
Ternyata hormon berperan dalam pertumbuhan, lho!

dr. Dini Astuti Mirasanti Sp.A
12 Sep 2021

Ditulis oleh

dr. Afiah Salsabila
4 Jul 2025
Topik: Protein, 1000 Hari Pertama Kehidupan, Nutrisi Anak, Fakta Nutrisi
Latar Belakang
Periode 1000 hari pertama kehidupan, yang mencakup masa dari konsepsi hingga usia dua tahun, merupakan masa kritis dalam pembentukan dan pematangan struktur serta fungsi otak. Dalam periode ini, pertumbuhan otak terjadi sangat cepat dan dipengaruhi oleh asupan nutrisi. Defisiensi nutrisi pada masa ini dapat menimbulkan dampak jangka panjang terhadap fungsi kognitif, perilaku, dan kesehatan mental di masa dewasa. Salah satu komponen nutrisi utama yang memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan otak adalah protein. (1)
Protein berperan dalam pembentukan sel-sel saraf, mielinisasi, sintesis neurotransmiter, dan mekanisme epigenetik yang mengatur ekspresi gen-gen penting dalam perkembangan otak. Karena itu, kecukupan asupan protein selama kehamilan dan masa awal kehidupan anak menjadi sangat penting untuk memastikan perkembangan neurologis yang optimal. (2)
Peran Protein dan Asam Amino dalam Perkembangan Otak
Protein terdiri dari asam amino esensial yang diperlukan untuk berbagai proses biologis dalam pembentukan dan pematangan sistem saraf pusat. Selama masa prenatal dan awal postnatal, otak mengalami proliferasi neuron, pertumbuhan dendritik, sinaptogenesis, dan peningkatan konektivitas antarsirkuit. Semua proses ini memerlukan substrat protein yang cukup. (3)
Beberapa asam amino, seperti leusin, valin, dan triptofan, diketahui berperan dalam aktivasi jalur mTOR (mammalian Target of Rapamycin), yang berfungsi sebagai sensor nutrisi dan pengatur utama pertumbuhan sel otak. Jalur ini mengintegrasikan status asupan asam amino dengan regulasi translasi protein, transkripsi DNA, dan pembentukan sinaps. Selain itu, asam amino juga merupakan prekursor neurotransmiter seperti dopamin, serotonin, dan glutamat, yang penting dalam fungsi eksekutif dan regulasi emosi. (3)
Kekurangan asupan protein atau kualitas protein yang buruk selama periode kritis ini telah terbukti mengganggu struktur otak secara langsung. Studi preklinik menunjukkan bahwa malnutrisi protein pada masa prenatal menyebabkan otak lebih kecil, penurunan jumlah neuron, dendrit yang kurang kompleks, dan konsentrasi neurotransmiter yang lebih rendah. (3)
IUGR dan Dampaknya terhadap IQ Anak
Salah satu manifestasi klinis dari kekurangan protein kronik pada masa antenatal adalah intrauterine growth restriction (IUGR). IUGR merupakan kondisi melambatnya pertumbuhan janin di dalam kandungan, umumnya akibat defisiensi protein-energi dan mikronutrien lain, dan sering kali ditemukan pada ibu hamil dengan status gizi buruk. Kondisi ini berdampak pada penurunan suplai nutrisi dan oksigen ke otak janin, yang menyebabkan gangguan maturasi hippocampus dan korteks prefrontal. (2)
IUGR telah terbukti berkaitan dengan penurunan skor IQ dan gangguan fungsi eksekutif pada usia sekolah. Sebuah tinjauan sistematik terhadap 38 studi menemukan bahwa anak dengan IUGR yang lahir sebelum 35 minggu memiliki skor perkembangan neurologis yang 0,7 SD lebih rendah dibandingkan anak yang tidak mengalami IUGR. Efek ini bertahan bahkan setelah nutrisi diperbaiki, yang menunjukkan bahwa gangguan terjadi pada periode perkembangan kritis dan bersifat irreversible. (2)
