Meta Pixel

14 Oktober 2026

Risiko Memberikan Makanan Mentah pada Bayi

Ditulis oleh

avatar

Dhia Priyanka

Topik: Risiko makanan mentah, Telur mentah untuk bayi, Makanan mentah bayi, MPASI aman, Keracunan makanan pada bayi, Makanan yang dilarang untuk bayi

Artikel ini telah divalidasi oleh dr. Lucyana Alim Santoso, Sp.A.

Pada 12 Oktober 2026, bayi berusia 28 hari di Surabaya meninggal setelah diduga diberi telur mentah. Bayi tersebut dilaporkan sempat dirawat intensif dan mengalami infeksi serius pada saluran pencernaan. Risiko makanan mentah pada bayi bukan hanya sakit perut. Makanan mentah atau kurang matang dapat membawa Salmonella, E. coli, dan kuman lain yang memicu diare, muntah, dehidrasi, bahkan infeksi berat. CDC menyebut anak di bawah 5 tahun tiga kali lebih mungkin dirawat di rumah sakit bila terkena infeksi Salmonella. 


Apa yang Boleh Dikonsumsi Bayi Usia 0–6 Bulan?

WHO dan UNICEF merekomendasikan ASI eksklusif selama 6 bulan pertama, tanpa makanan atau minuman lain, bahkan air putih. Kemenkes RI juga mendefinisikan ASI eksklusif sebagai pemberian ASI tanpa tambahan makanan atau minuman, kecuali obat, vitamin, atau mineral bila diperlukan.

Bila ASI tidak tersedia atau ada indikasi medis tertentu, formula bayi dapat digunakan sesuai arahan tenaga kesehatan serta disiapkan mengikuti petunjuk keamanan. Susu formula bukan berarti bayi siap menerima makanan keluarga. Telur, pisang, bubur, madu, air tajin, jamu, kopi, dan bahan lain tidak boleh diberikan kepada bayi baru lahir.

Sekitar usia 6 bulan, bayi mulai membutuhkan MPASI yang bergizi, aman, serta bertekstur sesuai kemampuan. Kesiapan makan juga mencakup kontrol kepala dan leher, kemampuan duduk dengan dukungan, membawa benda ke mulut, serta menelan makanan tanpa terus mendorongnya keluar. Jadwal dan kesiapan sebaiknya dibahas saat kontrol anak.


Mengapa Makanan Mentah Berbahaya bagi Bayi?

  • Sistem kekebalan belum matang

Sistem imun bayi dan anak kecil masih berkembang sehingga lebih sulit melawan kuman dari makanan dibandingkan orang dewasa. CDC memasukkan telur mentah, daging kurang matang, seafood mentah, produk tidak dipasteurisasi, dan bahan pangan lain sebagai pilihan berisiko bagi anak di bawah 5 tahun.

  • Infeksi dapat cepat menyebabkan dehidrasi

Muntah dan diare menyebabkan kehilangan cairan serta elektrolit. Pada bayi, cadangan cairan lebih sedikit sehingga dehidrasi dapat terjadi lebih cepat. Infeksi tertentu juga dapat menyebar ke darah atau organ lain.

  • Kemampuan menelan belum siap

Bayi baru lahir memiliki pola mengisap dan menelan untuk susu, bukan keterampilan mengelola makanan padat atau cairan kental. Memberikan makanan secara paksa meningkatkan risiko tersedak atau bahan masuk ke saluran napas.

  • Asupan yang tepat dapat tergeser

Makanan atau minuman tambahan membuat lambung bayi yang kecil cepat penuh. Akibatnya, frekuensi menyusu dan asupan gizi yang sesuai usia dapat berkurang.

  • Kontaminasi silang sulit terlihat

Makanan dapat tampak segar tetapi tetap mengandung patogen. Tangan, talenan, pisau, wadah, permukaan dapur, dan bahan mentah dapat memindahkan kuman ke makanan yang sudah matang.


Makanan Mentah yang Berisiko bagi Bayi

Bahan

Risiko utama

Hindari

Pilihan lebih aman

Telur

Salmonella

Mentah/setengah matang

Putih dan kuning matang

Daging/ayam

Bakteri/parasit

Mentah/kurang matang

Masak suhu aman

Seafood

Bakteri/parasit

Sushi, sashimi, kerang mentah

Masak matang

Susu/keju

Listeria, E. coli

Tidak dipasteurisasi

Produk pasteurisasi sesuai usia

Jus

Kuman dan gula bebas

Tidak dipasteurisasi

Buah utuh yang dicuci

Adonan/tepung

Salmonella/E. coli

Adonan mentah

Masak sesuai petunjuk

Kecambah

Bakteri tumbuh cepat

Kecambah mentah

Masak matang

Buah/sayur

Kontaminasi/tersedak

Belum dicuci atau potongan keras

Cuci dan sesuaikan tekstur


Bahaya Telur Mentah untuk Bayi

Telur adalah bahan pangan bergizi, tetapi telur mentah atau setengah matang dapat terkontaminasi Salmonella. Kuman dapat berada pada cangkang maupun bagian dalam telur. Bau, warna, dan bentuk telur tidak dapat memastikan bahwa telur bebas patogen.

