
Inilah Langkah-Langkah Diagnosis TB yang Tepat

dr. Afiah Salsabila
5 Okt 2023

Ditulis oleh

dr. Afiah Salsabila
19 Jul 2025
Topik: Penyakit Graves, Graves Disease, Hipertiroid, Guideline
Latar Belakang
Penyakit Graves (Graves' disease, GD) merupakan penyebab tersering hipertiroidisme pada anak dan remaja, meskipun prevalensinya jauh lebih rendah dibandingkan pada dewasa. Penyakit ini bersifat autoimun, ditandai dengan stimulasi berlebih terhadap reseptor TSH (thyroid-stimulating hormone) oleh autoantibodi, sehingga menimbulkan produksi hormon tiroid yang berlebihan. GD memiliki spektrum manifestasi klinis yang luas dan dapat berdampak sistemik terhadap pertumbuhan, metabolisme, dan fungsi neurokognitif anak. (1)
Di Indonesia, pendekatan diagnosis dan tata laksana GD telah diatur dalam Panduan Praktik Klinis (PPK) IDAI tahun 2017. Namun, dalam satu dekade terakhir, pemahaman tentang patogenesis, diagnosis imunologis, dan pendekatan terapi jangka panjang terus berkembang. Oleh karena itu, penting bagi dokter anak untuk memahami baik pedoman nasional maupun perkembangan mutakhir dalam manajemen penyakit ini. (1,2)
Etiologi, Patogenesis, dan Faktor Risiko
Graves disease merupakan penyakit autoimun yang disebabkan oleh terbentuknya antibodi terhadap reseptor TSH (TRAb), yang menyebabkan aktivasi reseptor secara terus-menerus dan produksi hormon tiroid berlebih. Mekanisme ini juga menyebabkan hipertrofi dan hiperplasia jaringan tiroid, tampak sebagai gondok difus pada pemeriksaan fisik. (1)
Faktor genetik dan lingkungan berperan besar dalam patogenesis GD. Predisposisi genetik bersifat poligenik, melibatkan alel HLA kelas II (misalnya HLA-DR3), serta mutasi pada gen imunoregulatori seperti CTLA-4 dan PTPN22. (2) Faktor lingkungan seperti stres psikologis, infeksi, konsumsi yodium berlebih, dan paparan rokok juga berkontribusi dalam memicu respons autoimun. (2)
Manifestasi Klinis dan Komplikasi
Gambaran klinis GD pada anak bervariasi, mulai dari gejala sistemik seperti penurunan berat badan dengan nafsu makan meningkat, takikardia, intoleransi panas, dan tremor, hingga manifestasi neuropsikiatri seperti penurunan konsentrasi, hiperaktivitas, dan gangguan tidur. Goiter ditemukan hampir pada semua kasus, dan mata menonjol (eksoftalmus) ditemukan pada sekitar sepertiga pasien anak. (2)
Komplikasi yang dapat terjadi meliputi krisis tiroid, gagal jantung, osteoporosis, serta gangguan pertumbuhan dan maturasi tulang. Krisis tiroid merupakan keadaan hipermetabolik akut yang dapat mengancam nyawa, ditandai dengan demam tinggi, takikardia berat, delirium, dan gejala gastrointestinal. Keadaan ini sering dipicu oleh infeksi atau penghentian mendadak obat antitiroid. (2)
Diagnosis
Diagnosis GD ditegakkan berdasarkan gejala klinis khas hipertiroidisme, disertai hasil laboratorium berupa peningkatan kadar FT4 dan FT3 serta supresi TSH. Pemeriksaan antibodi TRAb merupakan penanda imunologis paling spesifik untuk diagnosis GD dan juga dapat memprediksi kemungkinan relaps setelah terapi antitiroid dihentikan. (2)
Pemeriksaan penunjang lain seperti USG tiroid dapat membantu menilai ukuran dan vaskularisasi tiroid. Skintigrafi tiroid biasanya tidak diperlukan kecuali jika diagnosis tidak jelas atau TRAb negatif. GD ditandai dengan peningkatan uptake radioiodin yang difus, berbeda dengan nodul toksik yang bersifat fokal. (2)
