 0, 1, 2, 3, dan 4 bulan.


Q: Vaksin polio suntik berapa kali diberikan?

A: Program nasional memberikan dua dosis IPV, yaitu pada usia 4 dan 9 bulan. Jadwal individual dapat berbeda bila anak mengikuti imunisasi kejar atau pernah divaksinasi di luar negeri.


Q: Apakah bayi harus mendapat polio tetes dan suntik?

A: Ya, jadwal Indonesia menggunakan keduanya karena perlindungannya saling melengkapi. OPV membantu membangun kekebalan usus dan mengurangi penularan, sedangkan IPV memperkuat perlindungan terhadap kelumpuhan.


Q: Jika polio tetes terlambat, apakah harus mengulang dari awal?

A: Umumnya tidak. Dosis yang sudah diberikan tetap dihitung jika sah, lalu dilanjutkan sesuai jadwal kejar. Bawa catatan imunisasi agar dokter dapat menentukan dosis berikutnya.


Q: Apakah setelah polio tetes bayi tidak boleh minum ASI?

A: ASI tetap dapat diberikan. Ikuti instruksi petugas pada saat vaksinasi apabila ada kondisi khusus. Tidak perlu membuat bayi puasa dalam waktu lama sebelum atau sesudah vaksin.


Q: Apakah vaksin polio menyebabkan polio?

A: IPV tidak dapat menyebabkan polio karena virusnya telah diinaktivasi. OPV menggunakan virus yang dilemahkan; kejadian serius terkait virus vaksin sangat jarang. Manfaat program imunisasi dalam mencegah kelumpuhan dan memutus penularan jauh lebih besar daripada risikonya.


Q: Bolehkah vaksin polio diberikan saat bayi pilek?

A: Pilek ringan tanpa kondisi berat biasanya bukan alasan otomatis untuk menunda. Namun, bayi tetap perlu diperiksa petugas. Demam tinggi atau sakit sedang hingga berat dapat membuat vaksinasi dijadwalkan ulang.


Q: Apakah vaksin kombinasi sudah termasuk polio suntik?

A: Sebagian vaksin kombinasi mengandung IPV, tetapi tidak semuanya. Periksa nama produk atau catatan komponennya. Dokter akan menghitungnya sebagai dosis IPV bila produk, usia, dan interval pemberiannya sesuai.


Jadwal vaksin polio Indonesia terdiri dari empat dosis tetes pada usia 1, 2, 3, dan 4 bulan serta dua dosis suntik pada usia 4 dan 9 bulan. Kedua jenis vaksin bekerja saling melengkapi. Bila jadwal terlewat atau catatan vaksin berasal dari negara lain, jangan mengulang sendiri, bawa seluruh dokumentasi agar tenaga kesehatan dapat menyusun imunisasi kejar.


Referensi:

1. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Seputar Imunisasi: Jadwal Pemberian Imunisasi Rutin Lengkap. Kemenkes RI; 2026.

2. Ikatan Dokter Anak Indonesia. Jadwal Imunisasi Anak Usia 0–18 Tahun, Rekomendasi IDAI Tahun 2024. IDAI; 2025.

3. World Health Organization. Polio Vaccines: WHO Position Paper—June 2022. Weekly Epidemiological Record; 2022.

4. World Health Organization. Poliomyelitis (Polio): Vaccines and Immunization. WHO; 2026.

5. Centers for Disease Control and Prevention. Polio Vaccination. CDC; 2024.

6. Centers for Disease Control and Prevention. Polio Vaccine Recommendations. CDC; 2024.

7. Global Polio Eradication Initiative. Polio Eradication Strategy 2022–2026. WHO; 2021.