Infeksi Salmonella umumnya menimbulkan diare, demam, kram perut, mual, muntah, dan berkurangnya nafsu makan. Pada bayi, gejala ini berisiko menimbulkan dehidrasi dengan cepat. Pada sebagian kecil kasus, infeksi dapat menyebar ke darah, otak, tulang, sendi, atau organ lain.

Saat bayi sudah mulai MPASI sekitar usia 6 bulan dan dinilai siap, telur dapat diberikan dalam tekstur yang sesuai usia. Masak sampai putih dan kuning telur mengeras. Jangan memberikan telur mentah, telur setengah matang dengan bagian yang masih cair, adonan mentah, mayones rumahan berbahan telur mentah, atau minuman campuran telur mentah.


Apakah Memasak Telur Menghilangkan Gizinya?

Memasak telur tetap menyediakan protein, lemak, vitamin, dan mineral. Proses pemanasan yang memadai menurunkan risiko kuman tanpa membuat telur kehilangan fungsinya sebagai sumber protein hewani dalam MPASI.

Tujuan utama bukan membuat makanan “steril”, melainkan mengurangi risiko pada tingkat yang aman melalui bahan yang baik, kebersihan, pemisahan bahan mentah dan matang, pemasakan menyeluruh, serta penyimpanan yang benar.


Makanan Berisiko Lain yang Harus Dihindari

  • Daging, ayam, dan seafood mentah atau kurang matang

Sushi atau sashimi, kerang mentah, ayam kurang matang, daging cincang yang masih mentah, dan olahan laut mentah dapat membawa bakteri atau parasit. Masak sesuai suhu aman dan berikan dalam bentuk lunak serta ukuran yang sesuai kemampuan anak.

  • Susu, keju, atau jus yang tidak dipasteurisasi

Produk tidak dipasteurisasi berisiko membawa Listeria, Salmonella, E. coli, dan kuman lain. Pilih produk berlabel pasteurisasi dan sesuai usia. Susu sapi cair bukan pengganti utama ASI atau formula sebelum usia 12 bulan.

  • Adonan dan tepung mentah

Adonan kue mentah tidak hanya berisiko karena telur; tepung juga merupakan bahan mentah yang dapat terkontaminasi. Jangan membiarkan bayi atau balita mencicipi adonan sebelum dimasak.

  • Kecambah mentah

Kondisi hangat dan lembap untuk menumbuhkan kecambah juga mendukung pertumbuhan bakteri. Untuk anak kecil, kecambah sebaiknya dimasak hingga matang.

  • Buah dan sayur yang belum dicuci

Buah dan sayur tetap penting, tetapi harus dicuci di bawah air mengalir dan disiapkan dengan tangan serta alat yang bersih. Bentuknya juga perlu disesuaikan agar tidak menjadi bahaya tersedak.

  • Madu sebelum usia 12 bulan

Madu bukan persoalan “mentah atau matang” semata. Bayi di bawah 12 bulan tidak boleh diberi madu karena risiko botulisme bayi; memasak atau memanggang madu tidak dapat dijadikan cara pengamanan yang dapat diandalkan.


Panduan Nutrisi dan Tumbuh Kembang Anak di PrimaKu

Pemberian makanan yang tepat sesuai usia merupakan salah satu hal penting untuk menjaga kesehatan dan mendukung tumbuh kembang anak. Karena itu, orang tua perlu memahami kebutuhan nutrisi si Kecil sejak lahir, termasuk kapan waktu yang tepat untuk mulai memberikan MPASI.

Melalui aplikasi PrimaKu, MomDad dapat mengakses berbagai informasi dan panduan nutrisi anak yang disusun bersama para ahli. Selain itu, tersedia fitur Growth Chart untuk membantu memantau pertumbuhan berat badan, tinggi badan, dan lingkar kepala si Kecil secara berkala.

Yuk, download aplikasi PrimaKu untuk mendapatkan panduan nutrisi sekaligus memantau tumbuh kembang si Kecil dalam satu aplikasi!


Apa yang Harus Dilakukan Jika Bayi Telanjur Diberi Makanan Mentah?

Jangan mencoba membuat bayi muntah. Hentikan pemberian makanan tersebut dan catat jenis, jumlah perkiraan, waktu pemberian, serta gejala yang muncul. Hubungi dokter anak atau fasilitas kesehatan untuk arahan, terutama bila bayi masih sangat muda.

Segera ke instalasi gawat darurat atau hubungi layanan darurat bila bayi:

• sulit bernapas, tersedak, membiru, atau tidak responsif;

• berusia di bawah 3 bulan dan memiliki suhu 38°C atau lebih;

• muntah berulang atau tidak mampu menyusu;

• tampak sangat mengantuk, lemas, atau sulit dibangunkan;

• mengalami diare berdarah, muntah darah, atau muntah hijau;

• menunjukkan tanda dehidrasi seperti pipis sangat sedikit, mulut kering, mata cekung, atau ubun-ubun tampak cekung; atau

• mengalami kejang atau perilaku yang sangat berbeda dari biasanya.