Penelitian longitudinal lain menunjukkan bahwa pertumbuhan linier dalam 12 bulan pertama kehidupan sangat berkorelasi dengan skor IQ di usia 9 tahun. Sebaliknya, pertumbuhan setelah usia 1 tahun tidak berkorelasi signifikan dengan IQ di masa anak-anak. Hal ini menegaskan pentingnya optimalisasi nutrisi—terutama protein—pada awal kehidupan. (3)
Rekomendasi Klinis dan Implikasi Kebijakan
Penting bagi tenaga kesehatan untuk menekankan pentingnya pemenuhan kebutuhan protein dalam dua fase utama: selama kehamilan dan 2 tahun pertama kehidupan anak. Protein yang dikonsumsi sebaiknya berkualitas tinggi, mengandung asam amino esensial lengkap, seperti yang terdapat dalam sumber hewani (daging, telur, ikan, dan susu) serta kombinasi legum dan serealia bagi keluarga yang mengandalkan pola makan nabati.
Upaya pencegahan IUGR dan gangguan pertumbuhan lainnya dapat dimulai dari edukasi gizi bagi calon ibu sejak remaja, pemberian makanan tambahan pada ibu hamil berisiko tinggi, dan pemantauan pertumbuhan janin secara berkala. Pasca kelahiran, promosi ASI eksklusif dan pengenalan MPASI yang kaya protein serta intervensi pada anak berisiko tinggi menjadi krusial. (2)
Dalam konteks global dan Indonesia khususnya, program-program gizi yang menargetkan 1000 hari pertama telah menjadi prioritas nasional. Namun, masih terdapat tantangan dalam kualitas protein yang tersedia dalam pangan lokal serta pola makan masyarakat yang bergeser ke arah tinggi kalori namun rendah kualitas zat gizi. Oleh karena itu, kebijakan harus mendorong ketersediaan dan keterjangkauan protein berkualitas tinggi di tingkat keluarga. (1)
Untuk mendukung perkembangan otak yang optimal, asupan protein harus diperhatikan sejak masa prakonsepsi, kehamilan, hingga dua tahun pertama kehidupan anak. Kebutuhan protein bervariasi tergantung usia dan fase perkembangan. Menurut referensi terbaru dari konsensus gizi D-A-CH (perkumpulan organisasi nutrisi Jerman, Austria, dan Swiss), bayi usia 0 hingga <1 bulan memerlukan sekitar 2,5 g protein/kg berat badan/hari, usia 1–2 bulan sekitar 1,8 g/kg/hari, dan 2–4 bulan sekitar 1,4 g/kg/hari. Pada usia 4–12 bulan, kebutuhan menurun menjadi 1,3 g/kg/hari, dan untuk anak usia 1–4 tahun, sekitar 1,0 g/kg/hari. (3)
Kesimpulan dan Penutup
Protein adalah komponen nutrisi esensial yang berperan penting dalam pembentukan struktur dan fungsi otak anak, terutama selama periode 1000 hari pertama kehidupan. Kekurangan protein, baik secara kuantitas maupun kualitas, dapat menyebabkan gangguan perkembangan otak yang berdampak jangka panjang terhadap kemampuan kognitif, IQ, dan produktivitas individu di masa depan.
Intervensi gizi yang tepat waktu, berbasis bukti, dan berfokus pada masa prenatal dan awal kehidupan postnatal terbukti mampu mencegah gangguan neurologis akibat defisiensi protein. Oleh karena itu, pemenuhan kebutuhan protein berkualitas tinggi harus menjadi bagian integral dari pelayanan kesehatan ibu dan anak serta kebijakan gizi nasional.
Daftar Pustaka


dr. Dini Astuti Mirasanti Sp.A
12 Sep 2021


Fauziah Sabtuanisa / dr. Dini Astuti Mirasanti Sp.A (Editor)
4 Agu 2022


Tim PrimaKu
8 Agu 2022


Fauziah Sabtuanisa / dr. Lucyana Alim Santoso Sp.A (Editor)
31 Agu 2022