
Pemberian Makan pada Bayi: Kapan, Apa, dan Bagaimana?
6 Feb 2018

Author: dr. Afiah Salsabila
26 Agu 2025
Topik: tekanan darah , hipertensi, Guideline
Latar Belakang
Hipertensi pada anak semakin sering dijumpai seiring meningkatnya prevalensi obesitas di populasi anak dan remaja. Data di Indonesia masih terbatas, namun Riskesdas 2018 melaporkan prevalensi hipertensi pada dewasa mencapai 34,1%. Hipertensi pada usia anak dapat menetap dan berlanjut ke usia dewasa jika dibiarkan saja, maka dari itu penemuan ini masih dapat mendukung urgensi deteksi dini sejak masa anak.[1] Panduan hipertensi yang terdahulu, yaitu Fourth Report 2004, dinilai kurang sensitif dalam mengenali hipertensi anak. Hal ini mendorong American Academy of Pediatrics (AAP) menerbitkan Clinical Practice Guideline for Screening and Management of High Blood Pressure in Children and Adolescents pada 2017, yang kemudian diadaptasi ke dalam PNPK Hipertensi Anak 2021 [1,2].
Etiologi, Faktor Risiko, dan Patogenesis
Hipertensi anak dibagi menjadi primer dan sekunder. Pada anak pra-adolesen, mayoritas kasus bersifat sekunder, mayoritas kasus diakibatkan oleh penyakit parenkim ginjal (60–70%). Sementara pada remaja, hipertensi primer lebih sering ditemukan, biasanya berhubungan dengan obesitas atau riwayat keluarga hipertensi. [1]
Faktor risiko meliputi obesitas, riwayat keluarga hipertensi, prematuritas, berat lahir rendah, asupan natrium tinggi, serta penggunaan obat tertentu seperti kortikosteroid. [1] Patogenesis hipertensi primer terkait dengan resistensi vaskular sistemik, aktivasi sistem renin-angiotensin-aldosteron, dan disfungsi endotel. Pada hipertensi sekunder, mekanisme penyakit yang mendasarinya, misalnya kelainan ginjal, koarktasio aorta, atau gangguan endokrin tertentu. [1]
Hipertensi yang tidak dikenali sejak dini dapat menimbulkan komplikasi serius seperti hipertrofi ventrikel kiri, disfungsi ginjal, serta peningkatan risiko kardiovaskular jangka panjang. [2. Oleh karena itu, pengukuran tekanan darah secara rutin merupakan bagian penting dalam praktik klinis anak.
Rekomendasi Diagnosis: AAP 2017 dan PNPK 2021
AAP 2017 merekomendasikan melakukan skrining hipertensi melalui pengukuran tekanan darah dimulai sejak usia 3 tahun, dilakukan setidaknya setahun sekali, serta pada setiap kunjungan medis bagi anak dengan faktor risiko (obesitas, diabetes, penyakit ginjal, riwayat koarktasio aorta) [1].
Klasifikasi Hipertensi Anak (AAP 2017)
Usia 1–13 tahun:
Usia ≥13 tahun:
Klasifikasi ini menggantikan istilah “prehipertensi” dengan “tekanan darah meningkat” agar lebih konsisten dengan guideline dewasa. [2]
Tabel Simplifikasi
AAP 2017 juga memperkenalkan tabel skrining sederhana berdasarkan usia dan jenis kelamin. Tabel ini memudahkan skrining awal di layanan primer tanpa harus menghitung persentil kompleks. Sensitivitasnya sangat tinggi, meskipun spesifisitas lebih rendah. [2]
Pendekatan Klinis
Nilai tekanan darah anak dapat bervariasi, baik antar kunjungan maupun dalam satu kunjungan, dengan faktor kecemasan berperan penting. Umumnya tekanan darah menurun bila diulang, meski tidak banyak memengaruhi klasifikasi. Pemeriksaan awal dapat menggunakan alat osilometrik terkalibrasi atau teknik auskultasi dengan sfigmomanometer aneroid/air raksa. Jika hasil awal > persentil 90, perlu dua kali pengukuran tambahan pada kunjungan yang sama dan dirata-rata. Bila rata-rata osilometrik tetap > persentil 90, maka dilakukan dua kali pemeriksaan auskultasi dan hasilnya dirata-ratakan untuk penentuan diagnosis. Pengukuran dilakukan dengan teknik auskultasi atau osilometrik yang tervalidasi Bila hasil konsisten di atas ambang batas, barulah diagnosis hipertensi ditegakkan.[1].
Jika terdapat hipertensi, evaluasi lanjutan perlu dilakukan untuk bertujuan menentukan etiologi, komorbiditas, dan kerusakan organ target. Workup singkat yang direkomendasikan AAP 2017 dan PNPK 2021 meliputi:
Kesimpulan
Hipertensi pada anak semakin relevan dengan meningkatnya prevalensi obesitas. Panduan AAP 2017, yang telah diadopsi dalam PNPK 2021, memberikan kerangka kerja baru yang lebih sensitif dalam deteksi dan klasifikasi. Diagnosis harus ditegakkan melalui pengukuran berulang dan bila perlu dilanjutkan dengan workup terarah. Pendekatan ini memungkinkan intervensi lebih dini, baik berupa perubahan gaya hidup maupun terapi farmakologis, untuk mencegah komplikasi kardiovaskular di masa depan.
Daftar Pustaka