Meta Pixel

17 Juni 2026

Kapan Vaksinasi Anak Perlu Ditunda?

Ditulis oleh

avatar

Dhia Priyanka

Topik: Vaksinasi, tunda vaksinasi

Artikel ini telah divalidasi oleh dr. Dini Mirasanti, Sp.A.

Menunda imunisasi anak bukan keputusan yang boleh diambil sembarangan. Menurut WHO (2023), vaksinasi mencegah 3,5–5 juta kematian setiap tahun di seluruh dunia dari penyakit seperti difteri, tetanus, pertusis, dan campak. IDAI (2013) menegaskan bahwa setiap penundaan imunisasi secara langsung memperpanjang periode di mana anak tidak terlindungi dari penyakit berbahaya. 

Namun, memang ada kondisi medis tertentu yang memperbolehkan, bahkan mengharuskan, penundaan imunisasi. Artikel ini menjelaskan secara lengkap: kondisi apa saja yang menjadi alasan sah menunda imunisasi, kondisi yang sering dianggap alasan tapi sebenarnya tidak perlu menunda, panduan per jenis vaksin, dan kapan harus konsultasi dokter. 

Apa Itu Imunisasi dan Bagaimana Cara Kerjanya? 

Imunisasi adalah suatu bentuk imunisasi aktif yang melatih sistem kekebalan tubuh untuk mengenali dan melawan patogen tertentu. Saat vaksin diberikan, tubuh membentuk antibodi dan sel memori imun, sehingga jika patogen asli masuk ke tubuh di kemudian hari, sistem imun dapat merespons lebih cepat dan efektif.

Manfaat Imunisasi 

Penjelasan

Mencegah sakit 

Tubuh yang sudah divaksin lebih mampu melawan infeksi sebelum menimbulkan penyakit

Mencegah sakit berat 

Jika tetap sakit, vaksin sering membuat gejala lebih ringan dan pemulihan lebih cepat

Mencegah kematian 

WHO: vaksinasi mencegah 3,5–5 juta kematian per tahun dari penyakit yang dapat dicegah

Herd immunity 

Melindungi bayi <2 bulan dan anak imunokompromis yang belum bisa divaksin

Mengurangi beban biaya 

Mencegah rawat inap dan komplikasi jangka panjang akibat penyakit infeksi


Kondisi yang Membolehkan Penundaan Imunisasi 

Berdasarkan rekomendasi IDAI (2013) dan panduan WHO, berikut kondisi yang secara medis membolehkan atau mengharuskan penundaan imunisasi: 

Kondisi 

Tindakan yang Dianjurkan 

Catatan Penting

Sakit berat / demam tinggi (>38°C) 

Tunda hingga anak pulih

Demam ringan <38°C umumnya masih boleh divaksin

Obat penekan imun 

(imunosupresan)

Konsultasi dokter; tergantung jenis vaksin, dosis, dan durasi obat

Hepatitis B boleh diberikan meski sedang imunosupresan

Prednison 2 mg/kg 

BB/hari

Tunda imunisasi 1 bulan setelah 

pengobatan selesai

Dosis lebih rendah mungkin masih boleh, konsultasi dokter

Pengobatan penyakit berat (kemoterapi, dll.)

Tunda; rencanakan jadwal ulang dengan dokter spesialis

Beberapa vaksin inaktif mungkin boleh selama terapi, konfirmasi dokter

Reaksi anafilaksis pada dosis vaksin sebelumnya

Jangan berikan vaksin yang sama; evaluasi alergi dengan dokter

Ini kontra indikasi permanen, bukan sekadar penundaan


Kondisi yang TIDAK Perlu Menunda Imunisasi 

Banyak orang tua menunda imunisasi karena kondisi yang sebenarnya tidak menjadi hambatan medis. Berikut kondisi yang umumnya masih boleh divaksinasi berdasarkan IDAI dan CDC: 

Kondisi Anak 

Boleh Vaksin? 

Keterangan

Demam ringan <38°C 

■ Ya 

Tidak menjadi kontra indikasi; tetap pantau kondisi anak

Diare ringan 

■ Ya 

Tidak mempengaruhi efektivitas vaksin secara signifikan

Batuk pilek ringan 

■ Ya 

Infeksi saluran napas atas ringan bukan hambatan

Sedang konsumsi 

antibiotik 

■ Ya 

Antibiotik tidak mempengaruhi respons imun terhadap vaksin

Baru sembuh dari sakit ringan 

■ Ya 

Jika sudah merasa baik dan tidak demam, vaksin bisa diberikan

Anak sangat rewel dan tidak nyaman

■ Tunda 1–2 

minggu

Pertimbangan kenyamanan, bukan kontra indikasi medis

Riwayat kejang demam (sudah stabil) 

■ Ya 

Konsultasi dokter, tapi umumnya tidak menjadi hambatan


Vaksin Hidup vs Vaksin Inaktif: Mengapa Ini Penting?

Kontra indikasi tidak sama untuk setiap vaksin. Perbedaan jenis vaksin, hidup (live attenuated) vs inaktif (killed/subunit), menentukan siapa yang boleh menerimanya, terutama pada anak dengan kondisi imunokompromis:

Aspek 

Vaksin Hidup (Live Attenuated) 

Vaksin Inaktif / Mati

Contoh vaksin 

MMR, Varisela, BCG, Rotavirus, OPV 

Hepatitis B, DTP, IPV, Hib, PCV, Tifoid

Pada anak 

imunosupresan 

Umumnya TIDAK boleh diberikan

Umumnya masih boleh, konfirmasi dokter

Setelah selesai 

imunosupresan

Tunda minimal 3 bulan setelah obat selesai

Dapat diberikan lebih cepat sesuai kondisi klinis

Pada anak HIV 

(terkontrol)

Tergantung CD4, konsultasi dokter spesialis

Umumnya tetap direkomendasikan

Efektivitas jika 

diberikan saat sakit 

ringan

Mungkin sedikit berkurang, 

pertimbangkan manfaat vs risiko 

Tidak terpengaruh signifikan


Apa yang Harus Dilakukan jika Imunisasi Terlanjur Tertunda? 

