
Profilaksis Tetanus pada Anak
6 Jul 2025

Author: dr. Afiah Salsabila
30 Nov 2025
Topik: Vitamin K, Bayi Baru Lahir, Neonatus
Vitamin K adalah vitamin larut lemak yang berperan penting dalam proses koagulasi, terutama sebagai kofaktor untuk aktivasi faktor II, VII, IX, X serta protein C dan S. Pada orang dewasa, cadangan vitamin K relatif stabil karena asupan makanan dan produksi bakteri usus. Namun, pada bayi baru lahir, situasinya sangat berbeda. Mereka secara fisiologis berada dalam kondisi defisiensi vitamin K akibat transfer plasenta yang terbatas, kolonisasi usus yang belum terbentuk, dan fungsi hepatik yang imatur. Kondisi inilah yang menjadi dasar risiko terjadinya vitamin K deficiency bleeding (VKDB), atau yang dulu dikenal sebagai haemorrhagic disease of the newborn (HDN).
VKDB bukan hanya sekadar perdarahan ringan; bentuk terlambatnya dapat menyebabkan perdarahan intrakranial dengan morbiditas dan mortalitas yang signifikan. Secara klinis, VKDB terbagi menjadi tiga bentuk: bentuk dini yang muncul dalam 24 jam pertama, bentuk klasik pada hari ke-1 hingga ke-7, dan bentuk terlambat yang muncul mulai usia 7 hari hingga 6 bulan dengan puncak kejadian pada bayi usia 2–12 minggu. Bentuk terlambat inilah yang paling berbahaya karena sering kali muncul tiba-tiba pada bayi tampak sehat dan hampir selalu terjadi pada bayi yang mendapat ASI eksklusif tanpa profilaksis vitamin K.
Sejak pertengahan abad ke-20, pemberian vitamin K setelah lahir menjadi intervensi yang terbukti paling efektif untuk mencegah VKDB. Namun hingga kini masih muncul pertanyaan mengenai efektivitas regimen yang berbeda—oral versus intramuskular (IM), satu dosis versus multipel dosis—sehingga penting bagi dokter anak untuk memahami bukti ilmiah terkini.
Efektivitas Vitamin K dalam Mencegah VKDB
Pertanyaan pertama yang sering muncul dalam praktik sehari-hari adalah apakah pemberian vitamin K memang efektif mencegah VKDB. Bukti klinis dari randomized controlled trial menunjukkan bahwa pemberian IM setelah lahir menurunkan kejadian perdarahan klinis dalam minggu pertama kehidupan. Dua penelitian besar dari tahun 1960-an membuktikan bahwa bayi yang menerima vitamin K IM memiliki risiko perdarahan jauh lebih rendah daripada bayi yang tidak menerima profilaksis.
Tidak ada randomized trial yang menilai langsung penurunan insiden VKDB bentuk terlambat. Namun data surveilans dari berbagai negara menunjukkan penurunan yang sangat signifikan sejak profilaksis vitamin K dilakukan secara universal. Negara yang menggunakan regimen IM dosis tunggal melaporkan insidensi mendekati nol.
Perbandingan Efektivitas: Oral vs Intramuskular
Hingga kini belum ada studi acak yang secara langsung membandingkan rute oral dan IM. Namun bukti observasional memberikan gambaran jelas: nilai INR pada regimen oral yang diberikan lengkap tidak berbeda scara signifikan dibandingkan rute IM. Tetapi efektivitas ini sangat bergantung pada kepatuhan orang tua.
Negara yang menerapkan regimen oral sering kali menghadapi kegagalan karena dosis lanjutan tidak diberikan sesuai jadwal. Inilah yang menjadi alasan utama mengapa rute IM tetap diakui sebagai standar emas. Pemberian IM dosis tunggal tidak bergantung pada kepatuhan dan memberikan perlindungan jangka panjang.
Selain itu, rute oral tidak efektif pada bayi dengan kolestasis, malabsorpsi, atau penyakit hati. Penyerapan vitamin K yang sangat rendah pada kelompok ini menyebabkan kejadian VKDB terlambat tetap tinggi. Studi pada bayi dengan atresia bilier menunjukkan insidensi VKDB lebih dari 80% pada regimen oral harian, dibanding hanya 4% pada regimen IM.
Satu Dosis vs Dosis Multipel: Mana yang Lebih Efektif?
Pada rute IM, satu dosis terbukti efektif mencegah VKDB klasik maupun terlambat. Hal ini terjadi karena penyerapan IM yang baik mempertahankan kadar vitamin K plasma dalam jangka waktu lama.
Namun pada rute oral, satu dosis tidak cukup. Kadar vitamin K turun kembali dalam beberapa hari, sehingga muncul kebutuhan pemberian dosis berulang. Banyak negara menggunakan regimen oral multipel, misalnya 2 mg saat lahir diikuti dosis mingguan atau harian. Bila diberikan lengkap, regimen ini dapat cukup efektif, tetapi tetap lebih rentan terhadap kegagalan dibanding IM.
Oleh karena itu, bukti ilmiah mengarah pada kesimpulan bahwa satu dosis IM adalah regimen paling efektif dan paling mudah diterapkan; sementara regimen oral multipel hanya dapat digunakan bila orang tua menolak rute IM dan dokter dapat memastikan kepatuhan konsumsi.
Kesimpulan dan Penutup
Profilaksis vitamin K tetap menjadi intervensi krusial dalam pencegahan VKDB pada bayi baru lahir. Bukti ilmiah yang ada menunjukkan bahwa pemberian intramuskular 1 mg setelah lahir merupakan metode paling efektif, paling praktis, dan paling aman. Rute oral dapat menjadi alternatif, tetapi hanya efektif bila diberikan dalam regimen multipel dan memerlukan kepatuhan tinggi, serta tidak boleh diberikan pada bayi dengan gangguan kolestasis atau malabsorpsi.
Dengan risiko perdarahan intrakranial yang dapat mengancam jiwa, profilaksis vitamin K bukan sekadar tindakan rutin, tetapi bagian penting dari keselamatan neonatal. Edukasi orang tua dan konsistensi dalam praktik klinis menjadi kunci untuk memastikan seluruh bayi mendapatkan perlindungan optimal sejak awal kehidupan.
Referensi
Jullien S. Vitamin K prophylaxis in newborns. BMC Pediatr. 2021;21(Suppl1):350.