
Webinar PrimaPro Soroti Tantangan Diagnosis dan Penatalaksanaan Asma pada Anak
20 Jun 2025

Author: dr. Afiah Salsabila
14 Mar 2026
Topik: pertusis, Vaksin Dasar, Vaksin Booster, Keraguan Vaksin
Di tengah upaya memperkuat perlindungan anak terhadap penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi, PrimaPro menghadirkan webinar ilmiah bertajuk “Pertussis in Children: What We Need to Know to Protect Future Generations” yang disampaikan oleh Dr. Nina Dwi Putri, SpA.Subsp.IPT(K), MSc dan dipandu oleh dr. Yuni Astri, SpA sebagai moderator. Dalam sesi ini, peserta diajak memahami kembali bahwa pertusis atau batuk rejan bukanlah penyakit ringan, melainkan infeksi saluran napas yang sangat menular dan tetap menjadi ancaman nyata, terutama pada bayi dan anak kecil.
Pada awal pemaparan, dr. Nina membagikan sejumlah ilustrasi kasus klinis yang menunjukkan bahwa pertusis dapat datang dengan gambaran yang menyerupai kondisi berat lain, seperti sepsis atau bahkan leukemia. Salah satu kasus yang dipaparkan melibatkan bayi usia 2 bulan yang dirawat dengan ventilator, mengalami demam menetap, batuk selama satu minggu, sesak, kejang, dan leukositosis tinggi. Kasus lain adalah anak perempuan usia 3 tahun yang dirujuk dengan dugaan septikemia atau leukemia, namun disertai batuk berkepanjangan dan hiperleukositosis. Dari sini, peserta diingatkan bahwa pertusis perlu tetap dipertimbangkan sebagai diagnosis banding, terutama bila terdapat batuk lama disertai leukosit yang sangat tinggi.
Dalam sesi ini dijelaskan bahwa pertusis merupakan penyakit infeksi akibat Bordetella pertussis, bakteri Gram-negatif yang menyerang saluran pernapasan. Penyakit ini dikenal luas sebagai whooping cough karena serangan batuk hebat yang dapat disertai bunyi khas saat anak menarik napas. Penularannya terjadi melalui droplet pernapasan maupun kontak langsung dengan sekret nasofaring. Yang penting untuk diingat, remaja dan orang dewasa dapat menjadi sumber penularan, termasuk ketika gejalanya ringan atau bahkan tidak dikenali, sehingga bayi dan anak kecil tetap berada dalam risiko tinggi terpapar di lingkungan terdekatnya.
dr. Nina juga menjelaskan bahwa pertusis masih menjadi masalah kesehatan global. Meski imunisasi primer telah tersedia luas, insidens pertusis secara global tetap tinggi dan siklus wabah masih dapat terjadi setiap 2 hingga 5 tahun. Bayi usia kurang dari 2 bulan disebut sebagai kelompok yang paling rentan mengalami penyakit berat. Bahkan, satu kasus pertusis dapat menimbulkan hingga 17 kasus baru pada populasi yang belum terlindungi. Data epidemiologi yang dipaparkan memperlihatkan bahwa penyakit ini tidak hanya menyerang anak, tetapi juga remaja, dewasa, hingga lansia, meski dampak paling berat tetap terjadi pada kelompok usia dini.
Dari surveilans nasional 2016–2020, terdapat 274 kasus klinis pertusis yang teridentifikasi. Sebagian besar kasus terjadi pada kelompok usia di bawah 1 tahun, yakni 72,3%, disusul usia 1–4 tahun sebesar 20,2%. Data yang dipaparkan juga menunjukkan bahwa 3 dari 4 bayi yang terkena pertusis belum divaksinasi atau riwayat imunisasinya tidak diketahui, sementara secara keseluruhan 7 dari 10 kasus pada semua kelompok usia juga berada pada kondisi yang sama. Temuan ini kembali menegaskan bahwa kesenjangan perlindungan imunisasi masih menjadi salah satu faktor penting yang berkontribusi terhadap terjadinya kasus pertusis.
Sesi ini juga membahas bahwa vaksinasi tetap menjadi cara paling efektif untuk mengendalikan penyebaran pertusis. Selain menjaga individu dari risiko penyakit berat, pencegahan melalui imunisasi juga membantu menurunkan kebutuhan penggunaan antibiotik. dr. Nina menjelaskan bahwa meskipun antibiotik tetap memiliki peran dalam tata laksana maupun profilaksis pada paparan tertentu, pendekatan ini tidak dapat menggantikan perlindungan yang dibangun lewat imunisasi. Terlebih, penggunaan antibiotik yang berlebihan juga dapat berkontribusi terhadap resistensi antimikroba.
