
Apakah makanan pendamping ASI (MPASI) komersil berbahaya buat bayi?
29 Jan 2018

Author: dr. Afiah Salsabila
5 Sep 2025
Topik: Perawakan Pendek, CDPG, Constitutional Delay of Growth and Puberty, Stunting
Latar Belakang
Constitutional Delay of Growth and Puberty (CDGP) adalah salah satu variasi normal pertumbuhan yang sering menjadi alasan anak dan remaja dirujuk ke poliklinik endokrinologi anak. Kondisi ini ditandai oleh keterlambatan maturasi pubertas dan percepatan pertumbuhan, namun pada akhirnya anak akan mencapai tinggi dewasa sesuai dengan potensi genetiknya. CDGP merupakan penyebab tersering pubertas terlambat pada anak laki-laki, meskipun juga dapat terjadi pada anak perempuan. Secara klinis, CDGP bukan merupakan penyakit, melainkan varian normal yang membutuhkan pendekatan berbeda dibandingkan perawakan pendek patologis atau hipogonadisme permanen. (1,2)
Pentingnya mempelajari CDGP terletak pada implikasi psikososial yang dapat muncul, karena keterlambatan pubertas sering menimbulkan kekhawatiran pada pasien dan keluarganya, serta berpotensi menurunkan kepercayaan diri anak. Pemahaman yang tepat mengenai CDGP membantu dokter anak dalam memberikan edukasi, melakukan diagnosis banding yang akurat, serta menentukan intervensi yang sesuai. (1,2)
Etiologi dan Faktor Risiko
CDGP termasuk dalam kategori perawakan pendek varian normal, bersama dengan familial short stature. Dalam PPK IDAI, CDGP digambarkan sebagai kondisi dengan usia tulang yang tertinggal dibandingkan usia kronologis, namun dengan potensi tinggi dewasa sesuai target genetik keluarga. (1) Etiologi CDGP terutama berkaitan dengan keterlambatan akselerasi maturasi hipotalamus-hipofisis-gonad, yang menyebabkan pubertas dimulai lebih lambat. Faktor herediter berperan penting, karena riwayat keluarga dengan pubertas terlambat sering ditemukan pada pasien dengan CDGP. (2)
Faktor risiko lain adalah jenis kelamin, di mana CDGP lebih sering ditemukan pada anak laki-laki. Selain itu, faktor psikososial, nutrisi, serta kondisi lingkungan dapat memperburuk keterlambatan pubertas yang seharusnya hanya merupakan variasi normal.
Patogenesis
Patogenesis CDGP melibatkan keterlambatan aktivasi aksis hipotalamus-hipofisis-gonad. Pada kondisi normal, pelepasan gonadotropin-releasing hormone (GnRH) meningkat pada usia pubertas, merangsang sekresi luteinizing hormone (LH) dan follicle-stimulating hormone (FSH), yang selanjutnya memicu maturasi gonad dan sekresi hormon seks. Pada CDGP, proses ini terjadi lebih lambat sehingga tanda-tanda pubertas muncul setelah usia yang diharapkan. (2)
Selain itu, usia tulang yang tertinggal 2–4 tahun dari usia kronologis merupakan ciri khas yang dapat membantu membedakan CDGP dari hipogonadisme hipogonadotropik permanen. (1) Pertumbuhan linear pada awal masa kanak-kanak biasanya normal, kemudian melambat sebelum akhirnya mengalami catch-up growth setelah pubertas dimulai.
Komplikasi yang Dapat Terjadi
Secara medis, CDGP tidak menyebabkan gangguan akhir pada tinggi dewasa maupun fungsi reproduksi. Namun, komplikasi psikososial merupakan aspek yang paling menonjol. Anak sering mengalami tekanan emosional akibat perbedaan fisik dengan teman sebaya, seperti tubuh yang lebih kecil, suara yang belum berubah, atau keterlambatan munculnya karakteristik seksual sekunder. Hal ini dapat menimbulkan masalah kepercayaan diri, isolasi sosial, hingga gangguan psikologis lebih lanjut bila tidak mendapat edukasi dan dukungan yang tepat. (2)
Dalam beberapa kasus, kekhawatiran orang tua dan pasien dapat memicu permintaan intervensi medis meskipun sebenarnya tidak diperlukan secara fisiologis. Oleh karena itu, penting bagi dokter anak untuk mampu membedakan CDGP dari gangguan endokrin lain yang memerlukan terapi spesifik, seperti defisiensi hormon pertumbuhan atau hipogonadisme primer. (1)
Rekomendasi Tatalaksana
Tatalaksana CDGP berfokus pada edukasi, menangkan hati pasien mengenai kondisinya, dan pemantauan pertumbuhan. Sebagian besar kasus tidak memerlukan terapi farmakologis karena pubertas akan berlangsung secara spontan meskipun terlambat. Pemantauan berkala pertumbuhan tinggi badan dan perkembangan pubertas harus dilakukan sesuai jadwal yang dianjurkan IDAI, yaitu setiap 6–12 bulan tergantung usia anak. (1)
Pada anak laki-laki di atas 14 tahun yang mengalami dampak psikososial yang berat, pemberian testosteron dosis rendah dalam jangka pendek dapat digunakan untuk memicu pubertas, sedangkan pada anak perempuan, estrogen dosis rendah dapat diberikan. Tujuannya bukan untuk menggantikan fungsi endokrin permanen, melainkan sebagai pemicu agar aksis hipotalamus-hipofisis-gonad mulai bekerja. Setelah terapi dihentikan, pubertas biasanya akan berlanjut secara normal. (3,4)
Selain itu, dokter anak perlu mengeksklusi penyebab patologis keterlambatan pubertas dengan anamnesis, pemeriksaan fisis, penilaian usia tulang, serta bila perlu pemeriksaan hormonal. Bila ditemukan tanda-tanda yang tidak sesuai dengan CDGP, rujukan ke spesialis endokrinologi anak sangat dianjurkan. (1)
Kesimpulan dan Penutup
CDGP adalah varian normal dari pertumbuhan dan pubertas yang ditandai dengan keterlambatan maturasi seksual dan usia tulang, namun dengan potensi tinggi dewasa tetap sesuai genetik. Diagnosis yang tepat penting untuk membedakan CDGP dari kondisi patologis lain yang memerlukan terapi spesifik. Tantangan utama CDGP bukan pada aspek medis jangka panjang, tetapi pada dampak psikososial yang dapat signifikan bagi pasien.
Bagi dokter anak di Indonesia, pemahaman tentang CDGP perlu ditekankan dalam praktik sehari-hari, mengingat tingginya angka rujukan akibat keterlambatan pubertas. Pendekatan yang tepat meliputi reassurance, pemantauan pertumbuhan secara berkala, serta intervensi farmakologis hanya bila terdapat indikasi psikososial. Dengan demikian, anak dengan CDGP dapat tumbuh dan berkembang secara optimal tanpa intervensi yang berlebihan, sekaligus terhindar dari komplikasi psikologis akibat salah diagnosis. (1,2)
Referensi