
Hari Posyandu Nasional 2025
28 Apr 2025

Author: dr. Afiah Salsabila
27 Jan 2026
Topik: Kusta, Hari Kusta Sedunia, News, Berita
Latar Belakang
Kusta merupakan salah satu penyakit infeksi tertua yang dikenal manusia dan hingga kini masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di berbagai negara, termasuk Indonesia. Penyakit ini kerap disertai stigma sosial yang kuat, mulai dari anggapan sebagai penyakit kutukan, sangat menular, hingga sulit disembuhkan. Akibatnya, banyak penyandang kusta mengalami diskriminasi, keterlambatan berobat, dan isolasi sosial yang berdampak pada kualitas hidup mereka. Padahal, dengan kemajuan ilmu kedokteran, kusta saat ini merupakan penyakit yang dapat disembuhkan secara tuntas dengan terapi yang tersedia luas dan gratis melalui program nasional dan global. Hari Kusta Sedunia 2026 yang diperingati setiap akhir Januari menjadi momentum penting untuk meningkatkan edukasi, menghapus stigma, serta memperkuat kesadaran bahwa kusta dapat dideteksi dan diobati sejak dini. Bagi dokter anak, peringatan ini relevan karena kusta juga dapat terjadi pada anak, mencerminkan adanya penularan aktif di komunitas yang memerlukan perhatian khusus.
Etiologi dan Epidemiologi
Kusta disebabkan oleh Mycobacterium leprae dan Mycobacterium lepromatosis, bakteri intraseluler obligat dengan laju replikasi yang sangat lambat. Penularan terutama terjadi melalui droplet saluran napas atas pada kontak erat dan berkepanjangan dengan penderita kusta yang belum diobati. Tidak semua individu yang terpapar akan berkembang menjadi penyakit, karena respons imun seluler berperan besar dalam menentukan manifestasi klinis . (2) Secara global, WHO melaporkan bahwa lebih dari 200.000 kasus baru kusta masih terdeteksi setiap tahun, dengan sebagian besar berasal dari negara berpendapatan rendah dan menengah. Indonesia termasuk salah satu negara dengan beban kusta tertinggi di dunia, dan proporsi kasus pada anak mencerminkan transmisi yang masih berlangsung di masyarakat . (1)
Patogenesis
Setelah masuk ke tubuh, M. leprae memiliki tropisme terhadap sel Schwann pada saraf perifer dan sel makrofag pada kulit. Bakteri ini menyebabkan peradangan kronik yang berujung pada kerusakan saraf sensorik, motorik, dan otonom. Derajat kerusakan jaringan sangat dipengaruhi oleh respons imun host. Pada individu dengan imunitas seluler yang baik, respons granulomatosa membatasi penyebaran bakteri, sedangkan pada imunitas yang lemah, bakteri berkembang luas dan menyebabkan manifestasi sistemik. Proses ini berlangsung perlahan selama bertahun-tahun, sehingga kusta sering terdiagnosis terlambat, terutama pada anak yang gejalanya kerap tidak khas . (2)
Manifestasi Klinis
Manifestasi klinis kusta sangat bervariasi, mulai dari lesi kulit hipopigmentasi atau eritematosa dengan penurunan sensibilitas, hingga nodul difus disertai keterlibatan saraf multipel. Keterlibatan saraf perifer menyebabkan mati rasa, kelemahan otot, dan pada fase lanjut dapat menimbulkan deformitas permanen. Pada anak, gejala awal sering tidak disadari karena tidak nyeri, sehingga pemeriksaan kulit dan uji sensibilitas sederhana menjadi kunci deteksi dini. Klasifikasi kusta secara baku dibagi menjadi kusta pausibasiler dan multibasiler berdasarkan jumlah lesi dan beban bakteri, yang berimplikasi pada durasi dan regimen terapi . (2)
Prognosis dan Tata Laksana
Prognosis kusta sangat baik bila terdiagnosis dan diobati sejak dini. Terapi multidrug therapy (MDT) yang direkomendasikan WHO mampu menyembuhkan kusta, menghentikan penularan, dan mencegah kecacatan bila diberikan tepat waktu. Keterlambatan diagnosis merupakan faktor utama terjadinya komplikasi jangka panjang, termasuk disabilitas fisik dan dampak psikososial. Oleh karena itu, skrining aktif pada kontak serumah dan edukasi masyarakat menjadi komponen penting dalam pengendalian kusta. Pada anak, keberhasilan terapi juga sangat bergantung pada kepatuhan pengobatan dan dukungan keluarga . (2)
Kesimpulan dan Penutup
Hari Kusta Sedunia 2026 menegaskan kembali bahwa kusta bukanlah penyakit yang harus ditakuti atau disembunyikan. Penyakit ini dapat disembuhkan, dan stigma justru menjadi penghalang utama dalam upaya eliminasi kusta. Dokter anak memiliki peran strategis dalam meningkatkan kewaspadaan terhadap kusta pada populasi usia dini, melakukan deteksi dini, serta memberikan edukasi kepada keluarga bahwa kusta bukanlah aib dan dapat diobati secara efektif. Dengan pendekatan berbasis bukti, empati, dan edukasi yang berkelanjutan, peringatan Hari Kusta Sedunia diharapkan dapat mempercepat penghapusan stigma dan memutus rantai penularan kusta di Indonesia . (1,2)
Daftar Pustaka