Pada bayi baru lahir, jangan menunggu gejala menjadi berat. Kondisi dapat memburuk cepat dan perlu dinilai langsung.


Cara Menjelaskan kepada Kakek, Nenek, dan Pengasuh

Perbedaan kebiasaan antargenerasi sering muncul dalam pemberian makan. Gunakan pesan singkat dan konsisten:

• “Sampai sekitar 6 bulan, bayi belum boleh diberi makanan atau minuman selain ASI; bila perlu formula diberikan sesuai arahan.”

• “Telur boleh nanti saat MPASI, tetapi harus matang.”

• “Jangan memberi makanan apa pun tanpa persetujuan orang tua.”

• “Kalau bayi tampak lapar, rewel, atau ASI dirasa kurang, hubungi orang tua atau tenaga kesehatan, jangan mencoba ramuan atau makanan.”

Tempelkan aturan pemberian makan di rumah dan bagikan catatan dokter atau sumber resmi. Hindari menyalahkan; fokus pada keselamatan serta satu aturan yang diikuti semua pengasuh.


FAQ tentang Makanan Mentah untuk Bayi

Q: Bolehkah bayi 28 hari diberi telur?

A: Tidak. Bayi usia 28 hari belum boleh menerima MPASI, termasuk telur, baik mentah maupun matang. Asupan utamanya adalah ASI; formula bayi digunakan bila diperlukan sesuai indikasi dan arahan tenaga kesehatan.

Q: Kapan bayi boleh makan telur?

A: Telur dapat diperkenalkan ketika bayi mulai MPASI sekitar usia 6 bulan dan menunjukkan kesiapan makan. Sajikan dalam bentuk matang dan tekstur sesuai kemampuan bayi.

Q: Apakah telur kampung mentah lebih aman?

A: Tidak. Jenis, label “kampung”, atau tampilan telur tidak menjamin bebas Salmonella. Telur untuk bayi harus dimasak matang.

Q: Apakah kuning telur setengah matang boleh untuk MPASI?

A: Tidak dianjurkan. CDC menyarankan telur bagi anak kecil dimasak sampai putih dan kuningnya mengeras atau hingga matang.

Q: Apakah ASI saja cukup sampai usia 6 bulan?

A: WHO dan Kemenkes merekomendasikan ASI eksklusif selama 6 bulan pertama. Bila terdapat masalah menyusui atau kebutuhan medis, cari bantuan tenaga kesehatan; jangan mengganti atau menambah makanan secara mandiri.

Q: Apakah makanan mentah selalu menyebabkan infeksi?

A: Tidak setiap paparan pasti menimbulkan penyakit, tetapi patogen tidak dapat dikenali hanya dari bau atau tampilan. Karena akibatnya dapat lebih berat pada bayi, pencegahan tetap penting.

Q: Apakah bayi yang sudah makan makanan mentah perlu langsung diberi antibiotik?

A: Tidak. Antibiotik tidak boleh diberikan tanpa pemeriksaan dan resep dokter. Penanganan bergantung pada usia, jenis paparan, gejala, tingkat dehidrasi, dan hasil evaluasi medis.

Risiko makanan mentah pada bayi dapat dicegah dengan aturan yang sederhana tetapi tegas. Pada enam bulan pertama, jangan berikan makanan atau minuman selain ASI, kecuali formula atau obat, vitamin, dan mineral sesuai kebutuhan serta arahan tenaga kesehatan. Setelah MPASI dimulai, pilih bahan aman, masak hingga matang, jaga kebersihan, dan sesuaikan tekstur. Jika bayi baru lahir telanjur diberi makanan atau menunjukkan gejala, cari bantuan medis tanpa menunda.


Referensi:

1. World Health Organization. Infant and young child feeding. WHO; 2026. 

2. World Health Organization. WHO Guideline for complementary feeding of infants and young children 6–23 months of age. WHO; 2023.

3. Centers for Disease Control and Prevention. Safer Food Choices for Children Under 5 Years Old. CDC; 2024.

4. Centers for Disease Control and Prevention. Symptoms of Salmonella Infection. CDC; 2024.

5. U.S. Food and Drug Administration. Once Baby Arrives: Food Safety for Moms-to-Be. FDA; diperbarui 2024.

6. Ikatan Dokter Anak Indonesia. Makanan Pendamping ASI (MPASI). IDAI; 2015.

7. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Ingin Bayi Tumbuh Sehat dan Cerdas? ASI Eksklusif 6 Bulan Kuncinya. Kemenkes RI; 2024.

8. American Academy of Pediatrics. Fever and Your Baby. HealthyChildren.org; diperbarui 2024. 

9. Baihaqi A. Bayi Meninggal Usai Diduga Dicekoki Nenek Telur Mentah Alami Infeksi Pencernaan. detikNews; 2026.