Dalam aspek diagnosis, peserta juga diperkenalkan pada algoritma diagnosis pertusis pada anak, termasuk perbedaan pendekatan berdasarkan usia, lama batuk, serta ketersediaan fasilitas laboratorium. Hal ini penting karena manifestasi pertusis bisa bervariasi dan tidak selalu datang dengan gambaran klasik. Pada bayi kecil, apnea, sianosis, dan distress napas dapat menjadi petunjuk penting, sementara pada anak yang lebih besar maupun dewasa, batuk paroksismal berkepanjangan dapat menjadi gejala utama.
dr. Nina turut memaparkan perkembangan vaksin pertusis, termasuk perbedaan antara vaksin whole-cell dan acellular pertussis. Dalam materi disebutkan bahwa vaksin acellular memiliki profil reaktogenisitas yang lebih baik dan telah banyak digunakan di berbagai negara. Salah satu pembahasan penting adalah vaksin kombinasi DT3aP-HBV-IPV-Hib, yang memberikan perlindungan terhadap enam penyakit serius sekaligus, yaitu difteri, tetanus, pertusis, Hib, polio, dan hepatitis B. Materi menjelaskan bahwa vaksin ini dapat digunakan mulai usia di atas 6 minggu dan juga dapat diberikan pada bayi prematur tertentu sesuai jadwal yang direkomendasikan.
Salah satu poin ilmiah yang cukup mendapat perhatian dalam sesi ini adalah pembahasan mengenai pertactin (PRN), salah satu komponen antigen pertusis. dr. Nina menjelaskan bahwa vaksin yang mengandung PRN menunjukkan efikasi yang lebih baik dibandingkan vaksin tanpa PRN dalam sejumlah kajian yang dipaparkan. Materi juga menunjukkan bahwa antibodi terhadap pertactin berperan penting dalam proses fagositosis Bordetella pertussis, serta bahwa kadar antibodi PRN dan PT yang lebih tinggi berkaitan dengan perlindungan yang lebih baik terhadap penyakit. Dalam perkembangan epidemiologi terbaru yang dipaparkan, strain pertusis yang positif pertactin juga disebut semakin dominan secara global.
Dari sisi efektivitas, webinar ini memaparkan bahwa vaksin acellular pertusis dengan tiga komponen menunjukkan efikasi yang baik dalam berbagai studi, termasuk perlindungan terhadap rawat inap akibat pertusis yang meningkat seiring kelengkapan dosis. Efektivitas terhadap hospitalisasi dilaporkan meningkat secara bermakna setelah setiap dosis berturut-turut, bahkan mencapai perlindungan optimal pada bayi yang menyelesaikan seri imunisasi lengkap. Hal ini memperkuat pesan bahwa ketepatan jadwal dan kelengkapan dosis sangat menentukan manfaat perlindungan.
Selain pada bayi dan anak kecil, dr. Nina juga mengingatkan bahwa pertusis pada remaja dan dewasa bukanlah penyakit yang bisa dianggap sepele. Dalam materi dipaparkan bahwa sebagian besar pasien remaja dan dewasa dapat mengalami batuk lebih dari tiga minggu, gangguan tidur, muntah setelah batuk, hingga gangguan aktivitas sehari-hari seperti absen sekolah atau pekerjaan. Oleh karena itu, strategi perlindungan pertusis tidak cukup hanya berfokus pada bayi, tetapi perlu dilihat sebagai bagian dari pendekatan imunisasi sepanjang hayat, termasuk booster berkala dan imunisasi maternal pada kehamilan.
Keamanan vaksin juga menjadi bagian penting dalam pemaparan ini. dr. Nina menjelaskan bahwa keamanan vaksin sangat memengaruhi kepercayaan pasien, orang tua, dan pengasuh. Data keamanan pascapemasaran yang dipaparkan menunjukkan profil keamanan yang baik pada vaksin DT3aP-HBV-IPV-Hib, dengan kejadian tidak diinginkan yang relatif rendah dan tidak menyebabkan gangguan terhadap program imunisasi. Selain itu, data meta-analisis yang dipresentasikan juga menunjukkan bahwa vaksin DT3aP memiliki profil reaktogenisitas yang lebih baik dibandingkan DT2aP dalam sejumlah parameter reaksi lokal maupun sistemik.
Sebagai penutup, webinar ini menegaskan bahwa perlindungan terhadap pertusis memerlukan kewaspadaan klinis, diagnosis yang tepat, serta cakupan imunisasi yang baik dan berkelanjutan. Pertusis masih merupakan ancaman bagi anak di Indonesia. Karena itu, imunisasi tepat waktu, pemberian booster sesuai jadwal, serta edukasi yang konsisten kepada keluarga menjadi langkah penting untuk melindungi generasi mendatang dari risiko pertusis dan komplikasinya.