
Rekomendasi Terbaru WHO: Hindari Pemberian Makanan Tidak Sehat, yuk, Cek Faktanya!
30 Nov 2023

Author: dr. Afiah Salsabila
13 Agu 2025
Topik: Aktivitas Fisik, Remaja, Panduan
Aktivitas fisik merupakan salah satu pilar penting dalam menjaga kesehatan anak dan remaja. Berbagai bukti ilmiah menunjukkan bahwa aktivitas fisik berhubungan erat dengan peningkatan kebugaran kardiorespiratori, kekuatan otot, kesehatan tulang, kesehatan kardiometabolik, serta kesehatan mental dan kognitif. Anak dan remaja yang aktif secara fisik cenderung memiliki risiko lebih rendah terhadap depresi, mampu mengendalikan gejala depresi, serta menunjukkan prestasi akademik dan fungsi kognitif yang lebih baik.
Namun, data global yang dirilis WHO menunjukkan bahwa 81% remaja berusia 11–17 tahun di seluruh dunia tidak cukup aktif secara fisik. Kondisi ini terjadi di hampir semua wilayah, dengan variasi antar negara dan antar jenis kelamin. Perilaku sedenter—yakni aktivitas dengan pengeluaran energi sangat rendah, seperti duduk atau berbaring saat terjaga—semakin memperburuk situasi ini. Di kelompok usia remaja, perilaku sedenter sering kali didominasi oleh penggunaan gawai untuk hiburan, menonton televisi, dan bermain video game.
Perilaku kurang aktif dan sedenter tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik, tetapi juga berpotensi memengaruhi kesehatan mental, kualitas tidur, dan perilaku sosial. Meningkatnya prevalensi perilaku ini menjadi perhatian penting dalam kesehatan masyarakat, termasuk bagi dokter anak yang berperan langsung dalam promosi dan pencegahan masalah kesehatan pada populasi usia sekolah.
Dasar Ilmiah Panduan WHO 2020
Panduan WHO 2020 untuk aktivitas fisik dan perilaku sedenter pada anak dan remaja berusia 5–17 tahun disusun berdasarkan hasil telaah sistematis dari 21 systematic review yang dipublikasikan antara tahun 2017 hingga Juli 2019. Bukti yang terkumpul memperkuat kesimpulan bahwa semakin besar jumlah dan intensitas aktivitas fisik, semakin besar pula manfaat kesehatan yang diperoleh.
Aktivitas fisik yang paling banyak diteliti adalah olahraga aerobik intensitas sedang hingga berat, atau moderate-to-vigorous physical activity (MVPA) yang terbukti meningkatkan kebugaran kardiorespiratori. Sementara itu, latihan beban (resistance training) seperti latihan beban atau bodyweight exercise efektif meningkatkan kekuatan otot. Melakukan keduanya memberikan manfaat yang lebih besar dalam kebugaran tubuh. Aktivitas yang melibatkan beban pada tulang (weight-bearing activities) juga berperan dalam meningkatkan kepadatan dan kesehatan tulang.
Menariknya, sebagian besar penelitian yang mendasari rekomendasi WHO mengukur durasi aktivitas fisik dalam bentuk rata-rata mingguan, bukan keharusan harian. Oleh karena itu, WHO kini menyarankan target rata-rata 60 menit MVPA per hari dalam seminggu, bukan kewajiban melakukan 60 menit penuh setiap hari. Fleksibilitas ini diharapkan memudahkan penerapan rekomendasi, terutama pada anak dan remaja dengan jadwal kegiatan yang beragam.
Rekomendasi Aktivitas Fisik untuk Anak dan Remaja
WHO merekomendasikan bahwa anak dan remaja berusia 5–17 tahun:
Pembatasan Perilaku Sedenter
Selain mendorong aktivitas fisik, WHO juga memberikan rekomendasi untuk membatasi perilaku sedenter. Perilaku sedenter didefinisikan sebagai kegiatan yang dilakukan dalam posisi duduk atau berbaring yang hanya memakan energi sebanyak ≤1,5 METs. Contohnya termasuk menonton televisi, bermain game di gawai, atau surfing di internet untuk tujuan hiburan.
WHO menyadari bahwa tak semua kegiatan sedenter memilliki dampak buruk. Aktivitas-aktivitas yang edukatif atau kreatif seperti membaca, menggambar, atau membuat kerajinan, memiliki nilai positif bagi perkembangan kognitif dan sosial anak. Maka dari itu, WHO menyarankan untuk mengurangi aktivitas sedenter melalui membatasi screen time rekreasional. Screen time yang berlebih berhubungan dengan kesehatan kardiometabolik yang lebih buruk, tingkat kebugaran yang rendah, peningkatan adipositas, kualitas tidur yang menurun, serta berbagai masalah perilaku dan kejiwaan. Meskipun beberapa panduan nasional di negara lain banyak yang menganjurkan batas maksimal 2 jam per hari untuk screen time rekreasional, WHO menilai bahwa bukti ilmiah saat ini belum cukup kuat untuk menentukan batas waktu yang pasti. Namun, pembatasan screen time tetap direkomendasikan, terutama jika menggantikan waktu yang seharusnya dihabiskan untuk aktivitas fisik atau tidur.
Peran Dokter Anak dalam Implementasi Panduan
Dokter anak memiliki peran strategis dalam mengedukasi keluarga dan masyarakat mengenai pentingnya aktivitas fisik dan pengendalian perilaku sedenter. Beberapa langkah yang dapat dilakukan meliputi:
Implementasi rekomendasi WHO membutuhkan kolaborasi lintas sektor, termasuk tenaga kesehatan, pendidik, pembuat kebijakan, dan masyarakat luas. Pendekatan yang komprehensif ini diharapkan dapat menciptakan lingkungan yang mendukung anak dan remaja untuk lebih aktif bergerak, mengurangi waktu duduk berlebihan, dan meningkatkan kualitas hidup secara keseluruhan.
Kesimpulan
Panduan WHO 2020 menegaskan kembali pentingnya aktivitas fisik sebagai faktor kunci kesehatan anak dan remaja, sekaligus menyoroti bahaya perilaku sedenter yang berlebihan. Dengan target rata-rata 60 menit MVPA per hari, disertai pembatasan screen time rekreasional, diharapkan generasi muda dapat tumbuh dengan kesehatan fisik dan mental yang optimal. Peran dokter anak tidak hanya sebatas mendiagnosis dan mengobati, tetapi juga menjadi agen perubahan perilaku yang mendorong anak dan keluarga untuk menjalani gaya hidup aktif di era digital saat ini.
Reference:
Chaput JP, Willumsen J, Bull F, Chou R, Ekelund U, Firth J, et al. 2020 WHO guidelines on physical activity and sedentary behaviour for children and adolescents aged 5–17 years: summary of the evidence. Int J Behav Nutr Phys Act. 2020;17:141. doi:10.1186/s12966-020-01037-z.

30 Nov 2023

29 Jan 2024

29 Agu 2025

30 Nov 2025