
UN General Assembly 2024: Para Pemimpin Dunia Sepakati Deklarasi Global Lawan Resistensi Antimikroba

dr. Afiah Salsabila
3 Okt 2024

Ditulis oleh

dr, Afiah Salsabila
22 Jun 2025
Topik: Gangguan Perkembangan, Ilmiah, Global Developmental Delay
Global developmental delay (GDD), atau keterlambatan perkembangan global (KPG), merupakan kondisi ketika seorang anak mengalami keterlambatan bermakna dalam dua atau lebih domain perkembangan seperti motorik kasar, motorik halus, bahasa, kognitif, dan sosial personal. GDD bukanlah diagnosis akhir, tetapi merupakan deskripsi klinis yang penting untuk mengarahkan evaluasi lebih lanjut. Istilah ini biasanya digunakan untuk anak di bawah lima tahun, karena tes IQ formal belum dapat dilakukan secara valid pada kelompok usia ini. (1)
Identifikasi dini terhadap anak dengan GDD sangat penting karena memberikan kesempatan bagi dokter untuk melakukan evaluasi etiologi secara sistematis dan menyusun rencana tatalaksana sedini mungkin. Ini memungkinkan intervensi yang tepat untuk memaksimalkan potensi tumbuh kembang anak dan memperbaiki kualitas hidupnya secara jangka panjang. (2) Secara global, keterlambatan perkembangan merupakan masalah kesehatan masyarakat yang signifikan, terutama di negara berpenghasilan rendah dan menengah , termasuk Indonesia. (3)
Definisi, Diagnosis, dan Etiologi GDD
GDD didefinisikan sebagai keterlambatan yang bermakna (lebih dari dua standar deviasi di bawah rata-rata populasi) pada dua atau lebih domain perkembangan. (1) Diagnosis ditegakkan secara klinis berdasarkan riwayat perkembangan, pemeriksaan fisik neurologis, dan hasil pengamatan perkembangan fungsi sehari-hari anak. Pemeriksaan lebih lanjut seperti neuroimaging, uji metabolik, dan analisis genetik menjadi penting bila etiologi tidak dapat ditentukan dari anamnesis dan pemeriksaan fisik.
Etiologi GDD sangat bervariasi dan dapat diklasifikasikan berdasarkan waktu kejadiannya menjadi prenatal, perinatal, dan pascanatal. Berdasarkan penelitian di RS Cipto Mangunkusumo Jakarta, dari 151 pasien GDD, 64,2% etiologi dapat diidentifikasi. Penyebab paling umum meliputi disgenesis serebral (21,9%), cerebral palsy (11,9%), infeksi TORCH (9,9%), sindrom genetik (7,3%), dan kelainan metabolik kongenital (4,6%). (2)
Studi meta-analisis global menunjukkan bahwa prevalensi keterlambatan perkembangan di berpenghasilan rendah dan menengah , mencapai 18,83%, dengan faktor risiko utama termasuk berat lahir rendah (odds ratio 3,61) dan pendidikan ibu yang rendah (odds ratio 3,04). (3) Kedua faktor ini perlu diperhatikan dalam konteks klinis Indonesia, di mana kejadian berat lahir rendah dan angka buta huruf ibu masih menjadi tantangan.
Patogenesis GDD
GDD disebabkan oleh berbagai gangguan pada perkembangan otak yang dapat terjadi sejak fase embriologis hingga pascanatal. Kelainan ini dapat berupa gangguan migrasi neuron, malformasi kortikal, infeksi intrauterin, hipoksia-iskemik, kelainan metabolik bawaan, serta abnormalitas kromosom atau genetik. (1,2) Selain itu, malnutrisi pada masa awal kehidupan juga berkontribusi besar terhadap gangguan perkembangan neurologis. (3) Oleh karena itu, evaluasi terhadap status gizi harus menjadi bagian integral dari proses diagnosis.
Rekomendasi Workup Evaluasi GDD
Pendekatan sistematik untuk evaluasi GDD bertujuan mengidentifikasi penyebab spesifik agar tatalaksana bisa disesuaikan. Anamnesis menyeluruh mencakup riwayat kehamilan, persalinan, perkembangan, riwayat keluarga, serta riwayat penyakit infeksi dan kejang. Pemeriksaan fisik dengan fokus pada status neurologis, antropometri (termasuk lingkar kepala), status gizi, dan dismorfik merupakan langkah awal.
Pemeriksaan penunjang disesuaikan dengan temuan klinis. Neuroimaging seperti CT-scan atau MRI kepala diindikasikan pada anak dengan mikrosefali, makrosefali, kejang, atau dismorfisme. Pemeriksaan metabolik (laktat, ammonia, asam amino plasma, dan asam organik urin) dipertimbangkan jika ditemukan riwayat regresi perkembangan, kejang intractable, atau penurunan kesadaran yang tidak dapat dijelaskan. Pemeriksaan genetik seperti kariotipe dan CGH-array atau WES dapat dilakukan bila dicurigai kelainan genetik. (1)
Studi di Jakarta menunjukkan bahwa pemeriksaan neuroimaging memiliki kontribusi besar terhadap identifikasi etiologi, khususnya pada kasus dengan disgenesis serebral dan palsi serebral. (2) Namun, seperti yang juga ditemukan dalam studi global, keterbatasan akses terhadap pemeriksaan metabolik dan genetik tetap menjadi hambatan signifikan dalam menegakkan diagnosis etiologi di berpenghasilan rendah dan menengah . (3)
Kesimpulan
Global developmental delay adalah kondisi klinis yang dapat disebabkan oleh berbagai etiologi, dari gangguan struktural otak, genetik, hingga gangguan metabolik. Deteksi dini dan evaluasi menyeluruh sangat penting untuk mengidentifikasi penyebab spesifik dan menyusun tatalaksana yang tepat. Dengan pendekatan yang terstandarisasi, anak-anak dengan GDD dapat menerima intervensi dini yang optimal, yang pada akhirnya akan meningkatkan potensi tumbuh kembang dan kualitas hidup mereka. Peran dokter anak sangat sentral dalam mendeteksi, mengevaluasi, serta merujuk pasien GDD untuk tatalaksana yang komprehensif.
Apakah Dokter pernah menangani kasus GDD? Apa saja tantangan yang biasanya dihadapi dalam penanganannya? Kami sangat menghargai jika Dokter bisa berbagi pengalaman atau pendapat di kolom komentar di bawah ini!
Daftar Pustaka


dr. Afiah Salsabila
3 Okt 2024


dr. Afiah Salsabila
1 Nov 2024


dr. Afiah Salsabila
3 Nov 2025


dr. Afiah Salsabila
25 Nov 2025