
Himbauan IDAI Tentang Peningkatan Kewaspadaan Terhadap Kasus Difteri
20 Des 2017

Author: dr. Afiah Salsabila
23 Agu 2025
Topik: Cacing Gelang, Obat Cacing, Cacingan, Ascariasis
Latar Belakang
Askariasis adalah infeksi parasit yang disebabkan oleh Ascaris lumbricoides, yaitu salah satu jenis cacing usus yang paling lazim menginfeksi manusia. Penyakit ini telah dikenal sejak zaman dahulu dan hingga kini, tetap menjadi masalah kesehatan masyarakat global, terutama di negara berkembang seperti Indonesia. Meskipun berbagai intervensi telah dilakukan, seperti peningkatan sanitasi, edukasi kesehatan, dan pemberian obat cacing massal, kasus askariasis masih sering ditemukan, termasuk kasus-kasus berat yang berujung pada komplikasi berat dan kematian sebagai akibatnya.(1)
WHO mencatat bahwa lebih dari 820 juta orang di dunia terinfeksi Ascaris lumbricoides pada tahun 2010, dengan anak-anak usia sekolah dan prasekolah sebagai kelompok yang paling rentan.(1) Di Indonesia sendiri, prevalensi helmintiasis, termasuk askariasis masih tinggi dan bervariasi antar wilayah – berkisar antara 2,5% hingga 62%.(2) Prevalensi tinggi ini menjadikan askariasis sebagai salah satu penyebab malnutrisi, anemia, gangguan kognitif, dan morbiditas jangka panjang yang perlu diperhatikan pada anak.
Oleh karena itu, memahami etiologi, patogenesis, serta strategi tatalaksana dan pencegahan askariasis menjadi penting agar dokter anak dapat memberikan intervensi yang efektif dan menyeluruh, serta yang paling penting, mencegah morbiditas dan mortalitas akibat penyakit yang sebenarnya mudah untuk dihindari.
Etiologi dan Daur Hidup Askariasis
Askariasis disebabkan oleh infeksi Ascaris lumbricoides, jenis cacing nematoda yang usus yang dapat disebarkan melalui tanah (soil-transmitted helminth). Penularannya terjadi ketika anak menelan telur infektif dari tanah terkontaminasi tinja yang mengandung telur Ascaris. Setelah tertelan, telur menetas di usus halus dan larvanya bermigrasi melalui hati dan paru, kemudian kembali ke usus halus untuk menjadi dewasa dan berkembang biak.(1,3,4) siklus hidup Ascaris lumbricoides dapat dilihat pada Gambar 1.
Gambar 1. SIklus hidup Ascaris lumbricoides
Siklus hidup ini, yang mencakup fase migrasi larva melalui jaringan, menjelaskan sebagian besar manifestasi klinis, dan komplikasi sistemik yang dapat terjadi.(1)
Patogenesis dan Patofisiologi
Infeksi Ascaris lumbricoides bersifat kronik dan kumulatif, terutama jika tidak segera ditangani dengan terapi yang adekuat. Cacing dewasa mampu bertahan hidup di dalam tubuh manusia hingga dua tahun dan setiap betina dapat menghasilkan sekitar 200.000 telur per hari, yang kemudian dikeluarkan melalui tinja dan mencemari lingkungan. Morbiditas pada anak sangat dipengaruhi oleh beban cacing yang tinggi di dalam usus, yang menyebabkan gangguan penyerapan nutrisi, malabsorpsi, serta risiko obstruksi usus. Akibat kompetisi antara cacing dan inangnya dalam hal asupan nutrisi, anak menjadi rentan mengalami malnutrisi dan gangguan tumbuh kembang. Selain itu, infeksi kronik juga dapat menyebabkan anemia berat akibat kehilangan darah dan penurunan penyerapan zat besi, serta berdampak pada penurunan fungsi kognitif yang berkaitan erat dengan defisiensi nutrisi jangka panjang. Pada kasus infeksi berat, kumpulan cacing dapat menyumbat lumen usus hingga menyebabkan obstruksi intestinal dan invaginasi, khususnya pada anak usia dini. Lebih jauh lagi, cacing dewasa dapat bermigrasi secara ektopik ke saluran empedu, pankreas, atau bahkan ke otak, menimbulkan komplikasi sistemik seperti kolangitis, abses hati, hingga ensefalitis, yang meskipun jarang terjadi, berpotensi mengancam jiwa.
Faktor Risiko
Faktor risiko utama adalah lingkungan sosial‑ekonomi dan kondisi kesehatan keluarga yang buruk—sanitasi buruk, akses air bersih terbatas, pendidikan kesehatan rendah, kebiasaan tidak mencuci tangan, tidak memakai alas kaki, serta status gizi buruk atau imunodefisiensi pada anak. Kondisi sosial seperti gangguan jiwa atau stres keluarga juga bisa menurunkan kepedulian terhadap praktik higienis, meningkatkan risiko infeksi berulang.
Kondisi psikososial keluarga yang tidak ideal, termasuk pengabaian dan gangguan kesehatan mental orang tua juga dapat menyebabkan abainya perilaku higienis di rumah. (1,2)
Strategi Tatalaksana dan Pencegahan
Pemberian obat anthelmintik tetap menjadi tulang punggung terapi. WHO merekomendasikan albendazole 400 mg atau mebendazole 500 mg dosis tunggal, diberikan secara berkala (1–2 kali per tahun) tergantung pada tingkat endemisitas wilayah.(1)
Kebijakan ini juga tercermin dalam Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 15 Tahun 2017 tentang Penanggulangan Cacingan, yang mengatur Pemberian Obat Pencegahan Massal (POPM) untuk anak usia sekolah dan prasekolah.(2)
Selain pengobatan, intervensi lain yang harus dilakukan secara integratif meliputi, Promosi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), penyediaan air bersih dan sanitasi yang memadai, Edukasi keluarga dan masyarakat, Integrasi program dengan vitamin A, PMT, UKS, dan posyandu
Kesimpulan
Angka kejadian askariasis memang telah mengalami penurunan signifikan secara global dan nasional sejak tahun 1990-an.(1,2) Namun, cakupan intervensi belum mencapai target maksimal, terbukti dari masih ditemukannya kasus askariasis dengan komplikasi berat bahkan kematian.
Penanggulangan askariasis pada anak memerlukan kerja sama dari berbagai pihak. Peran dokter anak sangat krusial tidak hanya dalam diagnosis dan tatalaksana klinis, tetapi juga dalam advokasi PHBS, penguatan sistem surveilans, dan keterlibatan aktif dalam program pemberian obat cacing massal. Keberhasilan program akan bergantung pada sinergi antara tenaga kesehatan, pemerintah daerah, sekolah, dan keluarga.
Dengan pendekatan preventif dan kuratif yang kuat, askariasis seharusnya bukan lagi penyebab morbiditas yang signifikan pada anak Indonesia.
Referensi