
Webinar PrimaPro Soroti Tantangan Diagnosis dan Penatalaksanaan Asma pada Anak
20 Jun 2025

Author: Tim Editorial PrimaPro
24 Nov 2025
Topik: Liputan, Webinar, Pneumonia, pneumococcus, PCV, Imunisasi PCV, Vaksin PCV
Jakarta, 23 November 2025 — PrimaPro kembali menghadirkan edukasi ilmiah bagi tenaga kesehatan melalui webinar bertajuk “Unlocking Every Breath: Together Against Pneumonia”, yang menempatkan isu keraguan vaksin sebagai salah satu hambatan terbesar dalam upaya mencegah pneumonia pada anak. Acara menghadirkan Prof. Dr. dr. Soedjatmiko, Sp.A(K), MSi, Guru Besar FKUI dan anggota Satgas Imunisasi IDAI sebagai narasumber.
Dalam paparannya, Prof. Soedjatmiko menegaskan bahwa pneumonia masih menempati posisi sebagai penyebab kematian nomor satu pada bayi dan balita di Indonesia. Meski vaksin pneumokokus telah tersedia melalui program pemerintah dan fasilitas kesehatan swasta, tingkat kelengkapan imunisasi masih dipengaruhi tingginya keraguan masyarakat. Faktor seperti takut efek samping, paparan hoaks, hingga kekhawatiran akan imunisasi ganda terus menjadi hambatan signifikan.
Prof. Soedjatmiko menyoroti bahwa keraguan vaksin seringkali tidak berakar pada bukti ilmiah, melainkan pada narasi populer yang tidak berdasar dan menyebar cepat melalui media sosial. Ia mengingatkan bahwa suara yang menolak imunisasi jarang berasal dari peneliti atau tenaga kesehatan yang memahami riset imunologi, sehingga masyarakat mudah terpengaruh pada informasi yang salah. Hal ini berdampak langsung pada rendahnya perlindungan anak terhadap penyakit berat seperti pneumonia, meningitis, dan bakteremia yang disebabkan Streptococcus pneumoniae.
Melalui materi yang disampaikan, webinar ini memperlihatkan bahwa upaya mengatasi keraguan vaksin tidak dapat dilakukan hanya dengan memaparkan informasi medis tanpa konteks yang mudah dicerna. Prof. Soedjatmiko menekankan pentingnya pendekatan komunikasi yang lebih menyentuh sisi emosional orang tua. Beliau mengajak tenaga kesehatan untuk mengingatkan bahwa anak adalah individu yang sangat rentan, dan bahwa rasa sedih serta penyesalan dapat muncul ketika penyakit berat sebenarnya dapat dicegah melalui imunisasi yang lengkap. Dengan pendekatan seperti ini, orang tua diharapkan dapat melihat imunisasi sebagai bentuk kepedulian terhadap anak mereka, bukan ancaman.
Selain pendekatan emosional, penyampaian bukti ilmiah yang sederhana tetap diperlukan. Prof. Soedjatmiko mengulas data global yang menunjukkan bahwa semua negara melakukan imunisasi rutin dalam jumlah besar dan terbukti aman. Reaksi seperti nyeri dosis, bengkak, atau demam ringan setelah vaksin adalah kondisi normal yang akan hilang dalam satu sampai dua hari. Sebaliknya, penyakit pneumonia dapat menyebabkan rawat inap, kecacatan jangka panjang, hingga kematian pada anak kecil. Dalam konteks vaksin pneumokokus terbaru seperti PCV15, data imunogenisitas menunjukkan respons antibodi yang lebih tinggi terhadap serotipe-serotipe yang selama ini paling sulit dikendalikan, termasuk serotipe 3, 22F, dan 33F.
Webinar ini juga menyoroti pentingnya menghantarkan pesan-pesan tersebut dengan hati. Alih-alih menghakimi atau memarahi orang tua yang ragu, tenaga kesehatan diminta untuk mendengarkan kekhawatiran mereka, menghargai sudut pandang, dan mengajak berdiskusi secara setara. Dialog yang empatik dinilai jauh lebih efektif untuk memulihkan kepercayaan daripada interaksi yang bersifat instruktif atau mengintimidasi. Hal ini sejalan dengan kajian WHO dan model Behavior and Social Drivers (BeSD), bahwa rekomendasi tenaga kesehatan merupakan faktor paling berpengaruh dalam keputusan imunisasi anak.
Pada bagian akhir, Prof. Soedjatmiko kembali menegaskan bahwa upaya mencegah pneumonia tidak hanya bergantung pada ketersediaan vaksin, tetapi juga pada kemampuan semua pihak untuk mengatasi keraguan masyarakat. Ia menekankan bahwa imunisasi terbukti aman dan merupakan satu-satunya cara untuk membentuk antibodi spesifik yang dapat melindungi anak dari penyakit yang berpotensi fatal. Pesannya jelas: jika benar-benar sayang pada anak, cucu, atau murid, maka imunisasi harus dilengkapi tanpa menunda.
Webinar ini menjadi pengingat bagi seluruh tenaga kesehatan bahwa edukasi, empati, dan komunikasi efektif merupakan pilar penting dalam mengatasi keraguan vaksin. Dengan meningkatnya kepercayaan masyarakat, diharapkan lebih banyak anak Indonesia mendapatkan perlindungan optimal terhadap pneumonia dan penyakit pneumokokus lainnya.
Jangan lewatkan webinar berikutnya dan follow @official.primapro di Instagram untuk info lengkap dan jadwal terbaru!
