
Himbauan IDAI Tentang Peningkatan Kewaspadaan Terhadap Kasus Difteri
20 Des 2017

Author: dr. Afiah Salsabila
10 Okt 2025
Topik: Speech Delay, speech, speech development, Language Disorder
Latar Belakang
Speech delay atau keterlambatan bicara adalah kondisi ketika kemampuan verbal seorang anak tertinggal dari pencapaian normal usianya. Dalam terminologi klinis, speech merujuk pada produksi verbal bahasa, sedangkan language mencakup sistem komunikasi yang melibatkan pemahaman (receptive) dan ekspresi (expressive). Speech delay dapat terjadi akibat gangguan proses produksi suara, gangguan pemahaman bahasa, atau kombinasi keduanya.
Secara epidemiologi, dilaporkan hingga 1 dari 8 anak usia dua hingga lima tahun mengalami keterlambatan bicara atau bahasa. Anak-anak dengan speech delay persisten hingga usia sekolah memiliki risiko lebih tinggi terhadap disabilitas belajar, kesulitan membaca, serta masalah sosial dan psikososial yang dapat menetap hingga dewasa. Oleh karena itu, identifikasi dini sangat penting untuk meminimalisasi dampak jangka panjang terhadap perkembangan anak.
Perkembangan Normal Bicara dan Bahasa
Perkembangan bahasa memiliki milestones yang dapat dipantau sejak usia dini. Pada usia 2 bulan, bayi mulai menunjukkan respons terhadap suara keras dan membuat bunyi selain tangisan. Usia 6 bulan ditandai dengan babbling, tertawa, dan kemampuan bergantian mengeluarkan suara dengan orang lain. Pada 12 bulan, anak mulai mengucapkan kata spesifik seperti “mama” atau “dada” serta memahami instruksi sederhana.
Pada 18 bulan, anak umumnya mampu mengucapkan minimal tiga kata bermakna, dan di usia 24 bulan sudah dapat merangkai dua kata sederhana. Pada 3 tahun, anak sudah dapat melakukan percakapan sederhana dua arah, mengajukan pertanyaan dasar, dan sebagian besar ucapannya dapat dimengerti orang lain. Di usia 4–5 tahun, kemampuan bahasa anak berkembang pesat, termasuk menyebut warna, berhitung sederhana, hingga bercerita tentang pengalaman sehari-hari. Kegagalan mencapai tonggak ini sesuai usia merupakan tanda awal yang perlu diwaspadai.
Gangguan Bicara yang Dapat Terjadi
Gangguan bicara dan bahasa pada anak dapat diklasifikasikan menjadi gangguan primer dan sekunder. Gangguan primer meliputi language disorder, childhood-onset fluency disorder (stuttering dan cluttering), serta social (pragmatic) communication disorder. Gangguan sekunder dapat disebabkan oleh kondisi neurodevelopmental seperti autism spectrum disorder, cerebral palsy, global developmental delay, craniofacial disorders, hearing loss, hingga intellectual disability.
Stuttering ditandai dengan pengulangan bunyi atau kata, perpanjangan suara, hingga jeda yang tidak semestinya. Anak dengan riwayat keluarga stuttering memiliki risiko tiga kali lipat lebih tinggi. Language disorder ditandai dengan kosa kata terbatas, struktur kalimat sederhana, dan kesulitan dalam percakapan meski tidak terdapat gangguan sensorik atau neurologis lain. Sementara itu, gangguan komunikasi sosial mencakup kesulitan penggunaan bahasa dalam konteks sosial, misalnya kontak mata atau ekspresi wajah yang tidak sesuai.
Etiologi dan Faktor Risiko
Etiologi speech delay bersifat multifaktorial, termasuk faktor genetik, gangguan neurologis, gangguan pendengaran, serta faktor lingkungan. Beberapa faktor risiko yang telah terbukti antara lain jenis kelamin laki-laki, berat lahir rendah (<2.500 g), dan masalah pendengaran yang menetap. Anak laki-laki memiliki odds dua kali lebih tinggi untuk mengalami keterlambatan bicara, sedangkan gangguan pendengaran meningkatkan risiko hingga lebih dari empat kali lipat.
Selain itu, paparan bahasa yang terbatas, rendahnya stimulasi verbal, hingga paparan media elektronik berlebih berhubungan dengan keterlambatan bicara (6). Sebaliknya, keterpaparan bahasa ganda (bilingual) tidak meningkatkan risiko speech delay, meskipun anak bilingual mungkin menunjukkan skor lebih rendah pada tes bahasa standar di usia prasekolah.
Rekomendasi Tatalaksana
Surveilans perkembangan harus dilakukan di setiap kunjungan rutin, terutama sebelum masuk sekolah dasar. Jika ada keterlambatan dalam milestones bahasa, anak perlu segera dirujuk ke spesialis patologi wicara dan audiologi untuk evaluasi lebih lanjut. Watchful waiting atau menunggu tanpa intervensi tidak dianjurkan, terutama pada late talkers dengan kosakata <50 kata pada usia 24 bulan atau tidak mampu menyusun frasa dua kata.
Pendekatan terapi meliputi intervensi wicara dan bahasa yang dilakukan oleh terapis, dengan fokus pada keterampilan komunikasi, stimulasi interaktif, serta modifikasi perilaku. Intervensi paling efektif bila dimulai sedini mungkin. Pada kasus dengan penyebab sekunder, penatalaksanaan harus mencakup terapi untuk kondisi dasar, misalnya rehabilitasi audiologi pada gangguan pendengaran, terapi okupasi pada cerebral palsy, atau manajemen komorbid neurodevelopmental lainnya.
Peran orang tua sangat penting dalam keberhasilan terapi. Orang tua dianjurkan untuk aktif berbicara dengan anak menggunakan kalimat sederhana, membacakan buku, serta membatasi waktu layar sesuai rekomendasi American Academy of Pediatrics. Paparan sosial dan interaksi langsung lebih efektif dibanding stimulasi pasif melalui media.
Kesimpulan dan Penutup
Speech delay merupakan kondisi yang sering dijumpai pada praktik pediatri dengan konsekuensi serius bila tidak ditangani. Pemahaman mengenai milestones perkembangan normal, faktor risiko, serta etiologi memungkinkan dokter anak melakukan identifikasi dini. Rekomendasi terkini menekankan perlunya evaluasi segera dan rujukan untuk intervensi multidisiplin. Dengan penatalaksanaan yang tepat dan keterlibatan aktif keluarga, prognosis anak dengan speech delay dapat ditingkatkan secara signifikan.
Referensi:
Rupert J, Hughes P, Schoenherr D. Speech and Language Delay in Children. Am Fam Physician. 2023 Aug;108(2):181-188. PMID: 37590860.