
Inilah Langkah-Langkah Diagnosis TB yang Tepat

dr. Afiah Salsabila
5 Okt 2023

Ditulis oleh

dr. Afiah Salsabila
29 Jul 2025
Topik: Enuresis, Anak Mengompol, Mengompol
Latar Belakang
Enuresis, terutama nocturnal enuresis (NE), merupakan masalah klinis umum yang dijumpai pada populasi anak, ditandai dengan keluarnya urin tanpa disadari saat tidur pada anak usia lima tahun atau lebih, setidaknya satu kali per bulan selama minimal tiga bulan berturut-turut. Prevalensinya berkisar 15% pada usia lima tahun dan menurun secara spontan sekitar 15% setiap tahunnya tanpa intervensi. Meskipun begitu, enuresis bisa menetap dan dapat menimbulkan beban psikososial signifikan baik bagi anak maupun keluarganya. (1)
Klasifikasi dan Etiologi
NE diklasifikasikan berdasarkan gejala klinis dan riwayatnya. Berdasarkan ada tidaknya gejala siang hari, NE dibagi menjadi monosymptomatic NE (MNE) dan non-monosymptomatic NE (NMNE). MNE terjadi tanpa gejala traktus urinarius bawah saat siang hari, sedangkan NMNE disertai dengan gejala seperti urgensi, inkontinensia pada siang hari, atau pola buang air kecil abnormal. Berdasarkan waktu awitan, NE juga dibagi menjadi primer (tidak pernah kering selama lebih dari enam bulan) dan sekunder (kembali mengompol setelah lebih dari enam bulan kering). (1)
Penyebab NE bersifat multifaktorial dan melibatkan interaksi antara kapasitas kandung kemih nokturnal yang terbatas (detrusor overactivity), produksi urin malam berlebih akibat disregulasi hormon antidiuretik (ADH), dan ambang bangun tidur yang tinggi akibat keterlambatan maturasi sistem saraf pusat (1,2). Faktor genetik turut berperan, dengan angka kejadian mencapai 77% bila kedua orang tua juga memiliki riwayat enuresis. (1)
Komorbiditas dan Faktor Risiko Tambahan
Beberapa kondisi komorbid memperburuk enuresis, termasuk konstipasi, obstruksi saluran napas atas seperti obstructive sleep apnea (OSA), dan gangguan neuropsikiatri seperti ADHD. Konstipasi dapat menekan kandung kemih secara mekanik, menginduksi detrusor overactivity sekunder. Sekitar 15% anak dengan NE juga memiliki ADHD, dan keterlambatan maturasi otak diperkirakan berperan dalam kedua kondisi tersebut. OSA pada anak enuretik dapat menyebabkan peningkatan hormon natriuretik atrial akibat tekanan intratoraks negatif selama mendengkur, yang meningkatkan produksi urin nokturnal. (1)
Diagnosis dan Tatalaksana Enuresis
Penatalaksanaan NE bergantung pada klasifikasi klinisnya. Untuk membedakan MNE dari enuresis non-monosimptomatik (NMNE), diperlukan riwayat medis yang rinci, pemeriksaan fisik menyeluruh, dan urinalisis. Informasi penting dalam anamnesis mencakup adanya inkontinensia siang hari, pola dan volume berkemih, gejala saluran kemih bawah, riwayat buang air besar, riwayat keluarga, dampak psikososial, serta intervensi yang sudah pernah dicoba. Pemeriksaan fisik umumnya normal, namun temuan seperti amandel membesar, impaksi feses, kelainan neurologis, atau kelainan genital dapat mengindikasikan penyebab yang mendasari. Urinalisis diperlukan untuk menyingkirkan kemungkinan diabetes, gangguan ginjal, atau infeksi saluran kemih. Pemeriksaan penunjang seperti USG ginjal, foto rontgen, MRI tulang belakang lumbosakral, atau sleep study dilakukan bila terdapat gejala khusus, seperti infeksi saluran kemih berulang, gangguan tidur, atau kelainan neurologis. Identifikasi faktor penyebab sangat penting untuk menentukan strategi penanganan yang tepat. Jika terdapat tanda-tanda red flag seperti inkontinensia siang, riwayat infeksi saluran kemih berulang, atau hasil pemeriksaan fisik abnormal harus dirujuk ke spesialis urologi anak. (1,2)
Talaksana dimulai dengan edukasi dan konseling kepada anak dan keluarga mengenai perjalanan alami penyakit, ekspektasi realistis, dan strategi perawatan. Perubahan gaya hidup dianjurkan bagi semua pasien, meliputi edukasi pola miksi, pengaturan asupan cairan (dua pertiga di pagi hingga sore, sepertiga sisanya malam hari), penghindaran minuman diuretik, voiding dua kali sebelum tidur, serta mengobati konstipasi yang menyertai. (1)
Terapi perilaku berupa reinforcement positif (reward) untuk malam-malam yang kering atau keterlibatan aktif anak juga dianjurkan. Hukuman sebagai bentuk pengelolaan tidak dianjurkan karena dapat meningkatkan kecemasan dan memperparah gejala. (1)
Intervensi Spesifik: Alarm dan Farmakoterapi
Enuresis alarm merupakan terapi lini pertama untuk MNE dan terbukti efektif dengan angka kesuksesan mencapai 50–80%. Alarm bekerja dengan memunculkan suara keras ketika mendeteksi kelembapan, melatih refleks bangun saat kandung kemih mulai penuh. Jika digunakan konsisten selama maksimal 16 minggu atau hingga 14 malam berturut-turut kering, hasilnya lebih bertahan lama dibanding farmakoterapi. Relaps dapat terjadi pada 12–30% kasus dalam enam bulan pertama, namun umumnya respons baik terhadap terapi ulang. (1)
Desmopressin, analog sintetik ADH, merupakan alternatif lini pertama pada pasien dengan poliuria nokturnal dan kapasitas kandung kemih normal. Desmopressin efektif pada 30% pasien dengan respons penuh, dan 40% memiliki respons parsial. Efek samping jarang terjadi, namun edukasi mengenai pembatasan cairan dua jam sebelum pemberian tetap diperlukan untuk mencegah hiponatremia. (1)
Oxybutynin, obat antikolinergik, digunakan pada pasien dengan overactive bladder dan NMNE. Imipramin hanya digunakan sebagai lini ketiga pada kasus refrakter, mengingat efek sampingnya yang berat termasuk toksisitas kardiak dan risiko overdosis. (1)
Kesimpulan
Enuresis merupakan kondisi umum dengan dampak signifikan terhadap keadaan psikososial anak dan keluarganya. Evaluasi menyeluruh, klasifikasi yang tepat, serta penanganan berbasis etiologi menjadi kunci tatalaksana. Pendekatan pertama harus mencakup edukasi dan modifikasi gaya hidup. Alarm enuresis dan desmopressin merupakan pilihan terapi efektif pada MNE, sementara NMNE memerlukan evaluasi lebih lanjut. Dokter anak berperan penting dalam mengenali, mengelola, dan memberi edukasi kepada keluarga secara komprehensif untuk menghindari morbiditas psikososial jangka panjang.
Daftar Pustaka


dr. Afiah Salsabila
5 Okt 2023


dr. Afiah Salsabila
19 Okt 2023


dr. Afiah Salsabila
24 Okt 2023


dr. Afiah Salsabila
2 Nov 2023