
Inilah Langkah-Langkah Diagnosis TB yang Tepat
Invalid Date

Ditinjau oleh

dr. Afiah Salsabila
20 Sep 2025
Topik: GERD, Pencernaan Bayi, Guideline, Gumoh
Latar Belakang
Gastroesophageal reflux (GER) adalah pergerakan isi lambung ke esofagus secara pasif. Jika GER terjadi sehingga isi lambung keluar ke rongga mulut, kondisinya disebut regurgitasi. Regurgitasi dan GER sering ditemukan pada bayi sehat dan umumnya bersifat fisiologis. Namun, bila kondisi ini menimbulkan komplikasi atau gejala yang mengganggu, maka gastroesophageal reflux disease (GERD) perlu dicurigai. (1)
Etiologi GERD pada anak bersifat multifaktorial. Mekanisme paling utama adalah imaturitas anatomi dan fungsi gastroesophageal junction, diet cair berbasis susu, serta posisi tubuh yang dominan terlentang pada bayi. Pada anak yang lebih besar, faktor risiko mencakup obesitas, kelainan anatomi seperti hernia hiatus atau atresia esofagus pasca operasi, gangguan neurologis, serta alergi protein susu sapi. (2)
GERD dapat memengaruhi kualitas hidup anak, meningkatkan risiko komplikasi seperti esofagitis erosif, anemia defisiensi besi, gangguan tidur, keterlambatan tumbuh kembang, hingga predisposisi terhadap Barrett’s esophagus di usia dewasa. Berikut adalah alur diagnosis dan tata laksana penyakit ini di anak. (2)
Diagnosis
Definisi Regurgitasi Fisiologis menurut Kriteria Rome IV
Diagnosis regurgitasi fisiologis pada bayi berdasarkan Rome IV ditetapkan bila onset gejala terjadi pada usia 3 minggu hingga 12 bulan, dengan frekuensi regurgitasi ≥2 kali per hari selama ≥3 minggu, tanpa disertai hematemesis, aspirasi, apnea, gangguan pertumbuhan, disfagia, atau kelainan postur tubuh. Apabila terdapat komplikasi, maka diagnosis harus diarahkan pada GERD. (1)
Gejala Klinis dan Red Flags
Walaupun GER dan regurgitasi merupakan kondisi fisiologis, dokter tetap perlu memantau kondisi klinis untuk mengidentifikasi adanya tanda-tanda bahaya seperti rewel, back arching, hematemesis, gangguan pertumbuhan, sindrom Sandifer, keterlambatan perkembangan, muntah hijau, konstipasi atau diare persisten, karena kondisi-kondisi tersebut dapat menandakan adanya radang esofagus (esofagitis) yang terjadi akibat GER berulang. Kondisi ini dapat dicurigai sebagai GERD. (1,2)
Pemeriksaan Penunjang
Hingga saat ini, belum ada pemeriksaan tunggal yang menjadi baku emas untuk mendiagnosis GERD pada anak. Endoskopi dengan biopsi dapat dipertimbangkan pada pasien dengan gejala persisten atau komplikasi, dengan tujuan menyingkirkan esofagitis eosinofilik atau penyakit lain yang menyerupai GERD. Pemantauan pH atau pH-impedance membantu mendeteksi episode refluks asam maupun non-asam serta hubungannya dengan gejala klinis, dan lebih sensitif dibandingkan pH-metri tunggal pada bayi. (2)
Studi kontras gastrointestinal atas dapat membantu menyingkirkan malrotasi atau stenosis pilorus pada kasus tertentu. Selain itu, uji terapi proton pump inhibitor (PPI) selama 2–4 minggu dapat digunakan pada anak lebih besar dengan gejala klasik tanpa red flags, meskipun pendekatan ini tidak direkomendasikan pada bayi. (2)
Tatalaksana GER dan GERD pada Anak
Pendekatan Non-Farmakologis
Tatalaksana GER tanpa tanda bahaya pada bayi adalah dengan melakukan pendekatan konservatif. Edukasi kepada orang tua (parental reassurance) penting untuk menjelaskan perjalanan alami GER yang biasanya membaik seiring maturasi sfingter esofagus bawah. Kemudian, sarankan orang tua untuk melakukan modifikasi nutrisi pada bayi yang meliputi pemberian volume susu yang sesuai (±150 ml/kgBB/hari dalam 6–7 kali pemberian), teknik menyusui yang benar, serta menghindari overfeeding. (1). Pada bayi yang mengonsumsi formula, penggunaan thickening milk terbukti menurunkan frekuensi regurgitasi. (1) Posisi tidur terlentang dengan kepala sedikit ditinggikan atau posisi miring kiri setelah makan dapat membantu mengurangi gejala, meskipun posisi tengkurap tidak dianjurkan karena risiko sudden infant death syndrome (2).
Regurgitas dan GER berulang juga dapat terjadi akibat alergi susu sapi. Jika gelaja disertai tanda-tanda alergi seperti gatal-gatal dan manifestasi atopi lainnya, penyakit ini bisa dipertibangkan. Apabila terdapat kecurigaan alergi protein susu sapi, pasien dapat dilakukan eliminasi protein susu sapi selama 2–4 minggu menggunakan formula hidrolisat ekstensif, diikuti re-challenge untuk konfirmasi . (1)
Pendekatan Farmakologis
Obat-obatan hanya diberikan pada kasus GERD yang terbukti patologis atau disertai komplikasi.Proton pump inhibitor (PPI) merupakan terapi utama pada esofagitis erosif dan gejala GERD pada anak yang lebih besar. Namun, pada bayi, PPI terbukti tidak mengurangi frekuensi regurgitasi dan berisiko menimbulkan efek samping seperti infeksi saluran pernapasan, diare, konstipasi, hingga perubahan mikrobiota usus. (2)
Histamine-2 receptor antagonists (H2RA) dapat dipertimbangkan sebagai alternatif, meskipun efek tachyphylaxis membatasi penggunaannya jangka panjang. Prokinetik seperti domperidone dan cisapride tidak lagi direkomendasikan karena efektivitas rendah serta risiko efek samping kardiak (1). Antasida juga tidak dianjurkan untuk penggunaan kronis pada anak. (2)
Pembedahan
Fundoplikasi hanya dipertimbangkan pada kasus refrakter dengan komplikasi berat, seperti aspirasi berulang atau gagal tumbuh yang signifikan. Namun, tingkat kekambuhan pasca pembedahan lebih tinggi pada anak dibandingkan dewasa sehingga seleksi pasien harus sangat hati-hati. (2)
Kesimpulan
GER adalah fenomena fisiologis pada bayi yang umumnya membaik dengan bertambahnya usia. Diagnosis GERD memerlukan evaluasi klinis yang cermat, identifikasi red flags, serta penggunaan pemeriksaan penunjang sesuai indikasi. Rome IV Criteria membantu membedakan regurgitasi fisiologis dari GERD. Tatalaksana konservatif merupakan langkah utama, sementara terapi farmakologis terbatas pada kasus dengan bukti patologis. Edukasi orang tua menjadi kunci untuk mencegah over-medicalisasi dan menjaga kualitas hidup anak serta keluarga.
Referensi