8 Juli 2026
Gula pada MPASI, Boleh atau Tidak? Ini Kata WHO!
Ditulis oleh

Dhia Priyanka
Topik: Takaran asupan gula, Panduan MPASI, MPASI Anak, Madu
Artikel ini telah divalidasi oleh dr. Lucyana Alim Santoso, Sp.A.
Saat mulai memberikan MPASI, banyak orang tua bertanya-tanya apakah gula pada MPASI boleh ditambahkan agar bayi lebih lahap makan. Menurut rekomendasi WHO dan American Academy of Pediatrics (AAP), anak di bawah usia 2 tahun sebaiknya tidak diberikan gula tambahan sama sekali. Nah, di artikel ini akan menjelaskan alasannya, jenis gula yang perlu dihindari, serta cara membuat MPASI tetap lezat tanpa gula.
Bolehkah Menambahkan Gula pada MPASI?
Pada dasarnya, gula pada MPASI tidak dianjurkan, terutama dalam bentuk gula tambahan (added sugar), seperti gula pasir, gula merah, gula aren, sirup, madu (khususnya pada bayi di bawah 1 tahun), dan pemanis lainnya. Selama usia bayi masih di bawah 2 tahun, kebutuhan energi dan rasa manis sebaiknya diperoleh dari makanan alami, bukan dari gula tambahan.
Gula Alami vs. Gula Tambahan: Apa Bedanya?
Memahami perbedaan ini penting sebelum membahas aturan gula pada MPASI lebih lanjut.
Kenapa Gula pada MPASI Tidak Dianjurkan?
Ada beberapa alasan mengapa berbagai organisasi kesehatan tidak menganjurkan pemberian gula tambahan pada bayi.
1. Bayi Sedang Belajar Mengenal Rasa Asli Makanan
Usia MPASI merupakan masa penting bagi bayi untuk mengenal berbagai rasa alami, manis dari labu atau pisang, gurih dari daging, sedikit pahit dari sayuran hijau, hingga asam dari buah tertentu. Jika sejak awal bayi terbiasa dengan makanan yang terlalu manis, ia mungkin menjadi lebih sulit menerima rasa alami dari makanan lain.
2. Meningkatkan Risiko Kebiasaan Konsumsi Gula Berlebih
Penelitian menunjukkan bahwa paparan rasa manis sejak dini dapat memengaruhi preferensi makanan anak di masa depan. Anak yang terbiasa mengonsumsi makanan tinggi gula cenderung lebih menyukai makanan dan minuman manis ketika tumbuh besar.
3. Meningkatkan Risiko Karies Gigi
Meskipun gigi bayi baru tumbuh sedikit, konsumsi gula tambahan yang terlalu sering dapat meningkatkan risiko gigi berlubang sejak dini.
4. Menambah Kalori Tanpa Menambah Nilai Gizi
Gula tambahan hanya memberikan energi, tetapi tidak mengandung vitamin, mineral, protein, maupun serat yang dibutuhkan bayi untuk tumbuh kembangnya. Karena kapasitas lambung bayi masih kecil, setiap suapan MPASI sebaiknya diisi dengan makanan yang padat gizi.
Kapan Bayi Boleh Mengonsumsi Gula?
WHO dan American Academy of Pediatrics (AAP) merekomendasikan agar anak di bawah usia 2 tahun tidak diberikan gula tambahan. Artinya, selama periode MPASI (6–24 bulan), orang tua sebaiknya tidak perlu menambahkan gula pada makanan bayi. Setelah usia 2 tahun, konsumsi gula tambahan tetap perlu dibatasi sebagai bagian dari pola makan sehat, menurut Kemenkes RI dalam Pedoman Pemberian Makan Bayi dan Anak (PMBA).
Bagaimana Jika Bayi Tidak Mau Makan MPASI Tanpa Gula?
Ini merupakan kekhawatiran yang sering dialami orang tua. Sebenarnya, bayi tidak membutuhkan gula tambahan agar mau makan. Jika bayi tampak menolak MPASI, cobalah:
- Berikan makanan yang sama beberapa kali di kesempatan berbeda, bayi sering membutuhkan paparan berulang terhadap makanan baru. Variasikan tekstur sesuai usia.