Jika imunisasi sudah terlanjur tertunda, jangan khawatir, sebagian besar jadwal imunisasi yang terlewat dapat dikejar (catch-up immunization). Berikut langkah yang perlu diambil:

Catat vaksin apa saja yang terlewat

Periksa buku KIA atau catatan imunisasi anak untuk mengetahui vaksin mana yang sudah dan belum diberikan.

Konsultasi ke dokter atau tenaga kesehatan

Dokter akan menyusun jadwal catch-up sesuai usia anak dan jarak antar dosis yang diperlukan.

Tidak perlu mengulang dari awal 

Vaksin yang sudah diberikan sebelum penundaan tidak perlu diulang, program imunisasi dilanjutkan dari titik terakhir.

Segera jadwalkan begitu kondisi memungkinkan 

Semakin cepat imunisasi dikejar, semakin cepat anak mendapat perlindungan yang seharusnya.


Tanda Harus Segera Konsultasi Dokter sebelum Imunisasi

Kondisi 

Mengapa Perlu Konsultasi Dulu

Anak sedang dalam kemoterapi atau radioterapi

Sistem imun sangat tertekan; jenis vaksin yang boleh diberikan sangat terbatas

Anak dengan HIV atau kondisi imunodefisiensi primer 

Vaksin hidup bisa berbahaya; perlu evaluasi CD4 dan kondisi klinis

Anak baru mendapat transfusi darah atau imunoglobulin 

Antibodi pasif dapat mengganggu respons vaksin hidup; tunda 3–11 bulan

Pernah anafilaksis setelah dosis vaksin sebelumnya 

Kontra indikasi permanen untuk vaksin tersebut; perlu evaluasi alergi

Demam >38°C pada hari imunisasi 

Tunda hingga anak pulih; sakit akut dapat mempengaruhi respons imun


FAQ: Pertanyaan Umum Orang Tua tentang Menunda Imunisasi 

Q: Apakah aman memberikan imunisasi saat anak sedang pilek ringan? 

A: Ya, umumnya aman. IDAI dan CDC menegaskan bahwa infeksi saluran napas atas ringan tanpa demam tinggi bukan merupakan kontra indikasi imunisasi. Vaksin tetap bisa diberikan dan efektivitasnya tidak berkurang secara bermakna. 

Q: Berapa lama harus menunggu setelah anak sakit sebelum bisa imunisasi?

A: Tidak ada aturan waktu tunggu yang baku untuk sakit ringan, cukup tunggu hingga anak merasa sehat kembali dan tidak demam. Untuk penyakit berat atau penggunaan obat penekan imun, jadwal tunggu ditentukan oleh dokter berdasarkan kondisi spesifik. 

Q: Apakah menunda imunisasi berarti harus mengulang dari awal? 

A: Tidak. Imunisasi yang terlanjur tertunda dilanjutkan dari titik terakhir, tidak perlu mengulang dosis yang sudah diberikan sebelumnya. Dokter akan menyusun jadwal catch-up yang tepat sesuai usia anak saat ini. 

Q: Apakah anak dengan alergi makanan boleh mendapat vaksin? 

A: Sebagian besar alergi makanan (susu, telur ringan, kacang) bukan kontra indikasi imunisasi. Pengecualian: alergi telur berat dan vaksin influenza atau yellow fever tertentu, konsultasi dokter untuk evaluasi. Alergi terhadap komponen vaksin spesifik yang perlu diwaspadai, bukan alergi makanan umum. 

Q: Bagaimana jika anak mendapat dua vaksin sekaligus, apakah aman? 

A: Ya, pemberian beberapa vaksin sekaligus (kombinasi atau simultan) sudah terbukti aman dan tidak membebani sistem imun anak secara berlebihan. Sistem imun bayi mampu merespons ribuan antigen sekaligus, memberi 2–4 vaksin bersamaan tidak menimbulkan masalah (AAP, 2019). 

Q: Apakah anak prematur mendapat jadwal imunisasi yang berbeda? 

A: Sebagian besar vaksin diberikan sesuai usia kronologis (tanggal lahir), bukan usia koreksi, termasuk pada bayi prematur. Pengecualian utama: hepatitis B pada bayi dengan berat <2.000 gram perlu pertimbangan khusus. Konsultasikan jadwal lengkap dengan dokter spesialis anak. 

Referensi

1. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Tanya Jawab Orang Tua Mengenai Imunisasi. IDAI; 2013.

2. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI). Jadwal Imunisasi Anak Usia 0–18 Tahun Rekomendasi IDAI 2023. IDAI; 2023.

3. World Health Organization. Vaccines and Immunization: What is Vaccination? WHO; 2023. 

4. Centers for Disease Control and Prevention. Contraindications and Precautions: General Best Practice Guidelines for Immunization. CDC; 2024. 

5. American Academy of Pediatrics. Red Book: Report of the Committee on Infectious Diseases. 32nd ed. AAP; 2021.

6. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Penyelenggaraan Imunisasi. Kemenkes RI; 2023.

7. Kroger A, Bahta L, Hunter P. General Best Practice Guidelines for Immunization. Advisory Committee on Immunization Practices (ACIP). CDC; 2023.