
Apakah makanan pendamping ASI (MPASI) komersil berbahaya buat bayi?
29 Jan 2018

Author: dr. Afiah Salsabila
17 Jun 2025
Topik: Diabetes Mellitus, Diabetes anak, Diabetes remaja
Latar Belakang
Selama ini, diabetes melitus pada anak umumnya diklasifikasikan ke dalam dua tipe utama: diabetes melitus tipe 1 (DM1) yang bersifat autoimun dan diabetes melitus tipe 2 (DM2) yang lebih terkait dengan resistensi insulin dan obesitas. Namun, perkembangan ilmu genetika menunjukkan adanya bentuk lain dari diabetes yang tidak sepenuhnya cocok dimasukkan ke dalam kedua tipe tersebut, salah satunya adalah Maturity-Onset Diabetes of the Young (MODY), MODY merupakan bentuk diabetes monogenik yang diturunkan secara autosomal dominan dan memiliki karakteristik yang unik, baik dari aspek patogenesis maupun penatalaksanaannya. (1)
Definisi dan Diagnosis MODY
MODY adalah bentuk diabetes yang disebabkan oleh mutasi tunggal pada gen yang memengaruhi fungsi sel beta pankreas. Kondisi ini dapat dicurigai pada anak atau remaja dengan hiperglikemia onset dini (biasanya sebelum usia 25 tahun), riwayat keluarga diabetes pada lebih dari dua generasi, tidak ditemukan autoantibodi diabetes, dan tanpa manifestasi resistensi insulin lainnya, seperti obesitas atau akantosis nigrikans. (1,2) Hingga saat ini, 14 subtipe MODY, dengan tiga gen yang paling umum terlibat adalah HNF1A (MODY3), GCK (MODY2), dan HNF4A (MODY1) telah diidentifikasi. (2) Karena etiologinya yang spesifik disebabkan oleh gen tertentu, diagnosis pasti hanya dapat ditegakkan melalui pemeriksaan genetik molekuler. Tantangan utama di Indonesia adalah terbatasnya akses terhadap uji genetik dan masih rendahnya kesadaran klinisi terhadap bentuk diabetes monogenik ini. (1)
Tatalaksana MODY Berdasarkan Subtipe
Pendekatan terapi pada pasien MODY sangat tergantung pada subtipenya. MODY2 (GCK-MODY) biasanya ditandai oleh hiperglikemia ringan yang stabil, dan pada sebagian besar kasus tidak memerlukan terapi apapun, kecuali dalam kondisi kehamilan tertentu. (2)
MODY3 (HNF1A-MODY) dan MODY1 (HNF4A-MODY) lebih responsif terhadap terapi sulfonilurea dibandingkan insulin. Studi menunjukkan bahwa pasien dengan mutasi HNF1A memiliki sensitivitas tinggi terhadap sulfonilurea seperti gliclazide, sehingga terapi dapat dimulai dengan dosis rendah untuk menghindari hipoglikemia. (2) Bila sulfonilurea tidak mencukupi, dapat dipertimbangkan agen tambahan seperti GLP-1 receptor agonists atau SGLT-2 inhibitors, meskipun data penggunaan jangka panjang pada anak masih terbatas.
Untuk MODY5 (HNF1B-MODY), yang sering disertai dengan kelainan ginjal seperti kista ginjal atau gangguan perkembangan sistem genitourinaria, terapi insulin seringkali diperlukan karena terdapat resistensi insulin bersamaan. MODY tipe lain seperti MODY4 (PDX1), MODY6 (NEUROD1), dan seterusnya memiliki prevalensi yang sangat rendah dan data tatalaksana masih terbatas pada laporan kasus. (2)
Penting untuk dicatat bahwa terapi diet dan modifikasi gaya hidup tetap merupakan bagian integral dari manajemen, terutama pada pasien yang belum memerlukan intervensi farmakologis. Pada wanita hamil yang membawa mutasi MODY, penatalaksanaan harus disesuaikan dengan status genetik janin, mengingat dampak langsung terhadap pertumbuhan janin dan risiko hipoglikemia neonatal. (2)
Kesimpulan
Penemuan MODY mengubah paradigma bahwa diabetes pada anak hanya terbagi dalam dua tipe. MODY adalah kelompok heterogen yang memerlukan diagnosis berbasis molekuler dan pendekatan terapi yang spesifik untuk tiap subtipe. Sulfonilurea dapat menjadi pilihan efektif pada subtipe tertentu, sementara lainnya mungkin tidak memerlukan terapi sama sekali. Penting bagi dokter anak di Indonesia untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan diabetes monogenik, terutama bila terdapat riwayat keluarga kuat, onset dini, dan fenotipe yang tidak sesuai dengan DM1 maupun DM2. Deteksi dan tatalaksana yang tepat tidak hanya berdampak pada pengendalian glikemik, tetapi juga meningkatkan kualitas hidup jangka panjang serta memungkinkan konseling genetik yang tepat bagi keluarga pasien.
Apakah Dokter pernah menemui kasus serupa? Silakan tinggalkan pesan di kolom komentar jika ada saran atau tanggapan mengenai artikel ini!
Daftar Pustaka