- Kombinasikan dengan bahan yang memiliki rasa manis alami.
- Hindari memaksa bayi makan.
Perlu diingat bahwa penolakan terhadap makanan baru merupakan hal yang normal pada awal masa MPASI.
Cara Membuat MPASI Tetap Enak Tanpa Gula
MPASI tetap dapat terasa lezat tanpa tambahan gula. Gunakan rasa alami dari bahan makanan seperti buah (pisang, pir, apel, mangga, pepaya), umbi umbian (ubi jalar, labu kuning), dan sayuran (wortel, jagung manis). Rasa manis alami dari bahan-bahan tersebut sudah cukup untuk dikenalkan kepada bayi.
Tips Membiasakan Bayi Menyukai Makanan Sehat
Berikut tips agar si Kecil terbiasa menyukai makanan sehat:
- Kenalkan berbagai jenis makanan sejak dini.
- Sajikan MPASI tanpa tambahan gula dan garam.
- Berikan contoh pola makan sehat dari anggota keluarga.
- Hindari memberikan makanan atau minuman manis sebagai hadiah.
Kebiasaan makan yang terbentuk pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan dapat memengaruhi pola makan anak hingga dewasa.
FAQ seputar Gula pada MPASI
Q: Apakah madu boleh diberikan sebagai pemanis MPASI?
A: Tidak. Madu tidak boleh diberikan pada bayi di bawah usia 1 tahun karena berisiko mengandung spora Clostridium botulinum, penyebab botulisme infantil, penyakit serius yang menyerang sistem saraf bayi.
Q: Apakah gula merah atau gula aren lebih aman untuk MPASI?
A: Tidak. Meskipun berasal dari bahan alami, gula merah, gula aren, dan gula kelapa tetap termasuk kategori gula tambahan sehingga tidak dianjurkan sebagai pemanis rutin MPASI.
Q: Sampai usia berapa bayi tidak boleh diberi gula tambahan?
A: WHO dan AAP merekomendasikan tanpa gula tambahan hingga usia 2 tahun. Setelah itu, konsumsi gula tetap perlu dibatasi sebagai bagian dari pola makan sehat.
Q: Apakah garam juga perlu dihindari pada MPASI?
A: Ya, sama seperti gula, garam tambahan dalam jumlah yang banyak sebaiknya dihindari pada MPASI karena ginjal bayi belum siap memproses natrium dalam jumlah tinggi.
Q: Bagaimana jika bayi menolak makan MPASI tanpa gula?
A: Penolakan di awal MPASI adalah hal normal. Berikan makanan yang sama secara berulang, variasikan tekstur, dan manfaatkan rasa manis alami dari buah atau umbi tanpa perlu menambahkan gula.
Pemberian gula pada MPASI sebenarnya tidak diperlukan. Selama usia di bawah 2 tahun, bayi dianjurkan mendapatkan rasa manis dari sumber alami seperti buah dan sayuran, bukan dari gula tambahan. Dengan menghindari gula pada MPASI, orang tua membantu bayi mengenal cita rasa asli makanan, membentuk kebiasaan makan yang lebih sehat, serta mengurangi risiko gigi berlubang dan konsumsi gula berlebih di masa depan.
Referensi:
1. World Health Organization. Guideline: Sugars Intake for Adults and Children. WHO; 2015.
2. World Health Organization. Complementary Feeding of Infants and Young Children. WHO; 2023.
3. American Academy of Pediatrics. Added Sugars in Children's Diets: How Much Is Too Much? HealthyChildren.org; Updated 2024.
4. Centers for Disease Control and Prevention. Foods and Drinks to Encourage: Infant and Toddler Nutrition. CDC; 2024.
5. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Pemberian Makan Bayi dan Anak (PMBA). Kemenkes RI; 2020.
6. Vos MB, Kaar JL, Welsh JA, et al. Added Sugars and Cardiovascular Disease Risk in Children: A Scientific Statement From the American Heart Association. Circulation. 2017;135(19):e1017–e1034.
7. Fewtrell M, Bronsky J, Campoy C, et al. Complementary Feeding: A Position Paper by ESPGHAN. Journal of Pediatric Gastroenterology and Nutrition. 2017;64(1):119–132.