Tatalaksana
Menurut PPK IDAI, lini pertama tata laksana GD pada anak adalah obat antitiroid golongan thionamide, terutama methimazole (MMI) dengan dosis awal 0,2–0,5 mg/kg/hari dalam waktu 1-2 tahun. Penggunaan propylthiouracil (PTU) sebaiknya dihindari karena risiko hepatotoksisitas yang lebih tinggi. Beta-blocker seperti propranolol dapat diberikan sebagai terapi simptomatik untuk takikardia dan tremor hingga tercapai kondisi eutiroid. (1)
Studi terbaru menunjukkan bahwa durasi terapi antitiroid yang lebih panjang, minimal tiga hingga lima tahun, berhubungan dengan angka remisi yang lebih tinggi. Setelah tiga tahun terapi, kadar TRAb dapat menurun hingga 90%, dan pasien dengan kadar TRAb rendah serta stabilisasi dosis rendah memiliki kemungkinan remisi lebih besar. (2)
Efek samping antitiroid perlu diperhatikan, termasuk agranulositosis (0,2%), ruam, urtikaria, serta peningkatan enzim hati. Evaluasi darah tepi dan fungsi hati sebaiknya dilakukan sebelum terapi dan diulang jika timbul gejala seperti demam, sariawan, atau ikterus. (1,2)
Pada kasus relaps berulang atau ketidaktoleran terhadap obat, terapi definitif seperti tiroidektomi atau radioiodine dapat dipertimbangkan. Meskipun radioiodine aman dalam jangka panjang, terapi ini sebaiknya dihindari pada anak usia <5 tahun dan pasien dengan oftalmopati berat. (2) Tiroidektomi total memiliki risiko komplikasi seperti hipoparatiroidisme dan cedera nervus laringeus, sehingga harus dilakukan oleh tim bedah berpengalaman. (2)
Perkembangan Terbaru
Sejumlah terapi baru mulai diteliti untuk GD pada dewasa, termasuk penggunaan biologik seperti rituximab dan antibodi anti-TSHR (K1-70), serta teprotumumab untuk oftalmopati Graves. Meskipun menjanjikan, penggunaan terapi ini pada populasi pediatri masih terbatas dan belum direkomendasikan secara luas karena kurangnya data keamanan dan efektivitas jangka panjang. (2)
Edukasi dan Pemantauan Jangka Panjang
Edukasi kepada pasien dan keluarga merupakan bagian penting dari manajemen GD. Keluarga perlu memahami pentingnya kepatuhan minum obat, pemantauan rutin, serta mengenali tanda-tanda perburukan. Pemantauan laboratorium (FT4, FT3, TSH) dilakukan tiap 4–6 minggu di awal terapi dan pegantian dosis, serta tiap 3 bulan setelah dosis sudah sesuai. (1,2)
Kualitas hidup anak dengan GD juga perlu diperhatikan. Gangguan psikososial, kesulitan belajar, dan stigma terhadap kondisi mata dapat berdampak besar, sehingga intervensi psikososial dan dukungan sekolah dapat membantu anak menjalani kehidupan normal. (2)
Kesimpulan
Graves disease adalah gangguan autoimun tiroid tersering pada anak yang menimbulkan hipertiroidisme dengan dampak sistemik yang signifikan. Diagnosis dini dan tatalaksana yang tepat dapat memperbaiki luaran dan mencegah komplikasi jangka panjang. Terapi utama berupa antitiroid harus disesuaikan dengan kondisi klinis dan dievaluasi secara berkala, dengan mempertimbangkan pilihan terapi definitif pada kasus refrakter. Dengan pemahaman mendalam terhadap pedoman nasional dan bukti terkini, dokter anak dapat berperan optimal dalam manajemen komprehensif pasien dengan GD.
Daftar Pustaka


dr. Afiah Salsabila
5 Okt 2023


dr. Afiah Salsabila
19 Okt 2023


dr. Afiah Salsabila
24 Okt 2023


dr. Afiah Salsabila
2 Nov 2023